Mengenal Polsuska, Penjaga Keamanan dan Ketertiban di Kereta Api

Nurcholis Maarif - detikNews
Sabtu, 13 Nov 2021 13:23 WIB
Polsuska
Foto: KAI
Jakarta -

Jika sosok KS Tubun dikenal sebagai pahlawan kepolisian yang diabadikan sebagai pahlawan revolusi, PT Kereta Api Indonesia (Persero) juga memiliki pahlawan kepolisian yang khusus melaksanakan fungsi kepolisian di bidang perkeretaapian. Namanya disebut dengan polisi khusus kereta api atau polsuska.

Polsuska sebagai salah satu garda depan pelayanan KAI memegang peranan penting untuk membantu mewujudkan pelayanan KAI yang aman dan nyaman. Seorang petugas Polsuska memiliki tanggung jawab yang besar, di antaranya menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan kerja baik di kereta api, stasiun, objek-objek vital milik KAI,jalur KA, dan aset-aset KAI.

Dalam melaksanakan tugas pelayanan di kereta api, polsuska mempunyai kewajiban menjaga keamanan selama perjalanan di kereta api. Setiap 30 menit sekali, polsuska melakukan patroli memastikan kondisi di dalam KA terkendali dan kondusif. Sebagai salah satu garda depan pelayanan, mereka juga membantu memberikan informasi atau petunjuk kepada penumpang kereta api.

"Polsuska juga membantu kondektur dalam menangani permasalahan keamanan dan ketertiban di KA, seperti mengingatkan jika ada pelanggan yang berada di bordes dan memintanya untuk kembali ke kabin penumpang, memastikan tidak ada pelanggan yang melanggar aturan atau melakukan hal yang dapat mengganggu penumpang lain selama dalam perjalanan," kata VP Public Relations KAI, Joni Martinus dalam keterangannya, Sabtu (13/11/2021).

Diungkapkannya, ketika terjadi gangguan keamanan dalam perjalanan yang diakibatkan oleh oknum, petugas polsuska akan mengambil tindakan pertama, yaitu menangkap pelaku dalam hal tertangkap tangan, mengamankan korban dan barang bukti, serta penjagaan tempat kejadian perkara.

Di area stasiun, selain menjaga keamanan dan ketertiban, polsuska memiliki tugas untuk mengawasi atau memeriksa orang yang patut dicurigai akan melakukan perbuatan pelanggaran keamanan dan ketertiban di wilayah stasiun. Tugas selanjutnya adalah melarang orang yang tidak berkepentingan masuk ke wilayah stasiun.

Joni menambahkan bahwa di area stasiun, polsuska juga melaksanakan patroli yang dilakukan minimal setiap 60 menit sekali dan juga membantu memberikan pelayanan, petunjuk atau informasi terhadap penumpang yang akan naik atau turun dari kereta api.

Karena tugas dan tanggung jawab yang menantang, seorang petugas polsuska harus melalui pendidikan pembentukan polsuska yang dilaksanakan kurang lebih dua bulan. Pendidikan tersebut dilaksanakan oleh lembaga pendidikan KAI dan bekerja sama dengan lembaga diklat dari Polri.

Dalam menjalankan tugasnya, seorang polsuska harus melaksanakan absensi, asesmen dinas serta pemeriksaan kesehatan sebelum berdinas. Mereka juga wajib membawa masker, sarung tangan, borgol, tongkat T, buku saku, perlengkapan pribadi, rompi keselamatan, sebagai peralatan pendukung untuk melakukan penertiban atau mendisiplinkan oknum-oknum pelanggar keamanan dan ketertiban di area kerja.

Jika terjadi kejadian yang tidak biasa saat di atas KA seperti penumpang sakit, membuat kegaduhan, dan hal lainnya yang berpotensi mengganggu kenyamanan pelanggan. Polsuska dituntut memiliki respons yang tanggap dan cepat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Namun, saat melaksanakan tugas apabila ditemukan penumpang yang berprilaku tidak biasa dan membuat tidak nyaman penumpang lain, hal pertama yang harus dilakukan sebelum menegur adalah memberikan senyuman yang tulus dari hati. Selanjutnya yang dilakukan adalah memberikan penjelasan aturan yang berlaku selama perjalanan," ungkap Joko Restianto, salah seorang petugas Polsuska yang kini berdinas di KAI Divre IV Tanjungkarang.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan, setiap garda depan harus mengaplikasikan 7S (senyum, sapa, salam, sopan, santun, semangat, sopan, santun, siap melayani) dan mengutamakan kenyamanan pelanggan. Begitu juga dengan petugas polsuska. Menjadi petugas penjaga ketertiban dan keamanan memang dituntut untuk tegas, tapi hal itu dilakukan dengan tetap memperhatikan kenyamanan pelanggan kereta api.

(ncm/ega)