Bareskrim Tangkap Pelaku Pelecehan Seksual 11 Anak Lewat Game Free Fire

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 15:11 WIB
Jakarta -

Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri membongkar kasus dugaan pelecehan seksual anak melalui game online bernama Free Fire (FF). Pelaku pelecehan seksual anak berinisial S (21) ditangkap polisi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

"Pada hari Sabtu tanggal 9 Oktober 2021 di Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kaltim, sekitar jam 19.40 Wita, penyidik berhasil menangkap tersangka S," ujar Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Kombes Reinhard Hutagaol dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/11/2021).

Reinhard mengungkapkan kasus ini bermula dari aduan mengenai konten negatif yang dilayangkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Bareskrim menindaklanjuti aduan itu dengan membuat laporan polisi (LP) pada 22 September 2021.

Aduan KPAI yang dimaksud merupakan keluhan dari masyarakat, di mana pada Agustus 2021, ada orang tua yang mengecek HP anaknya, D (9). Namun, D tidak memberi izin orang tuanya untuk mengecek HP-nya.

Orang tua D pun curiga. Kemudian, HP D dicek dan orang tuanya menemukan video porno. Mereka juga mengecek percakapan WhatsApp dan kolom sampah di galeri HP D. Lalu ditemukan video porno yang dihapus.

"Setelah ditanya kepada si anak, D mengaku video tersebut dikirim oleh teman main game-nya bernama Reza," ucap Reinhard.

Kemudian, Reinhard menjelaskan tersangka S berkenalan dengan D pertama kali melalui game online Free Fire. S kerap bermain game bersama korban.

Lalu, tersangka mengirim pesan kepada korban di game Free Fire. Tersangka merayu akan memberikan Diamond (alat tukar premium yang berfungsi mengoptimalkan tampilan dan performa pemain yang bisa digunakan untuk membeli karakter, memperkuat senjata, dan mendapatkan item eksklusif di Free Fire) kepada korban.

S, kata Reinhard, meminta nomor WhatsApp D. Di situlah dugaan pelecehan seksual mulai dilancarkan S.

"Lalu tersangka meminta nomor WhatsApp korban dan chat di nomor WhatsApp korban. Kemudian tersangka mengirimkan contoh video porno kepada korban dan minta korban untuk mengirimkan foto dan video porno (telanjang). Jika korban mau diberi Diamond sebanyak 500-600 (seharga Rp 100 ribu)," tuturnya.

"Korban sempat menolak. Namun tersangka mengancam akan menghilangkan akun game korban sehingga korban menuruti kemauan tersangka. Tersangka menghilangkan akun game korban sehingga korban menuruti kemauan tersangka. Selain itu, tersangka juga memaksa korban untuk mau diajak VCS (video call sex) dengan janji akan diberikan Diamond, lalu D mengirimkan video porno dirinya ke tersangka," sambung Reinhard.

Sementara itu, Reinhard mengatakan korban dari S tidak hanya D, melainkan total ada 11 anak perempuan. Polisi sudah berhasil melacak 4 korban S, dan 7 anak lainnya belum terdeteksi identitasnya.

"(Total korban) 11 anak perempuan, umur 9-17 tahun, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. 4 anak sudah ditemukan dan sudah dilakukan pemeriksaan, 7 anak belum ditemukan identitasnya," imbuh Reinhard.

Atas perbuatannya itu, tersangka dijerat dengan Pasal 82 Jo Pasal 76 E UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 29 Jo Pasal 4 Ayat (1); dan/atau Pasal 37 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi; dan/atau Pasal 45 Ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) Undang-undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. S terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda Rp 6 miliar.

(drg/zap)