Ketua MPR Dorong Pemerintah Cari Solusi Proyek Jakarta Monorail

Atta Kharisma - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 22:18 WIB
MPR
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo mengimbau agar PT Jakarta Monorail, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Pemerintah Pusat melalui Kementerian BUMN serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat segera mencari solusi terbaik dalam menyelesaikan proyek Jakarta Monorail. Sejak diresmikan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2004, konstruksi Jakarta Monorail hingga saat ini masih belum mendapatkan titik terang.

Pada tahun 2008, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menghentikan pembangunan proyek tersebut. Lalu pada Juni 2013, di bawah pimpinan Gubernur Joko Widodo pengerjaan proyek Jakarta Monorail kembali dilanjutkan. PT Jakarta Monorail bahkan turut menggandeng BUMN China, China Communication Construction Company Ltd (CCCC) untuk mengembangkan proyek Jakarta Monorail. Penandatanganan kesepakatan kerja disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden China Xi Jinping di Shangrila Hotel, Jakarta.

Akan tetapi pada masa pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama di tahun 2014, proyek tersebut kembali terhenti. Hingga pergantian kepemimpinan ke Gubernur Anies Baswedan, nasib proyek Jakarta Monorail masih menjadi tanda tanya besar.

"Sebelum proyek terhenti, konsorsium telah membangun tiang Jakarta Monorail hingga mencapai 90 unit. Tersebar di sepanjang Jalan Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika. Investasi yang dikeluarkan sudah mencapai Rp 300-400 miliar. Total investasi yang diperlukan mencapai USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 15-16 triliun, sepenuhnya tidak menggunakan APBN/APBD, murni business to business. China Communication Construction Company Indonesia (CCCI) sebagai perpanjangan tangan dari China Communication Construction Company Ltd (CCCC) sudah menyiapkan uangnya. Hanya perlu membereskan beberapa hal dari sisi Indonesia, setelah itu pembangunan Jakarta Monorail bisa segera diselesaikan. Bahkan ditargetkan selesai sebelum tahun 2024," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (29/11/2021).

Hal tersebut disampaikan Bamsoet usai menerima jajaran direksi CCCI di ruang kerja MPR RI, Jakarta. Direksi CCCI yang hadir diantaranya President Director Wang Wei, Business Development Director Titien S. Syukur, Marketing Director Fan Wenhua, dan Marketing Specialist Larisa Isara. Turut hadir pula Direktur PT Jakarta Monorail Sukmawati Syukur.

Bamsoet menjelaskan bahwa Jakarta Monorail direncanakan memiliki 28 stasiun dengan 2 depot, dan panjang lintasan mencapai 28 Km. Sepanjang 14,3 Km berada di lintasan Green Line yang memiliki 15 stasiun dengan 1 depot. Rute yang dilalui antara lain Stadion Madya - Palmerah - Pejompongan - Karet Interchange - Sudirman Dukuh Atas - Setiabudi Utara - Kuningan Sentral - Casablanca Interchange - Patra Kuningan - Gatot Subroto - Satria Mandala - Komdak - SCBD - Gelora Bung Karno - Asia Afrika - dan berakhir di Depot Setiabudi Utara.

"Sepanjang 13,7 Km Jakarta Monorail lainnya berada di Blue Lines yang memiliki 13 stasiun dengan 1 depot. Rute yang dilalui antara lain Kampung Melayu - Tebet - Menteng Dalam - Casablanca Interchange - Prof. Dr. Satrio - Sudirman Sampoerna - Menara Batavia - Karet Interchange - Tanah Abang - Cideng - Kyai Caringin - Tomang - Taman Anggrek - dan berakhir di depot Banjir Kanal Barat," jelasnya.

Bamsoet menambahkan kalau berbagai rute yang dilalui Jakarta Monorail juga akan dilintasi oleh MRT, Transjakarta, hingga Commuter Line (KRL). Hal ini nantinya akan sangat membantu mobilitas warga dan mendorong mereka untuk tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi.

Bamsoet menegaskan bahwa realisasi proyek ini juga akan menunjukan kepada dunia bahwa pembangunan transportasi massal di Indonesia tidak kalah dari berbagai negara maju dunia lainnya seperti Singapura, Malaysia, Thailand, China, Hongkong, dan Jepang.

"Penyelesaian proyek Jakarta Monorail juga bisa membantu merapikan keuangan PT Adhi Karya. Sekaligus menunjukan kepada dunia bahwa perusahaan konstruksi milik negara, telah sukses menjadi bagian dalam pembangunan transportasi massal. Sehingga kedepannya tidak ada lagi investor yang khawatir dalam berinvestasi di Indonesia, khususnya dalam menggandeng BUMN sebagai mitra investasi," pungkasnya.

(akn/ega)