Ikan Mola-mola Mati Terdampar Banyak Parasit, Jangan Dimakan!

Sui Suadnyana - detikNews
Rabu, 24 Nov 2021 19:25 WIB
Ikan langka mola-mola terdampar di Pantai Penarukan, Bali. (dok. Istimewa)
Ikan langka mola-mola terdampar di Pantai Penarukan, Bali. (dok. Istimewa)
Denpasar -

Balai Pengelola Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Bali, mengimbau warga tidak mengonsumsi ikan mola-mola yang terdampar. Sebab, ikan tersebut mengandung banyak parasit.

"Beberapa kali kami ikut nekropsi biasanya (ikan mola-mola mati) karena ada bakteri. Jadi kalau ini dimakan bisa bahaya, masyarakat kan tidak paham, (takutnya) dipotong-potong dan dagingnya di makan. Biasanya banyak ditemukan parasit kalau kita belah itu," kata Kepala BPSPL Denpasar Permana Yudiarso kepada wartawan, Rabu (24/11/2021).

"Jadi hati-hati kalau menemukan ini (ikan mola-mola terdampar), jangan sampai nanti parasitnya masuk ke kita kalau dimakan. Bahaya ini. Jangan sampai (dimakan)," pinta Yudi.

Seperti diketahui, ikan mola-mola yang masuk kategori ikan langka, ditemukan mati terdampar di Pantai Penarukan, Bali. Ikan itu berukuran cukup besar.

Yudi mengatakan awalnya Tim Respon Cepat BPSPL Denpasar mendapatkan informasi terkait adanya biota laut terdampar di perairan Buleleng, Bali. Tim kemudian segera menelusuri kebenaran informasi tersebut.

Tim kemudian menghubungi dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Gede Iwan Setiabudi dan Ary Kristina selaku Penyuluh Perikanan Buleleng yang langsung bergegas ke lokasi terdapatnya biota laut terdampar tersebut. Akhirnya tim mendapatkan informasi lokasi ikan tersebut ditemukan.

"Penemuan ikan terdampar ini berada di Pantai Penarukan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, pada pukul 15.00 Wita oleh seorang nelayan di Pantai Penarukan," jelas Yudi.

Menurut Yudi, dosen Undiksha Gede Iwan Setiabudi yang dibantu Satpolairud Polres Buleleng, Pokmaswas, Kelompok Nelayan, dan masyarakat mengukur biota laut tersebut. Setelah dilaksanakan pemeriksaan oleh tim, didapatkan hasil bahwa ikan tersebut memiliki panjang 196 cm dan lebar 130 cm.

Kemudian ikan tersebut memiliki ukuran sirip bawah 90 cm, sirip atas 92 cm, sirip lebar belakang 1 m, lanjang sirip 40 cm, sirip pectoral 39 cm, operculum 14 cm, lebar mata 9 cm, dan lebar mulut 15 cm.

Selain melakukan pengukuran, tim juga mengembalikan sampel bagian tubuh ikan tersebut. Hal itu dilakukan guna menganalisis penyebab kematiannya.

Setelah itu, tim kemudian menenggelamkan biota tersebut di perairan Penarukan dengan kedalaman kurang-lebih 10 meter. Penenggelaman dilakukan karena tidak ada area penguburan di wilayah tersebut.

"Karena tidak adanya area penguburan biota di sekitar lokasi area, tim melakukan penenggelaman dengan menggunakan kapal kecil (jukung nelayan) yang ditarik dan dibantu oleh masyarakat sekitar untuk ditenggelamkan dengan beban dan diikat tali," ungkap Yudi.

Yudi menegaskan hingga saat ini pihaknya belum bisa memastikan penyebab kematian ikan mola-mola tersebut. Namun kemungkinan besar biota laut itu mati terdampar karena kondisi cuaca.

"Kami belum tahu (penyebab kematiannya), atau karena gelombang lautnya lebih ekstrem cuacanya. Kami belum bisa menjelaskan. Kemungkinan besar karena kondisi cuaca," jelas Yudi.

(aik/aik)