Momen Jenderal Andika Marahi Anak Buah, Terbaru Gegara Kasrem Merauke Main HP

Audrey Santoso - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 20:26 WIB
Mahfud Md bertemu dengan Jenderal Andika Perkasa
Foto: Dok. Kemenko Polhukam
Jakarta -

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menunjukkan ketegasannya dalam beberapa kesempatan. Terakhir, dia memarahi Kepala Staf Korem (Kasrem) 174/ ATW Merauke Kolonel Arh Hamim Tohari lantaran dinilai main ponsel saat rapat daring.

Tak hanya Hamim, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono dan Danrem 174/ ATW Merauke Brigjen TNI Bangun Nawoko juga ditegur.

"Lihat kan itu. Mas Yogo lihat. Mas Bangun, lihat Mas Bangun. Itulah dia anak buahnya Mas Bangun itu. Kualitasnya ya begitu," kata Andika, dilihat detikcom dari potongan video yang beredar, Jumat (3/12/2021).

Sebelumnya, Andika juga pernah mengungkap adanya iuran-iuran liar di lembaga pendidikan TNI. Dia meminta hal tersebut disetop atau pejabat terkait akan ditindak.

Andika juga pernah menegur prajurit yang terlihat kelebihan berat badan. Namun teguran disampaikan Andika secara santai.

Berikut ini rangkuman sikap tegas Jenderal Andika Perkasa pada jajaran:

1. Soroti Iuran di Lembaga Pendidikan AD

Jenderal TNI Andika Perkasa, saat masih menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), mengungkapkan adanya iuran di lembaga pendidikan. Padahal, katanya, segala keperluan prajurit telah dianggarkan oleh institusi.

"Saya tidak ingin lagi ada iuran, apa pun alasannya. Kita dulu waktu pendidikan pertama, tidak ada iuran-iuran. Dinas, Aspers dalam hal ini, sudah merencanakan (penganggaran). Ada uang makan, ada uang saku, atau apa pun namanya sebelum dilantik sudah ada," kata Andika dalam rapat pimpinan (Rapim) TNI AD 2021, Sabtu (29/5/2021).

Andika menuturkan anggaran untuk keperluan prajurit cukup. Jikapun tidak, dia menuturkan kekurangan logistik selama pendidikan adalah bentuk latihan masing-masing pribadi untuk hidup sesederhana mungkin.

"Itu semua sudah cukup, bahwasanya sepatunya kurang ya enggak apa-apa. Bisa kita dulu. Dan itu menjadi bagian dari cara kita berlatih. Kita nyuci malam-malam setelah kegiatan, jangan maunya cadangannya banyak," tutur Andika.

Di hadapan para Panglima Kodam (Pangdam), Andika menegaskan jika praktik penarikan iuran terus dilakukan maka dia akan menganggap komandan-komandan di jajaran mengetahui.

"Jadi kalau masih ada iuran apa pun bentuknya di Rindam, saya akan anggap Danrindam tahu. Ada iuran di pusdik-pusdik, saya akan menganggap Danpusdik tahu. Di Secapa saya juga dapat laporan iuran, berarti Danmen (Komandan Resimen) tahu," ucapnya.

"Kita harus perbaiki, enggak perlu dikoordinir (pakai iuran). Kalau mereka mau jajan, buka kantin, beli saja masing-masing," sambung dia.

Mengakhiri ucapannya, Andika mewanti-wanti para pejabat kodam. Dia memberi waktu dua pekan kepada masing-masing pejabat kodam untuk menghilangkan praktik penarikan iuran di masa pendidikan prajurit.

"Kalau saya masih dengar, ada laporan, saya anggap komandannya tahu. Berarti akan ada konsekuensi. Sampai saya terima laporan, awas! Saya kasih waktu dua minggu. Masing-masing komandan tadi beresin, telusuri ke bawah," tutur dia.

"Dua minggu dari sekarang masih ada laporan, ya sudah, siap-siap saja. Enggak usah ragu, saya buktikan," pungkas Andika.


2. Soroti Peran Komandan soal Prajurit Membelot

Jenderal Andika Perkasa, masih saat menjadi KSAD, memberikan arahan kepada jajarannya terkait masalah prajurit yang membelot. Andika menegaskan prajurit yang melakukan pelanggaran harus bertanggung jawab, namun kepemimpinan dan pembinaan komandan juga penting.

"Mereka yang melakukan tindak pidana yang harus mempertanggungjawabkan. Pada saat yang bersamaan kita juga selalu briefing ke para komandan satuan dan ini termasuk penilaian. Ini yang kami lakukan," ujar Andika di Mapomdam Jaya, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (20/4).

Saat itu ramai pemberitaan mengenai prajurit TNI dari Yonif 410, Pratu Lukius Y Matuan, dikabarkan kabur dan bergabung dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

"Kita tidak hanya lihat individu yang pidana, tetapi gimana leadership atau kepemimpinan di atasnya," lanjut Andika.

Menurut Andika, seorang prajurit dilihat dari bagaimana sosok komandan di atasnya. Dia mengatakan insiden kaburnya Pratu Lukius juga memiliki konsekuensi terhadap rantai komando yang ada di atas prajurit tersebut.

"Kalau dia seorang prajurit satu gimana komandan peletonnya, gimana kompinya, apa yang udah dilakukan. Ini semua memiliki konsekuensi bukan hanya ke yang bersangkutan, tapi terhadap rantai komando di atasnya," ucap dia.

Kata Andika, komandan seharusnya bisa memastikan kondisi prajurit yang ada di bawahnya. Dia menyebut seorang komandan bertanggung jawab dan teliti terhadap prajuritnya.

"Kita akan serius sehingga mereka bisa lebih teliti lagi. Gimana memastikan anggota kondisinya baik-baik saja, sedang down, dan lain-lain," tutur dia.

"Jadi, sebetulnya kasus ini bukan hanya terjadi kali ini, walau tidak sama persis tapi prajurit yang lari atau meninggalkan dinas dan tidak kembali lagi itu cukup sering. Jadi saya juga tidak ingin misal mengambil kesimpulan kasar bahwa ini ada hubungan dengan putra daerah sama sekali tidak. Saya terbuka, nggak bohong. Setiap tahun begitu banyak," jelas Andika.

Selengkapnya di halaman berikutnya

Simak juga Video: Cegah Bentrok TNI-Polri, Panglima Ingin di-WA Jika Ada Info Gesekan

[Gambas:Video 20detik]