Sidang Dakwaan Kasus Km 50

Jaksa Beberkan Upaya Eks Laskar FPI Rebut Senjata Polisi hingga Ditembak Mati

Dwi Andayani - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 15:01 WIB
Sidang kasus unlawful killing 4 laskar FPI (Dwi Andayani/detikcom)
Sidang kasus unlawful killing (Dwi Andayani/detikcom)
Jakarta -

Ipda Yusmin Ohorella, Briptu Fikri Ramadhan, dan Ipda Elwira Priadi (almarhum) didakwa membunuh 4 mantan anggota Laskar FPI. Keempat mantan anggota Laskar FPI itu disebut sempat melawan petugas kepolisian.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan di pengadilan, keempat orang itu seharusnya diborgol saat diamankan. Namun petugas kepolisian tidak melakukan itu.

"Yang seharusnya keempat orang anggota FPI yang sebelumnya telah melakukan pembacokan dan penembakan wajib bagi petugas keamanan khususnya dari Kepolisian RI apabila seseorang pelaku kejahatan yang tertangkap atau dalam penguasaan petugas kepolisian segera dilakukan tindakan pengamanan dengan cara diborgol atau diikat dan tidak dibenarkan atau diizinkan diberi keleluasaan kepada yang tertangkap yang diduga satu waktu akan melakukan perlawanan kepada petugas Kepolisian RI atau melarikan diri sebagaimana Peraturan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polri Nomor 3 Tahun 2011 tanggal 13 Desember 2011 tentang Tata Cara Pengawalan Orang/Tahanan," ucap jaksa saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Senin (18/10/2021).

Keempat eks anggota laskar FPI tersebut diketahui bernama Luthfi Hakim, M Reza, M Suci Khadavi, dan Akhmad Sofyan. Sedangkan terdakwa yang juga berada di dalam mobil adalah Ipda Yusmin Ohorella, Briptu Fikri Ramadhan, dan Ipda Elwira Priadi. Elwira sendiri diketahui saat ini sudah meninggal dunia karena kecelakaan.

Saat itu Ipda Yusmin mengemudikan mobil ditemani Ipda Elwira di sisi kirinya. Sedangkan Briptu Fikri duduk di kursi tengah bersama Luthfi Hakim. Lalu 3 orang lainnya, yaitu M Reza, M Suci Khadavi, dan Akhmad Sofyan, duduk di kursi paling belakang.

Sekitar pukul 01.50 WIB atau tepatnya di Km 50+200, penyerangan mulai terjadi. M Reza, yang duduk pas di belakang Briptu Fikri, mencekik Briptu Fikri, sedangkan Luthfi ikut membantu dengan berupaya merebut senjata api Briptu Fikri.

Sedangkan dua orang lainnya, M Suci Khadavi dan Akhmad Sofyan, ikut mengeroyok Briptu Fikri dengan menjambak rambutnya. Briptu Fikri juga disebut sempat meminta tolong.

Mendengar permintaan tolong, Ipda Yusmin memberikan isyarat kepada Ipda Elwira sambil mengurangi kecepatan mobil. Ipda Elwira pun melakukan penembakan di dalam mobil.

"Pada saat terjadi pengeroyokan dan adanya usaha perebutan senjata, Briptu Fikri berteriak, 'Bang, tolong, Bang, senjata saya.' Mendengar teriakan tersebut, Ipda Yusmin menoleh ke belakang dan memberikan aba-aba atau isyarat kepada Ipda Elwira dengan mengatakan, 'Wir, Wir, awas Wir,' sambil mengurangi kecepatan kendaraannya agar Ipda Elwira dengan leluasa melakukan penembakan," kata jaksa.

Ipda Elwira menembak Luthfi Hakim sebanyak 4 kali ke dada kiri hingga menembus pintu mobil. Selain itu, Ipda Elwira menembak Akhmad Sofyan sebanyak 2 kali di dada kiri.

Jaksa menyebut Ipda Yusmin seharusnya menepikan mobilnya dan menghentikan pengeroyokan itu. Namun Ipda Yusmin disebut jaksa malah memberikan keleluasaan kepada Ipda Elwira menembak ke arah para anggota FPI.

Jaksa mengatakan saat itu kondisi sudah terkendali tetapi Briptu Fikri mengambil senjatanya dan menembak mati 2 orang anggota FPI yang tersisa, yaitu M Suci Khadavi dan M Reza, yang duduk di kursi belakang. M Reza ditembak 2 kali di dada kiri, sedangkan M Suci Khadavi ditembak di dada kiri sebanyak 3 kali.

"Setelah selesainya penembakan yang dilakukan Ipda Elwira dan melihat keadaan Briptu Fikri sudah merasa aman dan terlepas dari cekikan M Reza maupun jambakan M Suci Khadavi, kemudian keadaan dan situasi di atas mobil tidak ada lagi perlawanan di mana Luthfi Hakim dan Akhmad Sofyan telah mati dan tidak bernyawa. Entah apa dalam benak Briptu Fikri tanpa rasa belas kasihan dengan sengaja merampas nyawa orang lain dengan cara melakukan penembakan kembali tanpa memperkirakan akibatnya bagi orang lain, lalu membalikkan badannya ke arah belakang sambil berlutut di kursi pada jarak hanya beberapa sentimeter saja dari M Reza maupun M Suci Khadavi," ujar jaksa.

"Senjata api yang ada di tangannya langsung menembakkan peluru tajam ke tubuh M Reza sebanyak 2 kali dan tepat mengenai sasaran yang mematikan yaitu di dada kiri M Reza sehingga dengan seketika tidak berdaya, sampai-sampai proyektil peluru tajam tersebut tembus ke pintu bagasi belakang mobil. Selanjutnya Briptu Fikri tanpa berpikir lalu mengarahkan kembali senjata apinya dan menembakkan lagi ke arah M Suci Khadavi dan tepat mengenai sasaran yang mematikan di dada sebelah kiri sebanyak 3 kali hingga proyektil peluru tajam tembus ke pintu bagasi belakang dan mengakibatkan M Suci Khadavi tidak bernyawa," sabungnya.

Akibat perbuatannya, Ipda Yusmin dan Briptu Fikri didakwa dengan Pasal 338 dan Pasal 351 ayat 3 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Keduanya didakwa melakukan pembunuhan serta penganiayaan yang membuat seseorang meninggal dunia.

(yld/dhn)