Viral Air Terjun Musiman di Gunung Agung Bali, Ini 3 Imbauan Waspada BPBD

Sui Suadnyana - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 11:55 WIB
Gunung Agung, Karangasem, Bali, Kamis (5/7/2018)
Gunung Agung dii Karangasem, Bali (Ardian Fanani/detikcom)
Denpasar -

Fenomena air terjun musiman di kawasan Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali, viral di media sosial (medsos). Air terjun musiman itu muncul akibat hujan lebat di wilayah hulu.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem mengaku baru mengetahui adanya fenomena tersebut dari medsos.

"Untuk fenomena ada air terjun sifatnya insidental, tyang (saya) juga baru tahu dari media kemarin yang mengunggah," kata Sekretaris BPBD Karangasem Ida Bagus Ketut Arimbawa saat dihubungi detikcom, Selasa (30/11/2021).

Meski demikian, Arimbawa menjelaskan pada prinsipnya di lereng-lereng Gunung Agung memang ada beberapa sungai. Pada saat musim hujan lebat di hulu, airnya akan mengalir melalui lembah Gunung Agung.

"Nah, dari lembah-lembah itu air akan mengalir menjadi satu ke Tukad (Sungai) Yeh Sah. Nah, itu terbukti pada saat erupsi tahun 2017 sampai 2019 kemarin, jadi banyak material batu dan pasir yang hanyut," terang Arimbawa.

Arimbawa mengungkapkan status Gunung Agung kini memang sudah diturunkan dari waspada menjadi normal. Dengan status ini, masyarakat sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa, baik itu di kaki gunung maupun untuk kegiatan pendakian.

Hal ini sesuai dengan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM). Walaupun bisa beraktivitas normal, pada saat musim hujan masih ada ancaman bahaya yang perlu diwaspadai bagi para pendaki dan juga masyarakat di lereng-lereng Gunung Agung.

Waspada Gas Berbahaya

Pertama, bagi para pendaki, Arimbawa mengimbau agar sebaiknya tidak melakukan pendakian atau diam terlalu lama di puncak Gunung Agung pada waktu yang lama. Sebab, pada saat mendung, ada kemungkinan kawah tertutup oleh gas berbahaya.

"Nah, ini akan membahayakan bagi para pendaki. Karena kawah ditutup oleh awan mendung. Jadi kalau ada gas berbahaya yang keluar, tidak bisa dia terurai langsung, tapi dia akan berputar di sekitar kawah tersebut. Ini membahayakan bagi para pendaki. Makanya tidak boleh berlama-lama (diam di sekitar kawah) pada saat musim hujan," ungkapnya.

Waspada Longsor di Pinggir Kawah

Kemudian pendaki dan masyarakat juga perlu mewaspadai adanya longsoran-longsoran di pinggir-pinggir kawah Gunung Agung.

"Nah, nike (itu) agar sangat diantisipasi oleh para pendaki dan pemandu juga untuk tidak berlama-lama tinggal di pinggiran-pinggiran kawah yang kemungkinan terjadi longsoran dan akan membayarkan para pendaki dan para pemandu," tuturnya.

Waspada Air Terjun Musiman

Kemudian, adanya air terjun yang sifatnya musiman atau mendadak juga dapat membahayakan pendaki dan masyarakat yang beraktivitas. Sebab, air terjun bisa membawa berbagai material yang hanyut seperti kerikil-kerikil kecil.

"Sudah tentu ini akan membahayakan bagi para pendaki. Apabila ini tidak terlihat diinjak ini akan bisa membuat para pendaki tergelincir di atas atau pada saat melakukan pendakian di musim hujan," terangnya.

"Nah, nike-lah ancaman yang ada, tiga ancaman itu, di saat kondisi normal, tetapi pada saat kondisi hujan apalagi lebat, dengan cuaca ekstrem yang terjadi saat ini," tambahnya.

Meski demikian, Arimbawa menegaskan pihaknya tidak melarang pendakian. Pihaknya hanya mengimbau agar masyarakat tidak mendaki saat musim hujan atau cuaca buruk.

"Nggih (ya) bukan dilarang, (tetapi) untuk waspada, untuk berhati-hati. Kalau memang hujan cukup lebat, sebaiknya tidak melakukan pendakian. Bukan dilarang nggih, (tapi) sebaiknya tidak melakukan pendakian, kalau dilarang kan tidak boleh sama sekali, tetapi rekomendasi kan memang memperbolehkan," kata dia.

(jbr/jbr)