DPRD Dorong BUMD Pemkot Surabaya Perbaiki Manajemen & Strategi Bisnis

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 22:09 WIB
DPRD Surabaya
Foto: Dok. DPRD Surabaya
Jakarta -

DPRD Kota Surabaya mendorong seluruh BUMD milik Pemkot Surabaya agar melakukan perbaikan manajemen dan berinovasi. Hal tersebut didorong agar mampu memberikan sumbangsih pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya.

Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Luthfiyah menilai kondisi beberapa BUMD milik Pemkot Surabaya berkinerja agak lamban atau stagnan dan memerlukan penanganan lebih serius. Ia memaparkan ada beberapa BUMD yang perlu mendapatkan perhatian lebih lantaran pengelolaan perusahaan kurang bagus dan pendapatan tidak sebanding, di antaranya PD Pasar Surya dan PD Rumah Potong Hewan (RPH).

"Terutama dengan inovasi bisnis yang ada seharusnya lebih baik. Jadi tahun depan harus bisa lebih baik," ujar Luthfiyah dalam keterangan tertulis, Selasa (16/11/2021).

Luthfiyah menegaskan, perbaikan manajemen pada PD Pasar Surya harus dilakukan agar menjadi lebih terukur sehingga memiliki kapabilitas dalam mengelola perusahaan. Ia juga menilai harusnya BUMD yang menaungi pasar tradisional se-Surabaya ini segera melakukan revitalisasi terhadap pasar-pasar yang ada di Surabaya. Sebab, lanjutnya, sejauh ini banyak pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Surya terkesan belum tertata dengan baik dan belum mampu menampung banyak pedagang.

"Yang kami sangat prihatin itu PD Pasar. Karena banyak pasar-pasar yang saat ini perlu penanganan serius. Revitalisasi pasar ini kami anggap penting karena mampu membantu pemulihan ekonomi masyarakat pasca COVID-19 di Surabaya. Misalkan pasar Tunjungan. Harapan kami di tahun 2022 ada langkah pasti untuk dilakukan revitalisasi pasar Tunjungan," kata Luthfiyah.

Lebih lanjut, Luthfiyah menyampaikan kondisi Pasar Tunjungan, tidak seharusnya dibiarkan karena ketika pasar tersebut telah direvitalisasi maka pasar ini akan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Surabaya. Apalagi pasar Tunjungan ini menjadi salah satu ikon Surabaya yang terletak di jantung kota. Ia menekankan kasus pasar tunjungan harus dikomunikasikan dan dicarikan solusinya.

"Ini harus dikomunikasikan agar bisa bangkit kembali. Jangan seolah-olah terkesan menjadi pembiaran. Kita selalu mendorong. Jalan satu-satunya, bisa bekerja sama dengan pihak ketiga yang professional yang saling menguntungkan, tidak hanya pihak ketiga-nya, tidak Pemkot-nya tetapi juga pedagangnya. Semuanya harus untung, termasuk pedagang lama harus dirangkul. Dan juga ditambah dengan pedagang baru karena selama ini banyak yang tidak tertampung karena banyak yang rusak. Kalau ini bisa menampung semuanya ini sangat bagus," tegasnya.

Luthfiyah juga mengkritisi kondisi PD RPH Pegirian. Ia mengungkapkan, ada beberapa hal yang harus diperbaiki, di antaranya adalah perbaikan di sisi internal PD RPH Pegirian. Namun hal ini membutuhkan payung hukum yang jelas berupa Peraturan Daerah (Perda) baru karena perda lama sudah tidak layak untuk mengembangkan RPH.

"Kita lihat saja biaya potong hewan di RPH murah sekali, sehingga pendapatannya tidak sebanding dengan biayanya. Oleh karena itu, untuk mengembangkan RPH butuh Perda baru. Pemkot Surabaya juga harus bisa berinovasi agar semua BUMD mempunyai pendapatan yang meningkat," ungkap Luthfiyah

Meski demikian, Luthfiyah mengapresiasi beberapa BUMD milik Pemkot Surabaya yang memiliki kinerja cemerlang. Ia menegaskan, ada 9 BUMD yang dimiliki Pemkot Surabaya. Dari jumlah tersebut, beberapa BUMD yang memiliki kinerja bagus di antaranya BPR Surya Artha Utama yang telah berinovasi menggerakkan perekonomian UMKM Surabaya, bank Jatim, Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang sudah berinovasi dan telah dibuka kembali pasca ditutup akibat pandemi serta PDAM dan PT SIER.

Sementara itu, Direktur Utama KBS Chairul Anwar mengungkapkan semenjak pandemi melanda Surabaya, manajemen KBS telah melakukan berbagai inovasi, salah satunya adalah dengan digitalisasi layanan dan ticketing. Selain untuk memudahkan pengunjung, digitalisasi layanan dan ticketing ini juga ditujukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19.

"Pada 18 Oktober kemarin kami juga telah melakukan pembaruan sistem. Saat ini, pembayaran tiket bisa dilakukan dengan QRIS atau Brizzi. Selain itu kami juga mengharuskan pengunjung dengan usia di atas 1 tahun menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk memastikan kesehatan pengunjung," ungkap Chairul.

Beberapa program sudah dijalankan sejak pandemi yang sangat variatif dan menarik, di antaranya adalah program yang mendukung kesehatan masyarakat seperti goes to zoo, jogging track dan senam bersama. Program goes to zoo atau bersepeda ke kebun binatang, yang dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu jam 06.00 WIB hingga 10.00 WIB tersebut dinilai sangat menarik.

Selain itu, lanjut Chairul, juga ada program yang juga cukup unik sebagai adaptasi pada kondisi new normal, di antaranya sport and fun, virtual family dan virtual education.

"Beberapa program yang akan kami kembangkan di tahun depan di antaranya adalah taman komodo, dan night zoo. Tetapi semuanya masih dalam proses pembahasan dan belum ada keputusan yang sudah masuk di kami. Kami juga akan menjalin kerjasama dengan beberapa lembaga konservasi yang bertujuan untuk melakukan penukaran satwa atau untuk memenuhi kebutuhan satwa lembaga tersebut," pungkasnya.

(akn/ega)