Pergerakan Tanah di Kotabaru Kalsel, 4 Warga Tewas dan 32 Rumah Rusak

Jabbar Ramdhani - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 10:24 WIB
Pergerakan tanah terjadi di Desa Rawabelut, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.
Ilustrasi Pergerakan Tanah (Ismet Selamet/detikcom)
Kotabaru -

Fenomena pergerakan tanah seusai hujan lebat terjadi di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Sebanyak 4 warga tewas dalam insiden tersebut.

"Ditemukan dalam kondisi meninggal dunia akibat terdampak pergerakan tanah yang terjadi," kata Plt Kapusdatinkom Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Rabu (1/12/2021).

Fenomena pergerakan tanah itu terjadi pada Senin (29/11). BPBD Kalsel melaporkan fenomena pergerakan tanah itu terjadi setelah terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah tersebut.

Berdasarkan data BPBD Kalsel per Selasa (30/11), pukul 19.15 WIB, sebanyak 125 warga terpaksa mengungsi di Kantor Desa Maradapan. Sebanyak 32 rumah juga mengalami kerusakan akibat terdampak pergerakan tanah.

Sebagai upaya percepatan penanganan pergerakan tanah, BPBD Kalsel bersama unsur TNI, Polri, Basarnas, Tagana, lintas instansi terkait, media, dan relawan telah berangkat menuju lokasi kejadian menggunakan kapal milik TNI AL dari Lanal Kotabaru.

"Pada operasi itu, tim gabungan juga membawa bantuan logistik dan peralatan yang dibutuhkan untuk kaji cepat, pendataan, evakuasi, dan penanganan lebih lanjut," ucapnya.

Kapal milik TNI AL yang membawa tim gabungan dari BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, TNI, Polri, Basarnas, Tagana, lintas instansi terkait, media dan relawan berangkat menuju Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru untuk penanganan darurat kejadian bencana pergerakan tanah, Selasa (30/11). (dok BNPB)Kapal milik TNI AL yang membawa tim gabungan dari BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, TNI, Polri, Basarnas, Tagana, lintas instansi terkait, media, dan relawan berangkat menuju Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru untuk penanganan darurat kejadian bencana pergerakan tanah, Selasa (30/11). (Dok. BNPB)

Kendala Sinyal dan Transportasi

Dia mengatakan upaya penanganan bencana terkendala terbatasnya sinyal telekomunikasi. Selain itu, akses untuk menuju lokasi hanya dapat ditempuh melalui transportasi air dengan memakan waktu 7-13 jam.

Guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, BPBD Kalsel mengimbau warga terdampak agar tidak kembali ke rumah masing-masing, mengingat kondisi di lokasi tersebut masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan.

"Di samping itu, informasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG menyebut bahwa hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan dan sekitarnya," ujarnya.

(jbr/jbr)