Jubir Bantah Moeldoko Beri Uang-HP ke Ketua DPC Peserta KLB: Fitnah!

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 06:30 WIB
Juru bicara kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad.
Foto: Muhammad Rahmad. (screenshot video)
Jakarta -

Partai Demokrat menyebut kalau Moeldoko membagikan uang Rp 100 miliar dan handphone ke para Ketua DPC yang hadir di acara Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang. Juru Bicara Moeldoko, Muhammad Rahmad menepis hal itu.

"Kubu AHY telah menebarkan fitnah dan berita bohong dengan menyebut Moeldoko bagi-bagi uang dan ponsel sebelum KLB di Deli Serdang," kata Rahmad, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (16/10/2021).

Rahmad menegaskan Moeldoko tidak pernah membagikan sejumlah uang dan HP ke para Ketua DPC. Dia menilai tuduhan itu sesat dan tidak berdasar.

"Terkait pemberitaan tersebut, perlu kami tegaskan bahwa Pak Moeldoko tidak pernah membagi-bagi uang dan ponsel sebelum KLB Deli Serdang dan tidak ada satu fakta pun yang menunjukkan Pak Moeldoko membagi bagikan uang dan ponsel sebagaimana yang dituduhkan. Itu adalah karangan bebas, skenario sesat, yang dengan sengaja membuat fitnah dan berita bohong," ujarnya.

Rahmad menyebut kalau Moeldoko bukan penyelenggara dam donatur. Menurutnya, Moeldoko hanya diminta datang oleh para peserta KLB.

"KLB Partai Demokrat di Deli Serdang diselenggarakan oleh DPC, DPD dan kader-kader Partai Demokrat. Pak Moeldoko bukan penyelenggara, dan bukan pula donatur KLB Deli Serdang. Pak Moeldoko hanya diminta oleh peserta KLB untuk jadi Ketua Umum Partai Demokrat. Oleh sebab itu, kubu AHY telah memfitnah, telah menebarkan berita bohong dan telah mencemarkan nama baik seseorang yang bisa bermuara ke tindak pidana pencemaran nama baik," ujarnya.

Dia meminta Partai Demokrat mengklarifikasi pernyataan itu secara terbuka. Rahmad menilai tuduhan itu fitnah dan menyerang pribadi.

"Kami minta kubu AHY untuk segera mengklarifikasi pernyataan tersebut dan meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Indonesia, untuk tidak lagi menebarkan fitnah dan berita bohong," ucapnya.

"Kami sangat menghargai perbedaan pendapat, menghormati proses demokrasi dan hukum, tetapi tidak boleh menebar fitnah, menebar berita bohong atau menyerang pribadi. Itu adalah perbuatan tidak terpuji, tidak terdidik, dan itu adalah langkah mundur dalam berdemokrasi," lanjut Rahmad.

Simak selengkapnya di halaman berikut

Lihat juga Video: Fakta Terbaru Persidangan Partai Demokrat AHY Vs Moeldoko di PTUN

[Gambas:Video 20detik]