Ombudsman: Polri Responsif Sikapi Pelanggaran Anggota, Bukti Ingin Berbenah

Tim detikcom - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 07:20 WIB
Ilustrasi Gedung Mabes Polri di Jakarta
Foto: Gedung Mabes Polri (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Ombudsman menilai Polri responsif dalam menyikapi kasus-kasus yang menjadi disorot publik saat ini. Ombudsman menyebut sikap Polri yang responsif menandakan Korps Bhayangkara ingin melakukan perbaikan.

"Sebenarnya kepolisian juga sangat responsif setiap melihat ada tindakan-tindakan yang indisipliner dari para anggotanya, dan itu menunjukkan bahwa Polri juga ingin bertindak secara profesional, ingin membenahi diri," kata Ketua Ombudsman,Mokhammad Najih kepada wartawan, Minggu (17/10/2021).

Dia pun mengatakan peran serta masyarakat dalam mengawasi kinerja polisi juga penting. Apalagi, jika menyangkut dugaan pelanggaran.

"Demikian juga itu penting masyarakat ikut terus mendorong lewat media, lewat informasi apapun, untuk ikut saling memberi masukan kepada kepolisian. Agar hal-hal seperti itu tidak boleh terjadi," tutur Najih.

Hal itu disampaikan dia saat menanggapi perihal kasus pedagang di Sumatera Utara (Sumut) yang dipukul preman dan malah dijadikan tersangka, aksi polisi 'smackdown' mahasiswa pedemo di Kabupaten Tangerang dan aksi bogem mentah polisi lalu lintas (polantas) terhadap pengendara motor di Deli Serdang, Sumut. Najih menuturkan perilaku-perilaku menyimpang aparat tak bisa ditutupi di era media sosial.

"Saya pikir perilaku-perilaku menyimpang anggota di tengah masyarakat sudah tidak bisa ditutupi, karena sekarang dengan media yang begitu cepat, arus informasi yang begitu cepat. Makanya sekarang itu kan semua komponen harus bersinergi ya, masyarakat maupun penyelenggara pelayanan publik," terang Najih.

"Tidak boleh semena-mena bertindak sendiri, tanpa memperhatikan tindakannya itu akan dilihat publik. Fungsi polisi itu kan sesungguhnya pelayanan publik," sambung Najih.

Terkait kasus dugaan ayah perkosa 3 anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), Najih mengingatkan masyarakat untuk tak serta merta mengomentari hal yang belum jelas kebenarannya. Dia juga meminta media massa cermat dan tak terpengaruh narasi-narasi di media sosial, yang dibuat pihak yang tak berkapasitas.

"Memang masyarakat juga perlu diberi pemahaman bahwa tidak serta merta mengjudge kalau informasi itu belum jelas. Media harus memberi sumbangsih ke sana, jangan ikut arus medsos yang dibuat orang-orang tidak jelas," sebut Najih.

"Untuk kasus Luwu mestinya dua yang turun. Pertama dari Bareskrim untuk menelaah peristiwa pidana yang terjadi benar atau tidak terjadi kriminal. Kedua, tentu dari Propam untuk melihat dalam kasus ini polisi sudah profesional atau belum dalam menangani kasus," lanjut Najih.

Masih kata Najih, dia juga melihat respons cepat Polri terkait kasus dugaan ayah perkosa 3 anak di Luwu Timur ini. Najih berharap di masa mendatang Polri tetap bersikap responsif terhadap kasus-kasus yang menyita perhatian publik.

"Sejauh ini, dengan Mabes menurunkan anggota ke sana, saya kira polisi sudah mulai responsif setiap melihat masalah. Kita (masyarakat) perlu, harus respons (upaya kepolisian) dengan baik. Reaksi polisi dengan cara melakukan langkah-langkah cepat, profesional itu yang kita harapkan dalam masa-masa mendatang," pungkas Najih.

(aud/fjp)