PPP Kritik Menag soal 'Kemenag Hadiah untuk NU', Minta Jangan Asal Klaim

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 10:34 WIB
Jakarta -

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyebut Kementerian Agama (Kemenag) merupakan hadiah dari negara untuk Nahdlatul Ulama atau NU. PPP menilai pernyataan Menag Yaqut menyederhanakan sejarah Kemenag.

"Pernyataan Menag bahwa Kemenag berdiri sebagai hadiah negara untuk NU telah mendatangkan respons negatif dari berbagai kalangan umat Islam, termasuk kalangan NU sendiri. Sebagai Waka MPR RI saya berpendapat bahwa pernyataan tersebut 'menyederhanakan' sejarah berdirinya Kemenag," kata Waketum PPP, Arsul Sani kepada wartawan, Senin (25/10/2021).

Menurut Arsul Sani, jika dibaca lengkap sejarah berdirinya Kemenag maka kesimpulannya Kemenag lahir dari proses interaksi dan komunikasi tokoh-tokoh dan elemen umat Islam lintas unsur atau organisasi. Proses itu dinilai menjadi bagian dari institusi-institusi pemerintahan kita.

"Bahkan jika kita tarik agak ke belakang lagi, perjuangan agar ada kementerian yang secara khusus mengurus keperluan umat Islam dan umat beragama lainnya sudah dimulai ketika persiapan-persiapan kemerdekaan dilakukan. Pada saat itu para tokoh-tokoh Islam berinteraksi satu sama lain," katanya.

"Mereka juga berinteraksi dengan tokoh-tokoh nasionalis. Peristiwa-peristiwa yang melatari pembentukan Kemenag ada sebagai interaksi dan bagian aspirasi baik dalam rapat maupun di luar rapat BPUPK Indonesia & PPK Indonesia," ujarnya.

Arsul bercerita memang tak bisa dipungkiri peran tokoh-tokoh NU pada saat awal kemerdekaan, oleh sebab itu menteri pertama yang mengurusi agama Islam sebelum resmi dibentuk Kemenag dalam Kabinet Presidensial Sukarno adalah KH Wahid Hasyim, ayah dari Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Sekitar tiga bulan kemudian, ketika memasuki kabinet dibawah PM Syahrir I, maka menteri urusan agama ini dijabat KH M. Rasjidi yang notabene merupakan tokoh Masyumi-Muhammadiyah. Dalam masa lima tahun pertama kemerdekaan kita, Menag ada yang dari NU, Masyumi-Muhammadiyah, Syarikat Islam, juga tokoh dari Aceh," ucap Arsul.

Hal itu semua, menurut Arsul, menunjukkan bahwa Kemenag lahir berkat perjuangan tokoh-tokoh Islam lintas unsur dan elemen umat Islam, lalu menjadi keputusan bersama dengan tokoh-tokoh nasionalis. Arsul mengakui NU punya peran, tetapi tidak pas untuk menyebut satu-satunya yang berperan, sehingga lebih bijak untuk menyampaikan bahwa berdirinya Kemenag adalah berkat dan hasil perjuangan tokoh-tokoh Islam pada era kemerdekaan.

"Sebagai elemen bangsa yang meneruskan estafet perjuangan beliau-beliau itu, maka MPR mengajak semua pihak untuk mewarisi semangat persatuan para tokoh itu dengan menjaga kebersamaan dalam penyelenggaraan urusan keagamaan, termasuk untuk saudara-saudara kita di luar umat Islam. Salah satu caranya dengan menahan diri untuk tidak terbiasa dengan menyampaikan klaim-klaim yang hanya menonjolkan kelompok manapun terkait dengan kontribusi bernegara dalam sejarah perjalanan bangsa kita," imbuhnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: