Kondisi Geografis-Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Vaksinasi di Pelosok RI

Inkana Putri - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 17:17 WIB
Tim Vaksinator dari Puskesmas Tutar bersama Personil Kepolisian Polsek Persiapan Tutar, harus bekerja keras menjangkau tiga desa pedalaman terjauh di Kabupaten Polewali Mandar.  Mereka harus menempuh jalan sejauh tiga puluh kilometer selama delapan jam.
Foto: 20detik-Perjuangan Vaksinator Polman, Jatuh-Mandi Lumpur Menuju Desa Terjauh
Jakarta -

Pemerintah terus mendistribusikan vaksin hingga ke pedalaman di seluruh Indonesia guna mendorong pemerataan dan percepatan vaksinasi.

Meski demikian, upaya ini memerlukan dukungan dan kerja sama seluruh pihak agar vaksinasi dapat menjangkau hingga pelosok daerah. Mengingat setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Sulbar, Mustari Mula mengaku jika kondisi geografis menjadi salah satu tantangan pelaksanaan vaksinasi di Sulawesi Barat. Namun, ia merasa terbantu dengan adanya bantuan dari berbagai pihak mulai dari TNI hingga tenaga kesehatan.

"Sangat bersyukur banyak dibantu, bahu membahu dengan berbagai elemen terutama TNI Polri, nakes (tenaga kesehatan) dan masyarakat," ungkap Mustari dalam keterangan tertulis, Kamis (24/11/2021).

Hal ini ia sampaikan dalam dialog virtual 'Perjuangan Vaksinasi di Pedalaman Indonesia' di Media Center Forum Merdeka Barat 9.

Dalam kesempatan tersebut, Mustari menyampaikan kondisi geografis juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan distribusi vaksin, khususnya dalam menjaga kualitasnya. Mengingat beberapa wilayah di daerahnya cukup terisolasi dan tidak terjangkau kendaraan roda dua.

Namun, Mustari mengatakan distribusi ke daerah terpencil telah ditentukan dan dikalkulasi waktu dan jarak tempuhnya. Dengan demikian vaksin tetap dapat tiba dalam kondisi baik.

"Stok vaksin juga terpenuhi," imbuhnya.

Sementara soal capaian vaksinasi, ia menyebutkan, hingga dua hari lalu, 56% warga telah divaksinasi. Adapun hal ini tak lepas dari dukungan antusiasme masyarakat yang sadar akan pentingnya vaksinasi.

Mengingat pada awalnya, kata Mustari mereka cenderung menghindar bahkan menolak tenaga vaksinator karena belum mendapatkan informasi yang benar.

"Tapi setelah teredukasi dengan baik, justru partisipasi masyarakatnya lebih proaktif untuk divaksin," jelas Mustari.

Senada dengan Mustari, Wakapolres Pacitan, Kompol Sunardi juga mengaku kondisi geografis juga menjadi tantangan tersendiri bagi Pacitan dalam melakukan vaksinasi.

"Pacitan 85% terdiri dari pegunungan dan perbukitan," jelasnya.

Oleh karena itu, untuk mempermudah akses vaksinasi, pihaknya menggencarkan vaksinasi door to door atau mengumpulkan masyarakat di suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.

Terkait hal ini, Sunardi mengatakan masyarakat merespons positif kemudahan yang diberikan. Pasalnya, selain vaksinasi, petugas juga membagikan bantuan sosial dan peralatan seperti kursi roda bagi kaum difabel.

Selain kondisi geografis, Sunardi memaparkan cuaca ekstrem juga cukup menjadi kendala. Dalam hal ini, Puskesmas di tingkat kecamatan masih terjangkau, namun untuk vaksinasi ke desa-desa. Untuk itu, peran Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan bidan desa juga dimaksimalkan untuk mendatangi dan melayani penduduk.

Penguatan jalur komunikasi dan edukasi pun dilakukan dengan membentuk grup WhatsApp hingga ke tingkat RT dan RW. Didukung respon baik masyarakat, kata Sunardi, upaya tersebut menghasilkan cakupan vaksinasi cukup tinggi.

"Capaian vaksinasi 72,61% dan kami mengejar vaksinasi lansia yang baru 52%," bebernya.

Selain di pedalaman, vaksinasi di perkotaan seperti Jakarta dan sekitarnya ternyata juga memiliki kendala tersendiri. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Yayasan Sinergi Vaksinasi Merdeka, Devi Rahmawati.

Devi mengaku banyaknya informasi yang beredar membuat masyarakat enggan untuk melakukan vaksinasi.

"Berdasarkan studi, keengganan masyarakat untuk vaksinasi adalah persoalan teknis," ungkapnya

"Persoalan teknis dimaksud adalah kendala akses, transportasi, waktu, juga biaya menuju sentra vaksinasi," imbuhnya.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, kata Devi, pihaknya bekerja sama dengan banyak unsur dalam melakukan vaksinasi kolosal di 900 titik di DKI Jakarta dan wilayah penyangganya. Devi berharap upaya ini dapat menjangkau akses semua warga.

Devi juga menjelaskan vaksinasi digelar tak jauh dengan tempat tinggal masyarakat. Adapun hal ini guna mempermudah pendekatan sosial dan mengetahui kendala yang dihadapi warga setempat. Tak hanya itu, waktu pelaksanaannya pun disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di daerah tersebut.

"Membujuk masyarakat menjadi lebih mudah karena tahu persis kendala yang dihadapi," kata Devi.

Lebih lanjut, Devi menjelaskan Program Vaksinasi Merdeka saat ini telah terlaksana 3 kali dengan melibatkan ribuan orang relawan. Dalam pelaksanaannya, Devi menyatakan pentingnya 3 unsur, yakni kerelawanan, kedermawanan, dan kepemimpinan.

Ia meyakini, dengan diterapkannya 3 unsur tersebut, maka program serupa Vaksinasi Merdeka dapat diadopsi di seluruh wilayah Indonesia.

"Pandemi membuat kearifan sosial gotong royong betul-betul terlihat, bagaimana warga dari berbagai latar belakang siap membantu," ujarnya.

"Jadi selain kerja sama, aksi juga paling penting," tambahnya.

Selain kondisi geografis dan transportasi, Ketua Persatuan Perawat Nasional, Harif Fadhillah mengutarakan adanya tantangan lain yang sering dihadapi kegiatan vaksinasi di daerah terpencil.

Kendala tersebut adalah kurangnya pemahaman masyarakat. Oleh karena itu, perawat diminta untuk memiliki kreativitas dan kemampuan dalam memberikan pendekatan dan pengertian lebih spesifik, dengan bahasa yang dapat diterima warga setempat.

"Kita harus punya kreativitas untuk membuat media-media sederhana (misalnya gambar) yang dapat dipahami mereka," tutur Harif.

Ia menyatakan pihaknya selalu memberikan pembekalan informasi dan pengetahuan bagi perawat yang bertugas. Hal ini meliputi pembekalan virtual dan pelatihan dan orientasi di masing-masing daerah.

Sedangkan tentang vaksinasi COVID-19, menurut Harif, pemberian vaksinasi merupakan pekerjaan yang sudah sering dilakukan tenaga kesehatan.

"Hanya ada aspek-aspek yang harus diperhatikan, seperti KIPI, harus diinformasikan kepada nakes," katanya.

Harif mengatakan tantangan utama vaksinasi adalah cara masyarakat dapat memahami dengan baik. Edukasi, dikatakannya, bukan sekadar memberi informasi, namun cara informasi tersebut dapat dipahami dan diikuti oleh masyarakat. Untuk itu, diperlukan sinergi, kolaborasi, juga kolabor-aksi antar semua komponen.

(ega/ega)