Inspiratif, Anak Muda RI Buat Inovasi Gelas Rumput Laut-Mobil Listrik

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 13 Nov 2021 20:16 WIB
Gelegar Semangat Hari Pahlawan
Foto: Screenshoot/detikcom
Jakarta -

Di era yang semakin modern dan dinamis saat ini, inovasi menjadi hal penting untuk dilakukan. Adapun inovasi dapat lahir dari berbagai persoalan yang ada, baik lingkungan, sosial, hingga ekonomi.

Founder Evoware, David Christian menjadi salah satu pemuda Indonesia yang menghadirkan sebuah inovasi menarik lewat kepeduliannya terhadap lingkungan di Indonesia. Buruknya populasi udara di Indonesia membuat David akhirnya memutuskan untuk membuat produk ramah lingkungan yang terbuat dari rumput laut.

"Indonesia banyak menggunakan plastik, tapi sedikit sekali yang di-recycle dan akhirnya mencemari lautan. Sampah plastik juga nggak bisa terurai atau bisa terurai tapi hingga ratusan dan ribuan tahun. Ketika terurai mereka berubah jadi mikroplastik yang berbahaya bagi lingkungan dan tubuh karena sering ditemukan di air minum," ujarnya dalam acara Gelegar Semangat Pahlawan yang digelar detikcom bersama BNI, Sabtu (13/11/2021).

"Produk pertama Evoware memang gelas yang bisa dimakan yang terbuat dari rumput laut. Ide pertamanya karena 2015 isu lingkungan masih belum banyak dibicarakan. Pertama kali aku pengen bikin produk yang unik dan belum ada di Indonesia sehingga masyarakat tertarik untuk membeli produknya. Dari situ terpikir bahwa cara ini akan lebih mudah mengedukasi masyarakat (soal lingkungan)," lanjutnya.

Lebih lanjut David mengungkapkan pemilihan bahan baku rumput laut juga didasari oleh kepeduliannya terhadap lingkungan. Mengingat rumput laut, kata David, dapat menyerap karbon dioksida dan sustainable yang mudah terurai.

Instagram/evowareworld Foto: Instagram/evowareworld

"Ide awalnya itu bikin gelas jelly. Tapi ternyata jelly terbuat dari gelatin atau tulang hewan sehingga nggak sustainable. Dari situ cari tahu lagi dan gelatin bisa diganti dengan rumput laut. Kebetulan Indonesia jadi penghasil rumput laut terbesar di dunia dan rumput laut sangat sustainable, dapat menyerap karbon dioksida dan release oksigen," jelasnya.

Berbeda dari David, Founder Du Anyam, Hanna Keraf melahirkan sebuah inovasi berangkat dari isu sosial yang ada di wilayah Nusa Tenggara Barat. Hanna bercerita saat itu ia mencoba untuk menyelesaikan isu sosial akses uang di NTT dengan memberdayakan wanita melalui bisnis anyaman.

"Du Anyam itu merupakan singkatan dari Dua dan Anyam. Dua itu artinya ibu, jadi Du Anyam artinya ibu menganyam. Awal mula Du Anyam kita melihat ada isu sosial, yakni akses uang tunai bagi ibu-ibu. Dan kita melihat ada keterampilan dan di sana ada bahan baku serat alam yang banyak tersedia di desa-desa NTT. Akhirnya kita mencoba mengkoneksikan pasar untuk kerajinan kriya sendiri. Jadi, inovasinya lebih menghubungkan supply dan demand yang selama ini belum terkoneksikan di daerah terpencil di Indonesia," katanya.

Meski telah menyelesaikan soal isu tersebut, Hanna menyebut hingga saat ini Du Anyam masih terus berinovasi. Salah satunya dengan melakukan adaptasi digital di tengah pandemi.

Instagram/duanyam Foto: Instagram/duanyam

"Waktu itu saya masih tinggal di NTT dan melihat sekeliling saya. Jadi saya mulai menyelesaikan isu di lingkungan sekitar. Namun, sampai saat ini Du Anyam masih harus terus berinovasi dalam menyelesaikan masalah. Salah satu contohnya tahun lalu di tengah pandemi, kami mencoba untuk mendirikan Krealogi bagaimana bisa memanfaatkan remoteness, teknologi, dan lainnya," paparnya.

Sementara itu, Indonesian Technocrats-Selo Electric Car, Ricky Elson menilai inovasi juga dapat berasal dari hal-hal kecil. Ricky mengaku awal mula dirinya terinspirasi untuk menghadirkan inovasi mobil listrik di Indonesia adalah dari hal-hal yang ia lakukan di masa kecilnya.

"Berbicara soal inovasi, pada waktu kecil kita berpikir untuk memudahkan orang sekitar dengan mencoba membuat sesuatu dengan tangan sendiri. Misalnya, ketika kita membuat mobil-mobilan, waktu itu kita mulai memperhatikan bahan untuk bannya berbentuk seperti karet. Lalu, kita berinovasi membuat ban dari sendal jepit," katanya.

"Hal-hal inilah yang memicu saya untuk kreatif dan paten-paten waktu bekerja di Jepang," tambahnya.

Meski telah melahirkan inovasi lewat mobil listriknya, Ricky mengatakan tak semua inovasi perlu dipahami dengan cepat. Terutama inovasi mobil listrik. Menurutnya, inovasi miliknya perlu proses yang panjang, kerja sama, hingga strategi agar dapat diterima oleh masyarakat.

"Waktu tahun 2012 saya kembali ke Indonesia, energi seperti panel surya dan kincir angin hanya bagian dari pembelajaran anak teknik. Begitu juga kendaraan listrik. Kami berpikir inovasi ini bukan sesuatu yang perlu dipahami segera. Karena untuk mewujudkan ekosistem butuh perjalanan panjang dan investasi yang panjang sekali," katanya.

"Apa yang kami lakukan dengan Selo, kami bukan ingin membuat pabrik kendaraan pabrik segera yang bisa dibeli masyarakat. Ini butuh proses panjang. Yang kami lakukan mengenalkan, dan ini perlu strategi dan kerja sama dengan kampus, LIPI, dan lainnya," tutupnya.

(akn/ega)