Ortu Terdakwa Kasus Penembakan Eks Laskar FPI Meninggal, Sidang Ditunda

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 11:51 WIB
Para saksi yang dihadirkan JPU mengaku melihat pedang katana atau samurai dari hasil penggeledahan mobil eks Laskar FPI di Rest Area Tol Cikampek Km 50. (Dwi Andayani/detikcom)
Foto ilustrasi sidang unlawful killing. (Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta -

Sidang kasus pembunuhan (unlawful killing) mantan laskar FPI Ipda M Yusmin Ohorella dan Briptu Fikri Ramadhan ditunda. Hal itu karena orang tua salah satu terdakwa, yaitu Ipda M Yusmin, meninggal dunia.

"Sidang ditunda satu minggu ke depan, dan akan dibuka kembali tanggal 30 November," kata ketua majelis hakim M Arif Nuryanta, dalam persidangan di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Selasa (23/11/2021).

Salah satu anggota tim JPU, Donny, mengatakan sidang ditunda lantaran salah satu orang tua terdakwa, yaitu Yusmin, meninggal dunia. Padahal sejatinya saksi yang akan dihadirkan telah tiba di PN Jaksel, tetapi sidang tersebut ditunda dan akan dilanjutkan pada pekan depan.

"Hari ini rencananya 3 orang, termasuk saling bersaksi," kata Donny.

Ia mengungkap sejatinya salah satu saksi yang akan dihadirkan dari pihak Komnas HAM. Tetapi, karena sidang ditunda, saksi tersebut tak jadi memberikan keterangan.

Sementara itu, pengacara terdakwa, Henry Yosodiningrat, mengatakan terdakwa Ipda M Yusmin dan Briptu Fikri Ramadhan bersaudara sehingga kedua terdakwa mengantar jenazah orang tua Yusmin ke Ambon.

"Sedangkan si Fikri ternyata kami baru tahu bahwa Fikri ini saudara sepupu si Yusmin. Ibunda Yusmin dan ibunda Fikri ini adik kandung dia ikut ngantar jenazah juga. Jadi sidang ditunda hari Selasa minggu depan," ujar Henry.

Seperti diketahui, Ipda M Yusmin Ohorella dan Briptu Fikri Ramadhan didakwa melakukan pembunuhan dan penganiayaan yang menyebabkan kematian dalam kasus Km 50. Kedua polisi itu sebenarnya didakwa bersama seorang lagi, yaitu Ipda Elwira Priadi, tetapi yang bersangkutan sudah meninggal dunia karena kecelakaan.

Briptu Fikri dan Ipda Elwira pun menembak mati 4 anggota FPI itu di dalam mobil. Akibat perbuatannya, para terdakwa itu dikenai Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP subsider Pasal 351 ayat (3) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(yld/dhn)