Sidang Kasus Km 50

Saksi Komnas HAM di Sidang Km 50: Warga Diminta Hapus Foto

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 17:12 WIB
Jakarta -

Koordinator Bidang Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Endang Sri Melani, mengungkap kesaksian warga dalam penyelidikan Komnas HAM terkait insiden penembakan laskar FPI di Km 50 Tol Cikampek. Endang mengungkap cerita saksi di Km 50 yang merupakan pedagang mengatakan warga tidak boleh mendekat saat ada 4 orang laskar FPI diamankan polisi.

Diketahui Komnas HAM membentuk tim penyelidikan terkait kasus penembakan laskar FPI di Km 50, Komnas HAM lalu mengumpulkan bukti-bukti seperti pecahan bodi mobil, proyektil, dan bukti rekaman CCTV. Komnas HAM juga mengumpulkan keterangan saksi baik dari masyarakat sekitar TKP, keterangan keluarga korban, hingga terdakwa.

Dalam kasus ini Komnas HAM juga telah mengeluarkan rekomendasi atas kasus penembakan laskar FPI di Km 50 itu agar meminta kasus tersebut diproses hukum dalam persidangan pidana karena adanya dugaan pelanggaran HAM unlawful killing. Endang bertugas sebagai anggota tim penyelidikan dalam tim tersebut.

Dalam kesaksian warga di sekitar TKP kepada tim Komnas HAM terungkap ada saksi yang merupakan pedagang mengaku tidak diizinkan mendekat oleh kepolisian ke TKP. Saksi tersebut mengaku dilarang mendekat ke lokasi dengan alasan polisi sedang mengamankan kasus teroris dan narkoba.

"Kesaksian masyarakat di kawasan rest area Km 50 Tol Cikampek, poin E saksi mendengar polisi untuk mundur jangan mendekati TKP dengan alasan penangkapan teroris dan penangkapan narkoba. Keterangan ini kami peroleh dari pedagang di rest area Km 50," kata Endang, saat bersaksi dalam sidang di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (30/11/2021).

Endang mengatakan saksi pedagang tersebut juga mengaku kepada Komnas HAM bahwa para saksi dilarang mengambil foto dan videonya diminta dihapus. Endang mengatakan saksi yang berada di sekitar TKP itu mengaku melihat mobil Chevrolet sudah dalam kondisi ban kempes, saat itu saksi melihat 4 anggota laskar FPI dalam keadaan hidup dipindahkan ke dalam mobil polisi.

"Sejumlah saksi mengaku dilarang mengambil foto dan dilakukan pemeriksaan terhadap sejumlah telepon genggam pedagang dan pengunjung dan diminta menghapus foto dan rekaman video. Saksi melihat 4 orang diturunkan dalam kondisi masih hidup dan kemudian ditiarapkan di badan jalan," kata Endang.

Endang mengungkap saksi mengaku melihat ada orang yang diturunkan dari mobil dengan kondisi luka tembak dan terlihat ceceran darah di sekitar lokasi, saksi juga melihat polisi mengeluarkan senjata tajam dari mobil laskar FPI.

Selain itu saksi juga melihat korban sempat mendapat perlakuan kasar. Endang memaparkan saksi juga mengaku melihat ada korban yang meninggal dimasukkan dalam bagasi sebuah mobil, kemudian saksi juga melihat mobil chevrolet diderek.

Sementara itu, pengacara terdakwa, Henry Yosodiningrat, mempertanyakan identitas saksi tersebut karena ia tidak ingin seolah-olah polisi menekan masyarakat untuk meminta warga menghapus foto. Namun, Endang mengatakan identitas warga tersebut dirahasiakan.

"Karena itu memang informasi yang kami peroleh masyarakat sudah cukup ketakutan saat itu dan berharap tidak disebutkan namanya, tapi dia adalah orang yang mengetahui dan melihat pada saat kejadian," kata Endang.

Merespons hal tersebut, Henry Yoso meminta agar saksi pedagang tersebut dihadirkan dan diperiksa sebagai saksi dalam persidangan tertutup. Namun hakim menengahi dan menyatakan biarkan nanti hakim yang menilai apakah perlu-tidaknya saksi tersebut dihadirkan.

"Agar tidak terjadi fitnah, toh didampingi LPSK, adakan sidang tertutup khusus untuk pemeriksaan saksi itu, supaya dihadirkan benar atau tidak keterangan orang itu. Kalau tidak itu yang disebut dengan orang memfitnah," kata Henry.

"Nanti kami yang menilainya itu," ungkap hakim.