Fatwa Haram MUI Sulsel, Muhammadiyah Minta Pengemis Dibina

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 02 Nov 2021 08:57 WIB
Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H Dadang Kahmad
Dadang Kahmad (Dok. Muhammadiyah)
Jakarta -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengeluarkan fatwa haram memberikan uang kepada pengemis di jalanan. Menanggapi fatwa itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah meminta pemerintah setempat memberikan pembinaan kepada pengemis.

"Fatwa MUI Sulsel punya pesan yang kuat sehingga mengeluarkan fatwa seperti itu ya kita hormati, tetapi sebaiknya diimbangi dengan penyediaan sarannya penampungan mereka untuk dibina dan disantuni supaya mereka tidak dikhawatirkan oleh MUI Sulsel itu," kata Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad kepada wartawan, Senin (1/11/2021).

Di pusat penampungan atau pusat rehabilitasi pengemis itu, Dandang mengusulkan agar dilakukan pembinaan untuk meningkatkan produktivitas. Dia mengatakan uang yang diberikan kepada pengemis jalanan itu bisa dialihkan ke tempat penampungan tersebut.

"Jadi ada tempat penampungan, mereka di sana dibuat semacam pembinaan untuk berkarya untuk melakukan produktivitas apapun yang semampu mereka. Lalu mungkin sumbangan-sumbangan itu bisa disalurkan ke sana ya, ke tempat-tempat yang sudah tertampung itu," jelasnya.

Lebih lanjut Dadang mengatakan fatwa haram memberi uang kepada pengemis di jalanan itu harus dibarengi oleh pembinaan di panti sosial. Kepada pemerintah setempat, Dadang meminta agar panti sosial dimaksimalkan.

"Jadi memang fatwa itu memang harus dibarengi dengan tindakan mendirikan panti-panti jompo, panti-panti untuk menampung orang-orang yang miskin seperti itu, panti-panti sosial dari pemerintah maupun lembaga-lembaga masyarakat," sebut dia.

Selain itu, memberikan perhatian kepada orang miskin, kata Dadang, adalah salah satu ajaran agama. Akan tetapi penyaluran bantuan itu harus dilakukan dengan cara yang baik.

"Saya kurang tahu kalau tentang soal fatwa ya, tapi kalau soal sosial kita harus memberikan perhatian pada orang-orang miskin dengan cara bagaimanapun juga agar mereka tidak kelaparan, tidak kesusahan, caranya seperti apa, ya cara yang diperbolehkan ajaran agama, makanya harus ditanyakan kepada kita semua, menyantuni fakir miskin adalah perintah dari agama kita, cuma jalannya yang aman, yang baik, yang tidak melahirkan eksploitasi-eksploitasi seperti yang digambarkan oleh alasan MUI Sulsel," ujar Dadang.

Lihat juga video 'Ibu di Sulbar Berdayakan Anak Jalanan Lewat Jualan Sari Tebu':

[Gambas:Video 20detik]