Lika-liku Jadi Pelaut hingga Bisa Digaji Puluhan Juta

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 22 Nov 2021 18:42 WIB
PIP Makassar
Foto: dok. Screenshot/20detik
Jakarta -

Banyak orang bercita-cita ingin menjadi pelaut. Alasannya karena gaji yang besar dan dibayar dengan dolar. Menjadi pelaut ternyata juga bisa membawa seseorang keliling dunia.

Alasan inilah yang mendorong Kelvin Tjianto Tommy untuk masuk dan menjadi taruna di Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.

"Saya termotivasi untuk menjadi taruna di PIP Makassar karena melihat kakak senior bisa keliling dunia dengan berlayar. Semua itu didapatkan dari PIP Makassar. Sekaligus ingin meningkatkan kedisiplinan. Sebelumnya saya kurang disiplin, masuk ke PIP bisa membina karakter menjadi seorang pemimpin," ujarnya dikutip dari tayangan BLU Ways PIP Makassar, Senin (22/11/2021).

Kendati demikian, perjuangan untuk mewujudkan asa mengarungi lautan dunia tidak mudah. Beberapa tahun lalu, sang ibunda meninggal karena sakit. Kehilangan sosok ibu membuatnya terpukul. Ditambah, Kelvin juga harus menjadi tulang punggung bagi adik-adik dan neneknya. Belum lagi, ia kesulitan mencari uang untuk biaya pendidikannya.

Kelvin pun berusaha bangkit dan memotivasi diri, hingga akhirnya berhasil bergabung dengan salah satu perusahaan pengiriman kontainer terbesar di dunia. Kelvin menduduki posisi ke 8 dan menyisihkan ratusan pelamar melalui rekrutmen yang digelar oleh PIP Makassar.

"Di situ saya termotivasi untuk bisa belajar lebih. Untuk mama saya, untuk bisa lolos ke perusahaan ini. Jadi saat menjalani praktik laut selama 1 tahun, dan kembali ke pendidikan. Dari hasil praktik laut dapat uang saku untuk membayar uang semester," katanya.

Selama satu tahun praktik, Kelvin mengaku mendapat uang saku USD 1.000, atau sekitar Rp 14 juta per bulan. Uang tersebut sebagian dia gunakan untuk biaya pendidikan semester. Sementara sisanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari serta membantu membayar uang SPP adiknya.

Kelvin merasa bersyukur karena ilmu yang didapat selama pendidikan di PIP Makassar sangat membantu selama praktik kerja di laut. Terutama ilmu seputar permesinan dan bahasa Inggris.

Tidak hanya uang saku, dengan mengikuti praktik laut, Kelvin secara otomatis sudah mendapatkan tempat untuk bekerja di perusahaan asal Taiwan tersebut. Gajinya tak main-main, bahkan bisa mencapai USD 3.500 atau setara Rp 50 juta.

"Saya bersyukur karena kerja sama perusahaan saya kemarin dengan PIP. Saya tidak perlu mencari perusahaan pada saat selesai dari PIP. Saya bisa langsung join. Untuk gaji sendiri cukup besar. Pada saat join lagi nanti gajinya sekitar USD 3.500 per bulan," tuturnya.

Untuk diketahui, PIP Makassar merupakan sekolah pelayaran tertua di Indonesia. Setiap tahunnya, sekolah tersebut bisa mencetak sekitar 500 taruna/taruni untuk program studi nautika, teknika, dan ketatalaksanaan angkutan laut dan kepelabuhanan dengan standar bertaraf internasional.

"Program pendidikan ada pembentukan. Ada beberapa input, ada audit, reguler, dan mandiri. Kemudian ada peningkatan, inputnya dari mereka yang sudah jadi pelaut bisa meng-upgrade kemampuan. Kemudian ada diklat keterampilan untuk mendukung kompetensi di atas kapal," ujar Kabag Administrasi Akademik dan Ketarunaan PIP Makassar, Supardi Temmu.

Sementara itu, Direktur PIP Makassar, Sukirno menambahkan pihaknya juga menggelar program sertifikasi pendukung guna meningkatkan kompetensi taruna/taruni.

"Ada sertifikat pendukung juga yang harus dikembangkan agar pelaut kita memiliki kompetensi sehingga memenuhi syarat untuk bekerja di atas kapal. Memenuhi standar kompetensi yang diharuskan oleh International Maritime Organization," pungkasnya.

(prf/ega)