Ini Kata Menhub agar Transportasi Publik Bisa Saling Terintegrasi

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 22 Nov 2021 20:08 WIB
Menhub Ingin Transportasi Jabodetabek Terintegrasi dan Berkelanjutan
Foto: Dok. Kemenhub
Jakarta -

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan sinergi antarpemangku kepentingan menjadi kunci utama untuk mewujudkan transportasi yang terintegrasi dan berkelanjutan di Jabodetabek. Menurutnya, dengan moda transportasi yang terintegrasi maka diharapkan mobilitas masyarakat akan semakin mudah.

"Kami bersama para pemangku kepentingan, terus berupaya menyediakan layanan transportasi perkotaan yang andal di Jabodetabek. Berbagai inovasi dan upaya untuk melakukan integrasi antarmoda terus dilakukan pemerintah, untuk menciptakan mobilitas yang mulus tanpa hambatan (seamless mobility) dan berkelanjutan bagi masyarakat," kata Budi dalam keterangan tertulis, Senin (22/11/2021).

Hal ini dia ungkapkan saat membuka Rapat Koordinasi Teknis Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) bertema 'Integrasi Transportasi Menuju Seamless Mobility' secara virtual.

Budi menilai Jabodetabek sebagai kawasan aglomerasi terbesar se-Asia Tenggara turut berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang terbilang masif dengan mayoritas usia produktif, membuat kebutuhan mobilitas menjadi tinggi. Kondisi ini dinilainya perlu diakomodir melalui penyediaan layanan transportasi yang prima.

"Dengan adanya kemudahan layanan transportasi publik, ketergantungan dan kepercayaan masyarakat pada angkutan umum akan meningkat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah (share) pengguna," tuturnya.

Sementara itu, Kepala BPTJ Polana B. Pramesti mengatakan Jabodetabek sebagai wilayah aglomerasi perkotaan terbesar di Indonesia memiliki perkiraan laju pertumbuhan penduduk sekitar 2,32-2,64% per tahun dari tahun 2020-2030.

Menurutnya, masih terpusatnya kegiatan dan perekonomian mayoritas di Jakarta itu membuat banyak masyarakat yang memilih tinggal di wilayah penyangga Bodetabek. Hal ini mengakibatkan jumlah perjalanan komuter semakin meningkat, sehingga kebutuhan pergerakan masyarakat mencapai 88 juta orang setiap hari, dari total jumlah penduduk Jabodetabek sebesar 33,83 juta jiwa.

"Pertumbuhan tersebut mendorong berkembangnya berbagai macam jenis layanan transportasi umum di Jabodetabek, seperti Bus Rapid Transit (BRT), kereta api perkotaan seperti KRL, LRT, MRT, taksi, angkutan online, dan sebagainya," kata Polana.

Lebih lanjut, Polana menjelaskan kebutuhan perjalanan penumpang serta perpindahan moda transportasi (antar maupun intra moda) tersebut belum terfasilitasi dengan baik. Menurutnya, pengembangan sistem transportasi di Jabodetabek masih terkotak-kotak, yang mengakibatkan perjalanan penumpang menjadi lebih lama, kurang nyaman, dan berbiaya lebih mahal.

Untuk itu, dia mendorong adanya dukungan dan kerja sama baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya. "Dengan sinergi yang baik, diharapkan dapat mewujudkan layanan transportasi yang seamless dan berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat Jabodetabek," tandasnya.

(akd/ega)