PWNU DKI Anggap Penolakan MUI-PKS soal Jalan Ataturk Berlebihan

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 13:35 WIB
Ketua PWNU DKI, Syamsul Maarif,
Ketua PWNU DKI, Syamsul Maarif,(Foto: Dok Pribadi)
Jakarta -

PWNU DKI menganggap berlebihan terkait penolakan MUI dan PKS atas wacana tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, dijadikan nama jalan di Jakarta. PWNU DKI meminta pemberian nama jalan itu dikaji secara utuh.

"Saya melihat apa yang dilakukan oleh MUI dan PKS itu reaksioner dan emosional tidak mengkaji secara komprehensif. Berlebihan penolakannya. Apalagi itu yang memberikan nama jalan dari pihak Indonesia, disampaikan oleh pihak Turki sendiri. Jadi kita hormati lah," kata Ketua PWNU DKI, Syamsul Maarif, kepada wartawan, Senin (18/10/2021).

Menurut Syamsul, Ataturk memang dikenal sebagai tokoh sekuler. Namun,menurut Syamsul, di sisi lain, ada kelebihan yang dibawa oleh Ataturk termasuk soal nasionalisme.

"Menurut saya apa yang disampaikan oleh MUI maupun PKS saya kira itu sifatnya reaksioner. Jadi menanggapi persoalan itu tidak reaksioner, harus dipahami secara komprehensif. Memang satu sisi orang banyak tidak setuju tentang pemikiran Kemal Ataturk yang sekuler tetapi sisi yang lain banyak kelebihan yang dibawa Kemal Ataturk misalnya tentang nasionalisme, melawan kolonialisme itu luar biasa," ujar Syamsul.

Syamsul menyambut baik kerja sama Indonesia dan Turki yang ditunjukkan lewat pemberian nama jalan. Syamsul lantas berbicara mengenai sosok Sukarno dan Ataturk sebagai bapak bangsa.

"Pertama saya menyambut baik kerja sama Indonesia-Turki Ini persahabatan antarnegara yang harus selalu dibina, kan dalam banyak hal termasuk di antaranya saling memberikan nama jalan, seperti misalnya Sukarno itu ada di Ankara. Nah sebaliknya Turki akan memberikan nama untuk jalan di Indonesia. Saya kira Ataturk sendiri bapak Turki, sama dengan Sukarno bapak founding fathers kita," ujar Syamsul.

Halaman selanjutnya soal kritik dari PKS dan MUI