Kata Mentan soal Upaya Perkuat Ketahanan Pangan-Food Estate di Daerah

Erika Dyah - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 17:33 WIB
Kata Mentan soal Upaya Perkuat Ketahanan Pangan-Food Estate di Daerah
Foto: Kementan
Jakarta -

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengimbau masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam upaya memperkuat ketahanan pangan. Hal ini ia sampaikan dalam rangka memperingati World Food Day atau Hari Pangan Sedunia (HPS) yang jatuh pada 16 Oktober setiap tahunnya.

Sebagaimana diketahui, pada Hari Pangan Sedunia tahun ini, Food and Agriculture Organization (FAO) mengambil tema 'Our Actions are Our Future - better production, better nutrition, a better environment and a better life'. Mengingat hal ini, Syahrul menyebut bahwa upaya masyarakat memperkuat ketahanan pangan tak hanya berkontribusi untuk lingkup daerah atau nasional, tapi juga dunia.

"Petani yang bekerja setiap hari menyediakan makanan buat kita adalah pahlawan pangan. Tapi kita pun bisa turut membantu mereka untuk menjaga ketahanan pangan. Kita semua bisa menjadi pahlawan pangan," ungkap Syahrul dalam keterangannya, Senin (18/10/2021).

Ia menilai peran aktif masyarakat dalam ketahanan pangan sangat penting. Apalagi upaya mewujudkan ketahanan pangan melibatkan banyak tahapan.

"Perwujudan ketahanan pangan dimulai dari produksi, memastikan nutrisinya, dan menjaga lingkungan," ujarnya.

Menurut Syahrul, setiap individu seharusnya bisa mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing. Sebab, masyarakat bisa berperan dari hal yang paling sederhana.

Pertama, Syahrul meminta masyarakat untuk memilih makanan yang sehat, lokal, dan musiman. Ia menjelaskan makanan sehat adalah pangan dengan nutrisi yang mencukupi bagi individu untuk bergerak aktif dan dapat menghindari risiko penyakit.

"Kita perlu mensyukuri Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dengan beragam jenis pangan. Kita harus memanfaatkan keragaman dan kekayaan sumber daya alam kita," jelasnya.

Lebih lanjut, Syahrul menjelaskan sebagai bagian membantu masyarakat dalam mengakses makanan sehat, pemerintah turut mendorong program diversifikasi pangan. Ia menyebutkan pihaknya mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi sumber pangan lokal, dan mengajak masyarakat untuk memahami bahwa sumber karbohidrat sangat beragam.

"Kita memiliki banyak sumber pangan lokal seperti umbian, sukun, jagung, sagu dan lainnya yang nilai gizinya setara dengan beras ataupun tepung terigu," tutur Syahrul.

Kedua, ia meminta masyarakat mempelajari cara menumbuhkan tanaman pangan di rumah. Menurutnya, ketahanan pangan dunia bisa diraih jika masyarakat memulainya dari level yang terkecil, yaitu ketahanan pangan keluarga.

"Kami berharap setiap rumah tangga bisa mengoptimalisasi sumber daya yang dimiliki, termasuk pekarangannya dalam menyediakan makanan bagi keluarga," sambungnya.

Langkah berikutnya yang tak kalah penting, Syahrul meminta masyarakat untuk menghargai makanan dan lingkungan dengan mengurangi membuang makanan.

"Mengurangi sampah makanan adalah hal yang paling sederhana tapi memiliki dampak yang sangat besar. Menurut data Bappenas, limbah makanan berdampak pada kerugian ekonomi sebesar Rp 213 triliun hingga Rp 551 triliun per tahun," bebernya.

Selain itu, Syahrul berharap masyarakat bisa mulai merencanakan menu makanan di rumah secara seksama sehingga tidak ada makanan yang menjadi limbah.

Mentan Dorong Keberhasilan Food Estate

Selain mendorong upaya memperkuat ketahanan pangan, Syahrul juga mendorong sejumlah daerah menjadi pelopor keberhasilan program food estate berbasis hortikultura. Salah satunya di Kabupaten Wonosobo dan Temanggung.

Pada kegiatan persiapan kick off food estate di Wonosobo, Jumat (15/10), Syahrul mengungkap harapannya agar kedua kabupaten ke depannya mampu menggerakkan roda perekonomian lokal maupun nasional melalui upaya ini.

"Namanya food estate itu programnya harus jelas, terkonsepsi dan mampu mengelompokkan petani ke dalam korporasi, sehingga skala ekonominya bisa diatur," kata Syahrul.

Menurutnya, kesiapan dan persiapan food estate di Wonosobo sudah sangat baik hanya saja masih butuh memperluas area. Apalagi, ia menilai kawasan tersebut memiliki potensi yang cukup besar karena berada di dataran tinggi lereng Gunung Sumbing.

"Seperti arahan bapak presiden, yang pertama itu jelas kelembagaannya, kedua, jelas marketnya, yang ketiga manajemen pengairannya bagus, kemudian menggunakan sistem modern dan yang keempat tentu mekanisasi-mekanisasi yang kita terapkan," terangnya.

Syahrul berharap program food estate memenuhi kebutuhan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mendorong peningkatan nilai. Terlebih, produk pertanian Indonesia memiliki peminat yang cukup banyak di seluruh Indonesia.

"Dari persiapan ini kita berharap sektor pertanian tumbuh secara cepat. Dan jika ini berhasil akan menjadi contoh bagi kabupaten lain yang ada di seluruh Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menjelaskan berdasarkan peta lokasinya, food estate Wonosobo memiliki luas area kurang lebih 332 hektare dan menjadi salah satu lokasi percontohan. Ia mengatakan kawasan ini juga dinilai mampu menerapkan budi daya yang lebih efisien.

"Total petani yang terlibat ada 918. Gambaran analisis usaha taninya, dengan adanya food estate ini untuk biaya produksi bawang merah yang sebelumnya Rp 98 juta diperkirakan menjadi Rp 86 juta, bawang putih yang tadinya Rp 101 juta menjadi 95 juta," jelas Prihasto.

Sementara itu, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat mengatakan bahwa program food estate hadir memberikan harapan bagi masyarakat Wonosobo. Pasalnya, harga dijamin, pasar dijamin, bahkan permodalan dijamin perbankan dengan adanya KUR.

"Kita selalu berada di garda terdepan untuk memajukan pertanian di Wonosobo. Bupati, Wakil Bupati, petani dan masyarakat hadir di sini antusias dan siap menjadikan Wonosobo sebagai salah satu lokasi food estate," pungkas Afif.

(fhs/ega)