Pemerintah Hapus Cuti Bersama Natal-Tahun Baru, Upaya RI Masuk Fase Endemi

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 12:36 WIB
Jakarta -

Pemerintah berupaya mencegah terjadinya gelombang ketiga virus Corona dengan meniadakan cuti bersama Natal dan tahun baru. Pasalnya, upaya ini merupakan langkah agar Indonesia bisa masuk ke fase endemi.

Hal ini pernah diungkap oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Luhut mengatakan RI harus bisa mencegah kasus Corona di masa libur Natal dan tahun baru. Jika berhasil, Indonesia bisa masuk status endemi.

Luhut awalnya mengingatkan pesan Presiden Jokowi agar dilakukan pencegahan gelombang ketiga Corona di masa libur Natal dan tahun baru. Luhut mengatakan pihaknya akan melakukan rapat.

"Presiden kembali menekankan kepada kami semuanya agar betul-betul berhati-hati dan menyiapkan seluruh langkah mitigasi apabila terjadi gelombang ketiga akibat libur Natal dan tahun baru," ujar Luhut dalam jumpa pers, Senin (18/10/2021).

"Oleh karena itu, kami akan melakukan beberapa kali rapat untuk persiapan itu, terutama mendorong penggunaan PeduliLindungi dan vaksinasi," ujar Luhut.

Jika berhasil dicegah, lanjut Luhut, status pandemi di Indonesia bisa berubah jadi endemi.

"Kalau ini terjadi saya kira kita akan bisa bagus, dan kalau kita bisa melampaui Nataru (Natal dan tahun baru) ini dengan baik pada Januari, saya pikir kita sudah masuk pada endemi. Karena pada waktu itu saya kira kita harapkan terdapat obat antivirus ini," kata Luhut.

Untuk diketahui, endemi adalah tingkat keparahan pertama penyakit. Endemi dikaitkan dengan jumlah penyakit yang ada di dalam suatu komunitas atau kehadiran konstan atau kejadian biasa pada penyakit tertentu di suatu wilayah. Salah satu contoh endemi adalah flu biasa. Artinya, jika Corona jadi endemi, Corona bisa diperlakukan seperti flu biasa.

Luhut yakin Indonesia mampu keluar dari pandemi. Dia mengatakan seluruh lapisan masyarakat harus kompak dalam penanganan COVID.

"Keberhasilan kita mengendalikan varian Delta hingga saat ini menegaskan bahwa Indonesia bisa mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan ke depan, jika kita melakukannya secara kompak. Untuk itu, saya mengajak kita semua untuk bersama-sama, bahu membahu terus menjaga agar COVID-19 tidak kembali melonjak. Tetap gunakan masker, ajak keluarga, saudara, dan teman-teman yang belum divaksin untuk segera divaksin, dan jangan lupa untuk terus secara disiplin menggunakan Peduli Lindungi," kata Luhut.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19, Alexander Ginting, menjelaskan ada beberapa indikator yang bisa jadi syarat mengatakan Indonesia endemi COVID-19. Indikator ini bisa dilihat dari faktor angka kasus, kesiapan sistem kesehatan, cakupan vaksinasi, dan perilaku disiplin masyarakat terhadap protokol kesehatan.

Sebagai contoh Alexander mengatakan tingkat kasus positif COVID-19 di Indonesia sudah harus di bawah 5 persen, yang merupakan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka rawat rumah sakit di bawah 5 orang per 100.000 penduduk per minggu, dan kematian di bawah 1 kasus per 100.000 penduduk.

Cakupan vaksinasi juga minimal sudah lebih dari 70 persen penduduk untuk dosis pertama.

"Kita berharap transmisi komunitas di (PKKM, red) tingkat satu dan respons memadai di tingkat satu akan bisa dipertahankan. Semua kabupaten/kota dan daerah aglomerasi harus kita dorong jangan sampai jatuh lagi ke dalam PPKM level 3 ataupun 4," ungkap Alexander dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, Selasa (19/10/2021).

"Jadi artinya kendatipun ada pelandaian kita tidak boleh longgar dan tidak boleh jadi abai," pungkasnya.