Cuaca Ekstrem, 6 Kelompok Nelayan Hilang Kontak di Natuna

Jabbar Ramdhani - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 18:22 WIB
Kondisi rumah warga yang tergenang banjir dampak dari cuaca ekstrem dan naiknya permukaan air laut yang terjadi di Kabupaten Natuna, Jumat (3/12). Sumber (dok BPBD Kabupaten Natuna)
Kondisi rumah warga yang tergenang banjir dampak dari cuaca ekstrem dan naiknya permukaan air laut yang terjadi di Kabupaten Natuna, Jumat (3/12) (dok BPBD Kabupaten Natuna)
Natuna -

Enam kelompok nelayan dilaporkan hilang kontak saat melaut di wilayah perairan Natuna, Kepulauan Riau. Petugas gabungan tengah mencari para nelayan yang hilang.

"Sebelum dinyatakan hilang, cuaca ekstrem melanda wilayah Natuna dan memicu terjadinya gelombang air laut setinggi 6-7 meter," kata Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Jumat (3/12/2021).

Enam kelompok nelayan itu hilang kontak di perairan Natuna saat cuaca ekstrem terjadi pada Kamis (2/12).

Tim gabungan yang terlibat ialah BPBD Kabupaten Natuna, Damkar PB Kabupaten Natuna, TNI-Polri, Basarnas, unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika), unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), dan masyarakat setempat.

Banjir Rob Terjadi di Natuna

Cuaca ekstrem juga memicu terjadinya banjir rob. Rob terjadi setelah air laut naik ke permukaan dan merendam sebanyak 92 rumah warga di Kabupaten Natuna.

Dari keseluruhan rumah yang terdampak, BPBD Kabupaten Natuna juga melaporkan 2 unit rumah mengalami rusak berat, 9 unit tempat usaha (ruko) terendam, dan 6 akses jalan terputus.

Kondisi rumah warga yang tergenang banjir dampak dari cuaca ekstrem dan naiknya permukaan air laut yang terjadi di Kabupaten Natuna, Jumat (3/12). Sumber (dok BPBD Kabupaten Natuna)BPBD Kabupaten Natuna melaporkan 2 unit rumah mengalami rusak berat, 9 unit ruko terendam, dan 6 akses jalan terputus. (dok BPBD Kabupaten Natuna)

"Buruknya drainase dan penyempitan Sungai Batu Hitam, Sungai Ranai, Sungai Jemengan, dan Sungai Padangkara diduga menjadi faktor lain yang menyebabkan banjir rob dengan tinggi muka air hingga 90 sentimeter di sejumlah wilayah Kabupaten Natuna," ujarnya.

Catatan BPBD Kabupaten Natuna, wilayah terdampak meliputi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bunguran Timur, Kecamatan Teratan, dan Kecamatan Pulau Laut.

BPBD Kabupaten Natuna telah mendirikan tempat pengungsian untuk mengantisipasi kemungkinan banjir kembali terjadi. Kondisi terkini per Jumat (3/12) pukul 10.00 WIB, ketinggian muka air terpantau berkisar 90 sentimeter, akan surut di pagi hari namun kembali terjadi pasang pada sore hingga malam hari.

Potensi Hujan Lebat

BMKG telah mengeluarkan informasi peringatan dini hingga Sabtu (4/12), wilayah Kepulauan Riau diminta mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah Natuna dan Kepulauan Anambas.

Sementara itu, hasil kajian risiko bencana melalui InaRISK untuk wilayah Kabupaten Natuna memiliki potensi cuaca ekstrem dapat terjadi di 12 kecamatan dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi termasuk Kecamatan Bunguran Timur, Kecamatan Teratan, dan Kecamatan Pulau Laut.

"BNPB mengimbau kepada masyarakat khususnya yang tinggal di daerah pesisir pantai untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan pada potensi risiko bencana hidrometeorologi basah. Salah satunya dengan memperbaiki sistem drainase dan pemanfaatan ruang terbuka dengan vegetasi pantai untuk daerah buffer dan menegakkan aturan tentang sempadan pantai," ungkapnya.

Selain itu, BNPB mengingatkan para nelayan untuk tidak lebih dulu melakukan aktivitas menangkap ikan saat terjadi cuaca ekstrem yang membahayakan terjadi.

(jbr/idh)