PKB Dorong Kontes Burung Kicau Jadi Cabang Olahraga di Ajang PON

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 12:59 WIB
Daniel Johan
Foto: PKB
Jakarta -

Ketua DPP PKB Daniel Johan mengusulkan agar kontes burung kicau menjadi cabang olahraga yang diakui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Ia pun mendorong agar ajang tersebut bisa diperlombakan dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

Hal itu disampaikan Daniel dalam diskusi bersama para pendiri Kicau Mania, Sabtu (16/10) di Jakarta. Menurut Daniel, kontes burung kicau bisa dikategorikan olahraga karena membutuhkan banyak gerakan serta perlu strategi dan latihan intensif.

"Sebetulnya, kategorisasi cabang olahraga adalah dialektika yang hampir abadi. Permainan kartu bridge, catur, sampai e-sport itu kan masih debatable juga," jelas Daniel dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10/2021).

"Semua itu awalnya adalah sebuah permainan, hobi, yang kita semua tahu, minim gerakan. Tapi karena dianggap membutuhkan strategi khusus kemudian masuk dalam olahraga otak. Nah dalam kontes burung kicau, gerak strategi dan latihannya malah lebih banyak dibanding permainan bridge, catur maupun e-sport," imbuhnya.

Daniel berpendapat jika kontes burung diakui sebagai olahraga akan membawa multiplier effect yang positif, seperti menambah semangat para kicau mania untuk menjaga kebugaran, melatih strategi serta ketekunan para kicau mania.

"Belum lagi dari sisi ekonomi. Saat ini saja, burung kicau telah menjadi sektor riil yang menghidupi basis ekonomi rakyat. Boleh dikata, kicau mania sudah tumbuh menjadi industri kerakyatan yang nyata. Mulai dari penangkaran, pakan, kandang, hingga event-event pertandingan yang faktanya lebih besar dari banyak cabang olahraga. Perputaran ekonominya mencapai 7 triliun (rupiah) lebih per tahun," papar Daniel.

Daniel mengulas permintaan ekspor burung kicau cukup banyak. Namun, kata dia, para pelaku industri burung kicau kesulitan untuk memenuhi permintaan ekspor akibat kebijakan-kebijakan yang kurang pro terhadap penguatan industri kerakyatan.

"Padahal bila ini berjalan maka selain ekonomi rakyat tumbuh sampai ke desa-desa karena ternak pakan maupun pengrajin kandang semuanya tersebar di desa-desa, juga akan semakin menjamin kelestarian burung-burung indonesia. Kita akan kawal hal ini di DPR agar terwujud," urai Daniel.

Dalam diskusi tersebut, salah satu pendiri komunitas Kicau Mania, Bang Boy BNR menyampaikan keresahannya mengenai kesan ketidakpedulian pemerintah terhadap para pelaku dan pecinta kicau mania. Ia menuturkan belum ada aturan yang mendukung industri burung kicau.

"Kenapa pencinta burung kicau mania hanya dilihat sebagai hobi saja oleh pemerintah. Padahal potensi ekonomi dan penguatan komunitasnya sangat positif. Tapi saat ini kami menghadapi sejumlah kesulitan-kesulitan baik dari BKSDA maupun karantina yang terlalu banyak aturan dan menghambat tumbuhnya industri ini," ujarnya.

"Kami juga berharap, pemerintah mempermudah upaya ekspor burung kicau. Bayangkan kalau sekarang perputaran domestik dalam negeri saja mencapai Rp 7 triliun per tahun, bagaimana kalau ekspornya dibuka?" pungkas Boy.

(ncm/ega)