Ketum Muhammadiyah Bicara Kendala Pendidikan RI di Hari Guru

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 10:38 WIB
Suasana simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di SMPN 7 Kota Medan (Datuk Haris Molana/detikcom)
Foto ilustrasi sekolah tatap muka di tengah pandemi COVID-19. (Datuk Haris Molana/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut Hari Guru sebagai wahana peneguh komitmen seluruh guru di Indonesia untuk terus mendidik. Haedar menilai pemerintah sempat gagap menghadapi metode pendidikan yang berubah akibat pandemi, tapi perlahan terjadi pembenahan.

"Lebih-lebih di masa pandemi, ketika dunia pendidikan sebagaimana aktivitas lainnya terdampak luas sehingga mengalami stagnasi aktivitas pendidikan secara normal. Pembelajaran daring pun banyak rintangan, tak semudah yang dibayangkan," tutur Haedar dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (25/11/2021).

"Birokrasi dan otoritas penyelenggara pendidikan seakan gagap mengatasi keadaan. Meski perlahan ada langkah-langkah perbaikan," imbuh dia.

Haedar menuturkan dunia pendidikan di Tanah Air memiliki permasalahan serta tantangan yang bersifat kompleks. Kondisi pendidikan di Indonesia, katanya, berbeda-beda, semisal minimnya sarana dan prasarana, juga tenaga pengajar di pelosok negeri.

"Masih banyak lembaga pendidikan di pelosok-pelosok terjauh mengalami kesulitan hanya untuk bertahan hidup, dari sarana-prasarana, guru, dan dana yang serba terbatas. Sampai kondisi anak didik dengan latar sosiologis yang kompleks," katanya.

"Dunia pendidikan Indonesia di ranah global pun masih harus menghadapi tantangan, karena kondisi Daya Saing Bangsa dan Human Development Index (HDI) Indonesia masih di bawah negara-negara ASEAN," sambung Haedar.

Haedar mengatakan Kemendikbudristek telah diuji dan terobosannya yang sistematis, berkesinambungan, dan serta berorientasi pada pemecahan masalah dinanti. "Fokusnya mesti tertuju pada masalah dalam memajukan pendidikan Indonesia agar makin berkualitas secara merata sebagai agenda yang tidak ringan," ujar Haedar.

Tantangan dunia pendidikan kini, lanjut dia, semakin sulit lantaran generasi muda juga harus ditanami pengertian tentang paham radikalisme, perilaku intoleransi dan kekerasan. Namun Haedar optimis masalah demi masalah di dunia pendidikan dapat teratasi jika disikapi dengan komitmen dan kemauan politis yang tinggi.

"Apalagi ditambah dengan urusan-urusan lain yang dibebankan pada dunia pendidikan seperti soal radikalisme, intoleransi, kekerasan, dan lain-lain yang mesti saksama dalam memecahkannya," ucap Haedar.

"Sudah terpecahkankah masalah-masalah utama dunia pendidikan Indonesia yang kompleks itu? Harapannya tentu selalu terbuka untuk optimis, dengan syarat semua pihak benar-benar serius, fokus, paham, bersinergi, serta memiliki komitmen dan political-will yang tinggi," lanjut dia.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan video 'Jokowi-Ma'ruf Amin Ucapkan Selamat Hari Guru Nasional':

[Gambas:Video 20detik]