Datangi Komnas HAM, JURKANI Minta Usut Kasus Advokat Dibunuh di Kalsel

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Rabu, 24 Nov 2021 14:57 WIB
Jakarta -

Jurkani, seorang pria yang berprofesi sebagai pengacara di Kalimantan Selatan, tewas mengenaskan akibat dibacok. Kasus tersebut kini diadukan ke Komnas HAM oleh tim advokasi yang memiliki nama serupa dengan Jurkani, yakni Perjuangan Rakyat Kalimantan Selatan Melawan Oligarki (JURKANI).

JURKANI menyambangi kantor Komnas HAM untuk meminta agar kasus pembunuhan terhadap Jurkani didalami lebih lanjut.

Pasalnya, JURKANI merasa tidak puas terhadap proses hukum yang hingga saat ini masih berjalan di Polres Tanah Bumbu. JURKANI menilai penetapan dua orang tersangka dalam kasus tewasnya Jurkani sama sekali tidak masuk akal.

"Pembunuhan atau penyerangan kepada Jurkani inilah yang disampaikan murni dengan keterangan pelaku adalah karena salah paham, karena kedua orang tersangka ini dalam kondisi mabuk, di bawah minuman keras. Ada perselisihan paham atau tersinggung, inilah yang kita ingin buktikan bahwa itu sama sekali dalil yang tidak logis dan tidak benar," ujar anggota tim advokasi JURKANI, Muhamad Raziv Barokah, kepada wartawan di Komnas HAM, Rabu (24/11/2021).

Raziv memaparkan Jurkani kala itu tengah bekerja sebagai pengacara untuk sebuah perusahaan tambang di wilayah Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Jurkani diminta menyelesaikan kasus maraknya penambangan ilegal di wilayah perusahaan tersebut.

Jurkani sempat berdialog dengan para penambang ilegal tersebut. Namun tak berujung mulus.

Akhirnya Jurkani melaporkan aktivitas penambangan ilegal itu ke Polda Kalimantan Selatan, bahkan hingga ke Mabes Polri.

Aparat kepolisian pun sempat memasang garis polisi di sekitar lokasi tambang ilegal tersebut. Namun, tak lama berselang, garis polisi tersebut dirusak oleh para penambang ilegal.

"Mabes Polri sempat turun, sempat pasang police line wilayah yang memang dimasukin penambang ilegal. Tapi, seketika Mabes Polri ini pulang, police line ini dirusak," kata Raziv.

Atas kejadian itu, Jurkani pun datang dan melihat langsung lokasi tambang itu sudah dipenuhi dengan alat berat milik para penambang ilegal. Dirinya sempat berdialog dengan para penambang ilegal itu.

"Jurkani membawa tim pengaman disewa dari perusahaan sekuriti hingga menuju di perjalanan lokasi itu dia melihat banyak alat barat milik penambang ilegal dan di situlah terjadi diskusi," terang Raziv.

Dialog itu ternyata berjalan alot. Para penambang tetap menolak pindah. Jurkani pun berangkat melapor ke Polres Tanah Bumbu.

"Intinya, Jurkani ingin melapor ke Polres Tanah Bumbu bahwa ada alat berat yang masuk ke wilayah itu," tutur Raziv.