Alasan Warga Tolak Kompleks Rumah Difoto untuk Google Street View

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 20:36 WIB
Google, Google Indonesia, Ilustrasi Google Indonesia
Ilustrasi google (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET)
Jakarta -

Khairul Anam memprotes tindakan Google Street View (GSV) yang memoto kompleks rumahnya di wilayah Tangerang. Alasan Khairul menolak itu karena jalan yang digunakan hanya untuk penghuni dan tidak punya jalan tembus.

"Sekali lagi, kompleks rumah saya tidak punya jalan tembus, hanya satu gerbang, dan hanya digunakan oleh penghuni. Jadi kenapa Google dan mitranya seenaknya memotret rumah, pekarangan dan jalanan kompleks kami?" kata Khairul kepada wartawan, Minggu (24/10/2021).

Khairul menerangkan kompleks rumahnya bukan jalanan umum. Ia pun langsung meminta petugas GSV untuk menghapus foto kompleksnya itu.

Kesepakatan penghapusan foto itu pun disetujui. Namun, di hari berikutnya, Khairul mendapati kompleksnya telah masuk di Google Street View lengkap dengan detail jalan dan teras rumah.

"Lalu saya minta dia hapus hasil foto, dan dia mau karena tahu itu bukan jalan umum, kompleks saya gerbang tunggal, cuman 20-an rumah, bukan jalan umum. Kupikir masalah selesai. Ternyata kemarin dikasih orang kompleks ternyata kompleks kami masuk di Google Street View, lengkap dengan detail jalan, teras rumah, dan lain-lain," ungkapnya.

Khairul menegaskan kompleks rumahnya tidak punya jalan tembus dan hanya memiliki satu gerbang. Dia pun tidak terima dengan tindakan Google yang memotret rumahnya dan rumah penghuni lainnya tanpa izin.

"Sekali lagi, kompleks rumah saya tidak punya jalan tembus, hanya satu gerbang, dan hanya digunakan oleh penghuni. Jadi kenapa Google dan mitranya seenaknya memotret rumah, pekarangan dan jalanan kompleks kami?" kata Khairul.

Khairul menyebut petugas dari GSV itu membawa surat izin dukungan dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Surat yang diserahkan petugas GSV itu, kata Khairul, diteken oleh Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo. Surat itu diteken pada 10 Agustus 2018.

"Waktu itu ada mobil Honda HR-V masuk kompleks, lengkap dengan kamera dan lain-lain. Waktu saya tanya, dia ngakunya sudah izin satpam, yang tidak tahu apa-apa soal mobil GSV itu. Pas saya minta surat izin, dia menyodorkan surat dukungan dari deputi KSP," kata Khairul.

"Siapa yang mengeluarkan endorse itu agar @googleindonesia 'leluasa' motret sembarang tempat? Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo. Surat dukungan itu diteken 10 Agustus 2018. Surat itu kita foto juga. @googleindonesia #GoogleLanggarPrivasi," kata Khairul.

Diketahui, Eko pada tahun 2018 menjabat sebagai Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan. Namun kini, ia sudah tidak menjabat lagi.

Khairul mengatakan surat itu berupa dukungan Google untuk melaksanakan GSV dalam rangka Asian Games 2018. Khairul pun heran dan mempertanyakan kaitannya dengan kompleks yang dihuninya itu.

"Itu surat dukungan buat Google melaksanakan GSV dalam rangka mensukseskan Asian Games 2018. Apa hubungannya sama kompleks saya?" ujarnya

Khairul bertanya-tanya mengapa GSV menggunakan surat dukungan KSP untuk masuk ke permukimannya dan melakukan foto-foto dalam konteks Asian Games. Dia pun meminta Google memutus akses atau men-take down hasil pemetaan kompleks miliknya.

"Mereka juga menggunakan surat dukungan deputi KSP dalam konteks Asian Games, untuk masuk ke pemukiman mengambil foto-foto," ujar Khairul.

"Tolong PT Kelly Service Indonesia dan @googleindonesia untuk men-take down hasil pemetaan kompleks gw. Kompleks gw bukan jalan umum dan tidak ada hubungannya sama kesuksesan Asian Games yang lo jadikan alasan buat foto-foto areal nonpublik seenaknya. #GoogleLanggarPrivasi," tambahnya.

detikcom telah berupaya mengontak pihak KSP. Namun hingga berita ini terbit, belum ada respons dari pihak KSP.

(whn/eva)