Dari 74.961 Desa di RI, 2.275 di Antaranya Belum Teraliri Listrik

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 22:30 WIB
Sekjen Kemendes PDTT Taufik Madjid menekankan pentingnya program percepatan elektrifikasi di perdesaan dengan memanfaatkan penggunaan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai sumber energi untuk penyediaan tenaga listrik.
Foto: Dok. Kemendes PDTT
Jakarta -

Sekjen Kemendes PDTT Taufik Madjid menekankan pentingnya program percepatan elektrifikasi di pedesaan dengan memanfaatkan penggunaan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai sumber energi untuk penyediaan tenaga listrik. Pasalnya, hingga kini masih banyak desa yang belum teraliri listrik.

Berdasarkan Data Potensi Desa (PODes) tahun 2018, masih terdapat 2.275 desa dari 74.961 desa di Indonesia yang belum teraliri listrik. Khusus wilayah Papua yang masih merupakan daerah tertinggal, rasio elekrifikasinya adalah sebesar 43 persen atau masih terdapat 458.356 Kepala Keluarga (KK) dari dari total 806.280 KK yang belum mendapatkan aliran listrik.

Menurutnya, data tersebut menjadi catatan penting untuk merealisasikan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kementerian/lembaga terkait agar secara langsung maupun tidak langsung untuk memberikan perhatian penuh terhadap pembangunan di Papua dan Papua Barat.

"Termasuk di dalamnya adalah tentang isu elektrifikasi atau akses listrik bagi masyarakat Papua dan Papua Barat," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/11/2021). Hal ini dia ungkapkan pada kegiatan penyerahan secara simbolik terkait hibah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat dari Industrial Technology Research Institute (ITRI) dan Tatung University Taiwan kepada Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua Barat tersebut secara virtual.

Dia menuturkan perjalanan panjang proyek kolaborasi penyelenggaraan program hibah Instalasi PLTS Terpusat di distrik Klayli Kabupaten Sorong, Papua Barat tersebut merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pembangunan listrik di perdesaan.

"Hal tersebut tentunya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat pedesaan secara adil dan merata," ujar Taufik.

"Untuk wilayah Indonesia Timur yang termasuk dalam wilayah dengan reliabilitas kelistrikan (jangka waktu suplai listrik) yang rendah atau di bawah 12 jam per hari, strategi yang dapat dilakukan yaitu dengan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya," sambungnya.

Oleh karenanya, dia mengucapkan terima kasih kepada APO Sekretariat dan NPO Indonesia yang telah memberikan kesempatan untuk berkolaborasi dalam penyelenggaraan program hibah Demo Project with Companies (DMP-C) - Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat yang diimplementasikan oleh Industrial Technology Research Institute (ITRI) dan Tatung University.

"Saya ucapkan pula terimakasih kepada seluruh pihak yang terlibat aktif dan konsisten mengawal proyek hibah ini sehingga terselenggara dengan baik," pungkasnya.

(akd/ega)