RI & Swiss Teken Perjanjian Kerja Sama Pertukaran Profesional Muda

Erika Dyah - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 20:52 WIB
Kemlu
Foto: Dok. Kemlu
Jakarta -

Indonesia dan Swiss baru saja memperkuat kerja sama bilateral di bidang ketenagakerjaan. Hal ini ditandai lewat penandatanganan The Agreement on the Exchange of Young Professional (Persetujuan antara Dewan Federal Swiss dan Pemerintah Republik Indonesia pada Pertukaran Profesional Muda) antara kedua negara.

Diketahui, penandatanganan kerja sama yang berlangsung Selasa (30/11) di Bundeshaus West, Bern, Swiss ini dilakukan oleh Dirjen Pembinaan Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja (Dirjen Binapenta dan PKK) Kemnaker RI, Suhartono dan Dubes Vincenzo Mascioli, Director International Affairs dari Federal Department of Justice and Police (FDJP) State Secretariat for Migration SEM.

Kegiatan ini juga disaksikan oleh Dubes RI untuk Swiss, Muliaman Hadad, bersama dengan perwakilan dari Kementerian Perdagangan RI dan Direktur Ketenagakerjaan Bappenas. Serta dari pihak Swiss, turut hadir Head of Division Labor Market SEM, FDJP dan Head of Division dari State Secretariat for Economic Affairs SECO.

Dirjen Binapenta dan PKK Kemnaker, Suhartono mengungkap perjanjian ini merupakan tindak lanjut dari perundingan kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan European Free Trade Association (Indonesia-EFTA CEPA). Ia menyebutkan perundingan kemitraan ini sebelumnya telah ditandatangani pada tahun 2018 dan kemudian difinalisasikan pada tahun 2019.

Suhartono menjelaskan dengan ditandatanganinya perjanjian kerja sama pertukaran profesional muda ini, kedua negara sepakat untuk saling membuka pasar tenaga kerja bagi profesional muda usia 18-35 tahun untuk bekerja di semua sektor di kedua negara.

Kendati demikian, pembukaan kesempatan kerja ini menurutnya juga harus tetap memperhatikan aturan, khususnya aturan terkait tenaga kerja asing yang berlaku di kedua negara.

Lebih lanjut, Suhartono menerangkan penempatan dilakukan dengan basis kuota maksimal 50 orang profesional muda dalam setiap tahun dengan berbasis kontrak kerja antara pemberi kerja dan pekerja. Ia menambahkan skema ini telah dimiliki oleh Pemerintah Swiss dengan 14 negara mitra kerja samanya, salah satunya dengan Indonesia.

"Kami berharap ini menjadi milestone awal terbukanya skema kerja sama penempatan tenaga kerja Indonesia di negara-negara mitra kawasan Eropa" ujar Suhartono dalam keterangan tertulis, Rabu (1/12/2021).

Suhartono menilai kesepakatan pemerintah Indonesia dengan pemerintah Swiss ini sangat strategis bagi Indonesia, terutama dalam rangka memperluas kesempatan kerja di luar negeri. Terlebih lagi untuk sektor-sektor pekerjaan yang perlindungannya cukup baik, baik itu dilihat dari segi upah, kondisi pekerjaan ataupun kondisi hubungan industrial antara pemberi kerja dan tenaga kerja.

Menurutnya, dengan adanya kesempatan kerja bagi profesional muda Indonesia yang terbuka lebar di Swiss, pihaknya dapat menurunkan angka pengangguran di Indonesia, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, ia pun menilai kesepakatan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk lebih percaya diri dalam menggali peluang-peluang kerja formal yang lebih luas lagi di negara lain.

Suhartono mengungkap kedua negara juga akan kembali duduk bersama untuk membicarakan technical arrangement dari perjanjian ini. Harapannya, hal ini dapat memaksimalkan pemanfaatan kerja sama yang telah dijalin oleh kedua negara.

"Seperti diketahui, Indonesia-EFTA CEPA mulai berlaku sejak 1 November 2021 dan diharapkan implementasi program Young Professional ini dapat disegerakan sehingga dapat mendukung Indonesia-EFTA CEPA lebih maksimal bagi kedua belah pihak", ujar Dubes RI untuk Swiss, Muliaman Hadad.

(akn/ega)