Tak Hanya COVID-19, Bamsoet Wanti-wanti 'Virus Ideologi' di Masyarakat

Erika Dyah - detikNews
Senin, 29 Nov 2021 19:01 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan seluruh pihak untuk tetap waspada terhadap pandemi COVID-19. Pasalnya, banyak negara dunia masih berjibaku menghadapi gelombang ketiga, bahkan gelombang kelima pandemi COVID-19.

"Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya gelombang ketiga pandemi COVID-19 di Indonesia, sebagai bagian dari bela negara, antara lain membatasi mobilitas WNA dan WNI yang datang ke Indonesia, terutama dari negara yang sedang mengalami lonjakan kasus. Membatasi PPKM mikro secara selektif, berdasarkan tingkat risiko zonasi. Meneruskan program vaksinasi, dan tidak boleh bosan menaati protokol kesehatan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS)," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (29/11/2021).

Bamsoet menilai pandemi COVID-19 tidak hanya membuat masyarakat rentan terpapar virus yang merusak imunitas jasmani, tetapi juga rentan terpapar virus ideologi yang berpotensi merusak imunitas jati diri dan karakter kebangsaan. Oleh karena itu, selain menggencarkan vaksinasi COVID-19, pihaknya bersama pemerintah juga menggencarkan vaksinasi ideologi melalui Sosialisasi Empat Pilar MPR RI.

Adapun salah satu agenda Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang terbaru digelar bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan dihadiri Bamsoet secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta.

"Empat Pilar MPR tersebut adalah Pancasila sebagai dasar negara, landasan ideologi, falsafah, etika moral serta alat pemersatu bangsa; Undang-Undang Dasar Negara Republik Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai konsensus yang harus dijunjung tinggi serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat pemersatu bangsa," jelas Bamsoet.

Lebih lanjut, ia menerangkan vaksinasi ideologi juga bisa menguatkan mental dan karakter kebangsaan agar bisa tetap tegar dan kuat melewati masa-masa sulit pandemi COVID-19. Selain itu, vaksinasi ini juga bisa menguatkan masyarakat agar tidak terjerumus oleh berbagai pengaruh buruk globalisasi dan dinamika zaman.

Ia menambahkan, di negara-negara yang lebih maju dan modern, pendidikan karakter tetap diselenggarakan dengan berbagai metode dan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing negara.

"Di Amerika yang liberal dan sekuler pun, dikenal program positive behavior support yang ditujukan untuk mendidik karakter siswa dengan membudayakan perilaku positif. Di Finlandia, dengan sistem pendidikan yang diakui sebagai yang terbaik di dunia, tidak dikenal sistem ranking maupun standar angka-angka dalam ujian nasional, melainkan bersandar pada standar etika perilaku moral secara nasional. Bahkan pendidikan karakter tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga kepada pasangan yang akan menjadi orang tua," terangnya.

Sedangkan di Indonesia, ujar Bamsoet, ada tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara yang memaknai pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (karakter), bukan semata pikiran (intelektualitas). Merujuk pemikiran tokoh tersebut, Bamsoet mengatakan pada dasarnya pendidikan adalah proses pembangunan manusia seutuhnya yang menyentuh segenap aspek dan dimensi kemanusiaan.

"Seiring perkembangan dan dinamika zaman, kita dapat merasakan adanya fenomena dan kecenderungan semakin melemahnya wawasan kebangsaan. Karenanya pendidikan karakter bangsa dan wawasan kebangsaan harus selalu menjadi bagian penting dalam program pembangunan setiap periode pemerintahan," pungkas Bamsoet.

Sebagaimana diketahui, tingkat positivity rate Indonesia hingga kini senantiasa stabil di bawah 1 persen dengan rasio angka kesembuhan mencapai lebih dari 96 persen sehingga menjadikan pengendalian pandemi COVID-19 di Indonesia sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Kendati demikian, kasus COVID-19 di dunia justru tercatat mengalami peningkatan. Pada Rabu (24/11), dalam sehari ditemukan lebih dari 30 ribu kasus baru di Perancis dan lebih dari 40 ribu di Inggris. Diketahui, kondisi di Jerman lebih mengkhawatirkan dengan angka kematian mencapai lebih dari 100 ribu kasus, dan perkiraan jumlah kasus harian mencapai 50 ribu kasus.

Organisasi Kesehatan Dunia/WHO pun telah mengumumkan varian baru SARS-CoV-2 B.1.1.529, yang dikenal dengan Omicron. Varian baru ini pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021 sehingga WHO menggolongkannya sebagai varian yang harus diwaspadai karena memiliki banyak mutasi yang di antaranya bisa memicu infeksi ulang.

Sebagai informasi, kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh jajaran rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim, antara lain Rektor Prof. Dr. M. Zainuddin, Dekan Fakultas Syariah Dr. Sudirman, serta Kepala Program Studi Hukum Tata Negara Musleh Harry.

(akn/ega)