Roehana Koeddoes, Wartawan Wanita Pertama yang Digelari Pahlawan Nasional

Annisa Rizky Fadhila - detikNews
Senin, 08 Nov 2021 16:13 WIB
Petugas museum membersihkan koleksi foto dan penghargaan di museum pahlawan nasional Rohana Kudus, Koto Gadang, Kab.Agam, Sumatera Barat, Jumat (17/7/2020). Museum itu juga merupakan sekolah kerajinan Amai Setia yang didirikan sejak tahun 1915 oleh Rohana Kudus, wartawan perempuan pertama di Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 2018. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/pras.
Roehana Koeddoes, Wartawan Wanita Pertama yang Digelari Pahlawan Nasional -- Museum Rohana Kudus (Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta -

Roehana Koeddoes menjadi wanita pertama di Indonesia yang berkiprah di bidang jurnalistik. Dia menjadi wartawan perempuan pertama yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada November 2019.

Ditetapkannya Roehana Koeddoes sebagai pahlawan nasional berdasarkan rapat antara Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Jokowi pada 6 November 2019. Saat itu, rapat membahas usulan calon Pahlawan Nasional 2019 yang tertuang dalam Surat Menteri Sosial Rl nomor 23/MS/A/09/2019 tanggal 9 September 2019.

Terpilihnya Roehana Koeddoes menjadi kabar baik bagi Pemerintah Sumatera Barat. Saat itu, Pemprov Sumbar telah mengusulkan namanya sebagai pahlawan nasional sejak tahun 2018.

Lantas, sebenarnya siapa Roehana Koeddoes? Untuk mengenalnya, detikcom sudah merangkum biografi hingga karier beliau. Simak ulasan di bawah ini.

Profil Roehana Koeddoes

Siti Rohana atau yang lebih dikenal Roehana Koeddoes lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dia lahir tanggal 20 Desember 1884. Dia merupakan putri dari Moehammad Rasjad Maharadja Sutan dan Kiam. Ayahnya seorang Kepala Jaksa di pemerintah Hindia Belanda.

Merujuk situs padangpariamankab.go.id, Roehana Koeddoes tumbuh dalam keluarga moderat yang gemar membaca. Sejak kecil, dia memiliki akses untuk membawa buku, majalah ataupun surat kabar yang dibeli ayahnya. Hobi membaca Roehana rupanya turun dari ayahnya.

Sejak kecil, Roehana Koeddoes tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Namun, karena didikan ayahnya, di usia lima tahun Roehana sudah mampu mengenal abjad latin, Arab dan Arab Melayu.

Sejak berusia enam tahun, ayah Roehana Koeddoes pindah tugas ke Alahan Panjang sebagai juru tulis. Di sana, dia bertetangga dengan Jaksa Alahan Panjang Lebi Jaro Nan Sutan. Karena tak memiliki anak, pasangan Sutan dan Adiesa menganggap Roehana sebagai anak kandungnya.

Adiesa sering memanggil Roehana Koeddoes untuk main ke rumahnya. Di sana, Roehana juga diajari baca tulis hitung. Selama dua tahun, dia terus mendapat didikan dari Adiesa.

Usai dua tahun, Roehana Koeddoes mahir menulis huruf latin, Arab dan Arab Melayu. Menariknya, dia juga mahir berbahasa Inggris sejak usia delapan tahun.

Guna memperdalam sekaligus mengasah kemampuan Roehana Koeddoes, ayahnya rutin berlangganan buku dongeng anak terbitan Medan, Berita Ketjil. Terkadang, ayahnya juga membelikan buku cerita terbitan Singapura atau mendapat oleh-oleh buku dari rekannya yang merupakan pegawai Belanda. Sejak kecil, buku-buku tersebut menjadi teman Roehana.

Hadir Membela Nasib Perempuan

Mengutip laman Indonesia.go.id, Roehana Koeddoes mulai menyadari adanya ketidaksetaraan antara sekolah pribumi putri. Berangkat dari situ, dia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 11 Februari 1911. Sekolah ini fokus pada kaum wanita yang mengajarkan keterampilan.

Sekolah itu didirikan untuk mengangkat derajat perempuan Melayu di Minangkabau. Roehana Koeddoes mengajari mereka menulis, membaca, berhitung dan keterampilan lain seperti menyulam dan menjahit.

Perjuangan Roehana Koeddoes tak berhenti sampai di situ saja. Untuk menolong kaum wanita, dia bertekad untuk memperluas perjuangan. Hal ini dia sampaikan dan diskusikan kepada suaminya.

Kepada suaminya Roehana Koeddoes mengatakan, dirinya hendak berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan perempuan di daerah lain. Dengan begitu, dirinya bisa membantu kaum perempuan lebih banyak lagi.

Usai diskusi dan mendapatkan persetujuan suaminya, Roehana Koeddoes mengirim surat kepada Datuk Sutan Maharadja. Dia merupakan pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe di Padang, Sumatera Barat.

Dalam surat itu, Roehana Koeddoes menyampaikan keingiannya agar perempuan diberi kesempatan mendapat pendidikan layaknya seperti kaum lelaku. Dia juga mengusulkan agar Oetoesan Melajoe memberi ruang pada tulisan perempuan.

Roehana Koeddoes punya alasan tersendiri mengirim surat kepada Maradja. Kala itu, Maharadja merupakan wartawan senior yang bijaksana dan kebapakan. Siapa sangka, Maharadja justru tersentuh membaca tulisan Roehana. Dia pun rela menemui Roehana di Koto Gadang.

Saat bertemu, Roehana Koeddoes menyampaikan idenya tak hanya sebatas pemberian ruang bagi tulisan perempuan. Namun, dia juga hendak menerbitkan surat kabar yang dikhususkan untuk perempuan. Dia pun meminta bantuan karena tidak bisa meninggalkan KAS.

Roehana Koeddoes menjadi jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Informasinya dapat dilihat di halaman selanjutnya.