Lolos Uji Terbang, Drone Ehang 216 Jadi Kendaraan Terbang Resmi IMI

Erika Dyah - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 22:47 WIB
Ketua MPR Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo meresmikan Drone Ehang 216 sebagai kendaraan resmi (official aircraft) IMI. Sebagai salah satu drone bermuatan manusia pertama di dunia, Ehang 216 akan digunakan IMI untuk melakukan pengawasan berbagai turnamen dan sirkuit balap sesuai ketentuan FIA dan FIM.

Usai melakukan uji terbang Ehang 216 di kawasan Black Stone Beach Bali, Bamsoet mengungkap drone ini rencananya akan digunakan untuk melakukan pengawasan di Ajang MotoGP di Mandalika Lombok, Februari dan Formula-E di Kawasan Ancol Jakarta pada Juni 2022 mendatang.

"Drone Ehang 216 juga bisa digunakan untuk mendukung berbagai kepentingan bangsa dan negara. Antara lain untuk kegiatan patroli lalu-lintas Polri, militer, serta mendukung kegiatan kemanusiaan seperti pengiriman obat-obatan ke berbagai daerah terpencil yang sulit diakses jalur darat. Tidak kalah penting untuk mendukung kegiatan pariwisata di berbagai daerah. Ehang 216 lebih dari sekadar alat transportasi biasa, keberadaanya telah menjadi bagian dari sejarah perubahan peradaban manusia," ujar Bamsoet usai uji dalam keterangan tertulis, Jumat (26/11/21).

Bamsoet menjelaskan Ehang 216 menggunakan baterai listrik tanpa bahan bakar minyak. Ia menilai hal ini sejalan dengan perjuangan IMI dalam mempercepat migrasi kendaraan berbahan bakar minyak ke bermotor listrik demi berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang bersih dari polusi.

"Sebagai kendaraan tanpa awak kemudi, Ehang 216 dioperasikan melalui pusat komando dan kendali AAV (Autonomous Aerial Vehicle) yang berada di darat menggunakan jaringan 4G/5G sebagai saluran transmisi nirkabel berkecepatan tinggi untuk berkomunikasi dengan lancar dengan pusat komando dan kendali," terangnya.

Ia mengatakan teknologi tersebut memungkinkan kendali jarak jauh pesawat dan transmisi data penerbangan secara real-time.

"Teknologi penerbangan otonom ini menghilangkan kemungkinan kegagalan atau kerusakan yang disebabkan oleh kesalahan manusia atau human error," tambahnya.

Seiring dengan diresmikannya Ehang 216 sebagai official aircraft IMI, Bamsoet juga meresmikan Aerial Vehicle Club Indonesia (AVOCI) atau Klub Pemilik Kendaraan Udara Indonesia. Ia mengungkap klub ini menjadi wadah berkumpulnya pemilik kendaraan udara, seperti Ehang 216, helikopter, hingga private jet sekaligus menjadi bagian dari keluarga besar IMI Mobility.

"Keberadaan AVOCI bukanlah untuk gagah-gagahan. Melainkan wadah bagi para pemilik kendaraan udara Indonesia untuk saling bersilaturahmi, berkolaborasi, dan bersinergi. Menjadi kekuatan sosial bagi bangsa Indonesia untuk ikut terlibat dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat, sekaligus berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara," ungkapnya.

Bamsoet berharap para angota para anggota AVOCI yang memiliki kemampuan tingkat ekonomi lebih tinggi dibandingkan rata-rata penduduk lainnya dapat menciptakan banyak manfaat bagi masyarakat. Dengan saling sinergi, ia pun berharap AVOCI bisa membuka lebih banyak peluang usaha baru, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"AVOCI juga bisa dilibatkan dalam menyukseskan berbagai event motorsport dunia yang diselenggarakan di Indonesia. Selain menggunakan jaringan bisnisnya untuk menjadi sponsor, juga bisa dilibatkan dalam penyediaan transportasi bagi para pembalap dan official crew, maupun berbagai tamu VVIP lainnya," jelas Bamsoet.

Selain berkontribusi di bidang ekonomi, menurutnya AVOCI juga bisa dilibatkan dalam berbagai misi sosial kemanusiaan. Mulai dari pengiriman obat-obatan dan tenaga kesehatan ke berbagai lokasi terpencil, hingga evakuasi korban bencana alam.

Mengingat musibah tsunami Aceh tahun 2004 maupun tsunami di Palu tahun 2018, Bamsoet mengatakan banyak pemilik kendaraan udara yang mengirimkan private jet dan helikopternya untuk membantu misi sosial kemanusiaan saat penerbangan komersil terhenti dan landasan udara tidak bisa didarati pesawat besar.

"Dengan terkoordinir melalui AVOCI, ke depannya para pemilik kendaraan udara bisa memaksimalkan peran fungsinya sebagai bagian dari kekuatan sosial dan ekonomi Indonesia," tuturnya.

Dalam kesempatan ini, Executive Chairman of Prestige Aviation sekaligus Bendahara Umum IMI, Rudy Salim mengungkap pesawat Ehang dengan tinggi mencapai 1,77 meter dan lebar mencapai 5,61 meter bisa ditumpangi dua orang, atau mengangkut beban maksimal 220 kg.

Adapun jarak terbang dengan muatan maksimal mencapai 35-65 Km, waktu terbang mencapai 21-40 menit, serta kecepatan maksimal mencapai 130 Km/jam. Ia menjelaskan pada tahun 2022 nanti, Indonesia mendapatkan jatah 50 unit Ehang 216.

Lebih lanjut, Kepala Subdit Sertifikasi Pesawat Udara Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan, Agustinus Budi Hartono menerangkan, uji terbang Ehang 216 telah menyesuaikan berbagai prosedur. Menurutnya, Kemenhub telah melakukan assesment sejak April 2021. Baik pilot maupun engineer dipastikan sudah mendapatkan lisensi.

"Kementerian Perhubungan siap mendukung keberadaan mode transportasi tanpa awak seperti Ehang 216. Tidak hanya merubah wajah moda transportasi Indonesia di masa depan, Ehang 216 juga menjadi solusi transportasi untuk mencapai berbagai daerah terpencil," pungkasnya.

Sebagai informasi, peresmian Ehang 216 dan AVOCI turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal IMI Ahmad Sahroni, Wakil Bendahara Umum IMI Johnson Yaptonaga, serta Ketua Regional Asia Pasifik Ehang Intelligent Equipment Bill Choi.

Turut hadir juga Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, Group CEO Asia Cargo Airlines Marco Isaak yang langsung memesan 1 unit drone Ehang 216, serta pengurus IMI Pusat, antara lain Badan Pengawas Brigjen Pol Syamsul Bahri, Direktur Sosial dan Lingkungan Hidup Darma Mangkuluhur Hutomo, Ketua Komisi Wisata Roy Wicaksono, serta Komunikasi dan Media Sosial Hasby Zamri serta berbagai komunitas motor besar dan mobil super car Bali.

(ega/ega)