Kolom Hikmah

Pasrah

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Pasrah adalah kata yang sering kita dengarkan dalam percakapan sehari-hari. Kadang digunakan saat seseorang menghadapi jalan buntu, maka ia katakan, " Saya sudah pasrah, usaha sudah maksimal."


Di sini penulis akan bahas sikap pasrah atas ketetapan-Nya. Sikap ini sangat penting bagi seorang hamba, karena jika ada kekecewaan dalam ketetapan-Nya, menjadikan ia ingkar.
Keingkaran ini merupakan ketidakimanan pada rukun iman tentang qada dan qadar. Qada merupakan ketetapan Allah Swt dan qadar adalah realisasi dari qada.

Sebelum seorang hamba mencapai tahap pasrah atas ketentuan-Nya, maka ia hendaknya mengetahui maksud Allah Swt menciptannya. Manusia merupakan makhluk Allah Swt dalam sebaik-baik bentuk. Di samping itu manusia dibekali dengan ilmu dan akal serta kemauan, dengan demikian ia punya kapasitas sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka dari itu semua ciptaan Allah di langit dan bumi adalah untuk manusia. Tujuan diciptakannya antara lain :

1. Beribadah kepada Allah Swt. Tujuan manusia diciptakan menurut Islam yang paling utama adalah untuk beribadah dan bertakwa pada Allah. Hal ini sesuai dengan surah Adz Dzariyat ayat 56 yang berbunyi, " Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Telah dijelaskan dalam ayat ini, Allah berfirman Dia menciptakan manusia dan jin semata-mata agar mereka beribadah kepada-Nya. Allah menciptakan manusia bukan hanya untuk sekedar tidur, bekerja, makan maupun minum melainkan untuk melengkapi bumi ini dan beribadah kepada-Nya.

2. Mengurus bumi. Tujuan manusia diciptakan adalah sebagai pengurus bumi dan seisinya. Hal ini tertuang dalam ayat Al Qur'an yang berbunyi: " Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguh- nya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan men- sucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Ayat 30 dari surat al-Baqarah ini adalah informasi bagi para malaikat bahwa Allah menciptakan khalifah (Adam dan keturunannya) di muka bumi. Manusia diberi derajat tinggi untuk mengatur, mengelola dan mengolah semua potensi yang ada dimuka bumi.

Tujuan penciptaan manusia sebagai pengurus bumi juga tertuang dalam surah al-An'am ayat 165 yang berbunyi: "Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Sebagai pengurus itu berarti menerima amanah untuk menjaga dan kembangkan seluruh potensi yang ada di bumi. Oleh karenanya, Sang Pencipta memberikan bekal kemampuan menggali dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemanfaatan bumi bagi kehidupan manusia. Bukan sebaliknya sebagai manusia yang pandai mengeksploitasi sumber daya alam dan meninggalkannya hanya karena motif ekonomi. Menjadi lupa memikirkan masa depan anak cucu yang menerima warisan keadaan bumi.

3. Mengetahui Kebesaran Allah Swt. Tujuan manusia diciptakan menurut Islam berikutnya adalah agar manusia senantiasa mengetahui maha kuasanya Allah Swt. Ini meliputi pemahaman bahwa seluruh alam semesta, termasuk bumi, tata surya dan seisinya terbentuk atas kuasa Allah Swt. Hal tersebut telah dijelaskan dalam surah at-Thalaq ayat 12 yang berbunyi, " Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha-Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." Kebesaran-Nya dalam menciptakan alam semesta, maka kita mesti sadar tiada arti membanggakan penguasaan ilmu kita dengan banyaknya gelar akademik. Memang kadangkala sebagai manusia yang berilmu senang berbangga atas capaian ilmunya dan lupa bahwa itu semua merupakan anugerah Sang Pencipta.

Ketiga point ini hendaknya kita resapi dan yakini serta kerjakan sesuai perintah-Nya. Sekarang kita kembali pada sikap pasrah atas ketentuan-Nya. Saatnya kita simak firman-Nya dalam surah al-Qashash ayat 68 yang berbunyi, " Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka ( manusia ) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."makna ayat ini meliputi : a. Kekuasaan menciptakan dan memilih, yang berarti seorang hamba tidak boleh ikut campur mengatur rencana-Nya. b. Memilih sendiri bukan perbuatan karena tuntutan maupun kebutuhan melainkan karena kehendak sendiri dan pilihan-Nya, artinya pilihan tersebut tidak ada pengaruh luar sama sekali. c. bagi mereka tidak ada pilihan artinya manusia tidak punya pilihan sama sekali. d. Kalimat terakhir ayat ini agar kita sangat berhari-hati karena jika mengklaim mempunya hak untuk memilih bersama Allah maka ia menjadi musyrik. Ayat ini sejalan dengan coretan syair seseorang :

Semua atas ketentuan-Nya berlaku atas dirimu.

Sedang jiwamu hanya bisa tunduk dan patuh.

Kepasrahan paripurna sangat diperlukan saat qadar terjadi, kadang seseorang tampak menerima qadar Allah secara lahiriah, namun di hatinya ada kekecewaan dan keberatan. Maka dari itu, kesediaan menerima qadar Allah harus dilakukan tanpa penolakan dan keengganan dalam hati. Semoga kita semua termasuk penulis dalam golongan yang ridha atas qadar Allah.


Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

(erd/erd)