Cegah Banjir, Pemkot Surabaya Diminta Tata Ulang Kabel di Gorong-gorong

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 21:21 WIB
AH THony
Foto: DPRD Surabaya
Jakarta -

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony mengecek salah satu gorong-gorong di kawasan Margorejo. Hal itu dilakukan karena ia mengaku resah melihat genangan terjadi hampir di kawasan Kota Surabaya akibat musim penghujan.

Saat sidak, ia menemukan kabel fiber optik yang dipasang di dalam box culvert. AH Thony menyampaikan banyaknya jaringan kabel telepon yang ditanam di saluran box culvert dapat menimbulkan banjir.

Tidak jarang sampah yang di dalam gorong-gorong tersangkut di kabel-kabel tersebut, sehingga debit air yang tinggi tidak bisa mengalir dengan lancar, akhirnya meluap di jalanan. Banjir pun tak terelakkan.

"Saya melihat pemasangan box culvert saya turut senang untuk normalisasi air. Namun ketika saya melihat di dalam got atau gorong-gorong itu banyak kabel jaring telepon yang sebelumnya sudah dipasang dulu. Ini dapat mengganggu aliran air karena pasti ada hambatan ketika sampah itu tersangkut kabel," kata AH Thony dalam keterangan tertulis, Selasa (30/11/2021).

Ah Thony menduga di tempat lain juga dalam kondisi sama, yakni banyak kabel jaringan telepon yang ditanam di saluran box culvert. Memang terlihat jaringan kabel telepon itu sangat semrawut, terlihat di dalam sekitar 2 meter saat pengerjaan box culvert.

"Saya menduga kabel-kabel ini ada ditempat lain. Karena kelihatannya pemasangan mudah dan cepat," ujar AH Thony.

Oleh karena itu, AH Thony pun mendorong penataan ulang pemasangan fiber optik jaringan telepon yang menghambat saluran box culvert yang bisa menimbulkan banjir kalau terus dibiarkan terus menerus.

"Hal ini membuat pembangun box culvert di gorong-gorong sia-sia. Karena box culvert dipasang untuk mengantisipasi banjir. Tapi ada satu kabel melintang kemudian ada sampah yang dibuang nyangkut maka terjadi penghalang besar," tegas AH Thony.

Bahkan pemasangan kabel yang terletak di aset milik Pemkot Surabaya itu juga dipastikan ada kontribusi besar dari pemilik kabel telepon. Apalagi status Telkom sebagai pemilik jaringan kabel telepon bawah tanah merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

"Saya melihat tidak dipasang cuma-cuma. Karena itu aset Pemkot, pasti BUMN tersebut akan memberikan kontribusi," ujarnya.

AH THony meminta Pemkot Surabaya dan Telkom untuk duduk bersama satu meja, membuat perencanaan yang bagus dalam pemasangan jaringan kabel telepon di dalam saluran box culvert.

"Kami menyampaikan satu hal agar Pemkot dan Telkom duduk satu meja, bicara baik-baik, buat perencanaan yang bagus. Kalau bisa ada pemandangan intalasi kabel di dalam gorong-gorong. Seharusnya di luar juga di buatkan gorong-gorong kecil untuk bisa menampung kebutuhan jaringan kabel telepon,"imbuhnya.

Sementara itu, AH Thony menambahkan sinergitas perencaan seperti ini karena tidak menutup kemungkinan, pemasangan jaringan yang lain seperti gas, PDAM maupun jaringan kabel listrik.

"Supaya bisa sinergi dengan baik dibuatkan satu gorong-gorong lagi untuk tempat instalasi. Karena tidak menutup kemungkinan untuk jaringan yang lainnya juga,"ujarnya.

Menurut AH Thony, box culvert merupakan tradisi pembangunan saluran di Surabaya untuk mengantisipasi banjir yang sering terjadi saat hujan tiba. Menurutnya perlu dipikirkan ke depan untuk maintenance saluran ini. Misalnya saat membersihkan sampah di dalam gorong-gorong atau pengerukan sedimen lumpur supaya tidak merusak jaringan kabel.

"Ya mungkin ada bor yang lebih cepat untuk mengeluarkan sampah saat pembersihan agar tidak diduga melakukan pengerusakan kabel jaringan saat pembersihan. Dan ini yang perlu dihitung, agar Telkom tidak dirugikan, upaya penanganan banjir tuntas. Maka diperlukan koordinasi secara komprehensif," pungkasnya.

(ncm/ega)