36 SD di Bogor Mulai PTM, Ini Pesan Bima Arya Bila Ada Siswa Sakit

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 16:46 WIB
Bima Arya Tinjau PTM di SD
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Wali Kota Bogor Bima Arya meninjau pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di 2 sekolah, yakni SD Negeri Harjasari 1 Kota Bogor di Kecamatan Bogor Selatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor dan SD Mardi Waluya. Ia melihat penerapan protokol kesehatan (prokes), mulai dari penggunaan masker, batas antar orang tua, cek suhu tubuh, tempat cuci tangan, kapasitas ruang kelas hingga ruang isolasi jika ada siswa yang sakit.

Diketahui terdapat 36 Sekolah Dasar (SD) di Kota Bogor yang menggelar uji coba PTM. Dalam uji coba tersebut, hanya kelas 4, 5 dan 6 yang diperbolehkan melakukan kegiatan belajar di sekolah.

Bima mengatakan SDN Harjasari 1 menggunakan sistem 2 gelombang, pagi dan siang. Masing-masing hanya melakukan pembelajaran 3 jam. Sementara di SD Mardi Waluya menerapkan sistem hybrid, sebagian siswa masuk tatap muka, sebagian lagi daring dari rumah.

"Tadi saya tanya semua siswa, mereka antusias. Mereka lebih senang belajar di sekolah dari pada belajar dari rumah karena sudah jenuh. Ini momentumnya pas, PPKM-nya sudah di ujung, COVID-nya sudah landai, anak-anak dan orangtua juga ingin PTM," kata Bima dalam keterangan tertulis, Senin (18/10/2021).

Selain berbincang dengan murid, dia juga memberikan hadiah bagi murid yang bisa menjawab pertanyaan. Lebih lanjut Bima menjelaskan penerapan prokes di kedua sekolah sudah baik. Hanya saja dia mengingatkan agar disiapkan panduan saat siswa datang dan pulang dari sekolah.

"Saya lihat prokesnya baik, dua tempat yang saya kunjungi ini. Saya titip dua hal saja, yaitu ketika siswa siswi datang dan pulang. Serta mitigasi kalau terjadi kasus, begitu ada yang sakit seperti apa, koordinasi dengan siapa. Saya cek tadi ke siswa, mereka paham untuk langsung menyampaikan ke wali kelas dan sekolah berkoordinasi dengan puskesmas atau kelurahan terdekat. Nanti proses tracingnya berjalan," jelasnya.

Bima berharap uji coba ini berjalan dengan baik dan semua sekolah bisa segera PTM. "Nanti ketika sudah ada penurunan status lagi menjadi level dua tentunya ada kebijakan-kebijakan lagi yang menyesuaikan, nanti lama-lama semuanya bisa tatap muka kembali," katanya.

Diungkapkannya hingga saat ini perkembangan kasus COVID-19 di Kota Bogor cenderung landai. Dalam sepekan terakhir angkanya hanya bertambah 0 hingga 1 kasus per hari. Begitu pun dengan tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit.

"BOR juga sudah kembali normal, jauh di bawah saat awal COVID. Sekarang tinggal 37an orang yang sakit COVID di Kota Bogor dari yang sebelumnya mencapai 9.000an. Kalau tidak ada varian baru Insyaallah kita lebih cepat economic recovery," terang Bima.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Mardi Waluya Maria Dominika menyebut alasan penerapan sistem pembelajarannya hybrid (online dan offline) karena mengikuti aturan mengenai kapasitas ruang kelas. "Ketika pembelajaran dilaksanakan di sekolah, anak yang di rumah pun bisa mengikuti. Tapi memang sebagian murid belum diizinkan orang tua untuk tatap muka. Sehingga kami berikan opsi pembelajaran dari rumah, buat yang sudah boleh bisa ke sekolah," ujar Maria.

Ia pun mengaku siap untuk mengikuti arahan-arahan yang diberikan oleh pemerintah daerah. Utamanya terkait upaya mitigasi apabila ada siswa yang sakit.

"Arahan Pak Wali kalau ada anak yang memang terindikasi sakit, itu sesegera mungkin untuk menghubungi puskesmas atau kelurahan supaya bisa segera teratasi," katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Hanafi menambahkan 36 SD yang uji coba PTM hari ini statusnya sangat siap, baik dari sisi prokes, murid dan tenaga pengajar sudah dilakukan vaksinasi.

"PTM ini diujicobakan sementara untuk kelas 4, 5 dan 6. Siswa kelas 1, 2 dan 3 belum kami rekomendasikan. Tetapi jika kondisinya sudah memungkinkan, maka akan disesuaikan. Kita harapkan di sekolah yang diujicobakan, ada komunikasi aktif antara sekolah dengan orangtua. Kita nanti lihat sekolah yang biasa ditunggu orang tuanya, ada yang arisan, makan-makan. Nah sekarang kan tidak boleh. Itu yang perlu kita antisipasi," pungkasnya.

(fhs/ega)