60 Juta Orang Sudah Download Aplikasi PeduliLindungi

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 14 Okt 2021 21:35 WIB
PeduliLindungi Tidak Bisa Checkout, Saya Harus Bagaimana?
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan, Setiadji menyatakan penggunaan aplikasi PeduliLindungi semakin meningkat. Secara total, terdapat sekitar 60 juta pengguna yang sudah mengunduh aplikasi ini dan lebih dari 70 juta kali PeduliLindungi dimanfaatkan untuk skrining masuk dengan QR Code.

Dalam Dialog Produktif Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN hari ini, Setiadji juga mengatakan setiap hari sekitar 9 juta kali aplikasi ini digunakan masyarakat untuk mengakses pusat perbelanjaan, kegiatan perjalanan dan fasilitas lainnya.

"Makin banyak wilayah yang turun level Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), maka makin luas penggunaan aplikasi ini. Kurang lebih 30 ribu titik telah dipasangkan QR Code di Jawa Bali, dan akan meluas ke Sumatera dan Kalimantan. Pertimbangan perluasan bertahap ini adalah cakupan vaksinasi, level PPKM dan tingkat penggunaan teknologi," tutur Setiadji dalam keterangan tertulis, Kamis (14/10/2021).

Ia menyatakan jika pihaknya banyak menerima masukan untuk peningkatan PeduliLindungi. Sebagai langkah pengembangan, PeduliLindungi memperluas cakupan pada 15 platform digital dari sektor ojol, perjalanan, perbankan, bioskop, pemerintah daerah, serta berbagai kementerian terkait pembukaan kegiatan.

Di sisi lain, seiring dengan dibukanya akses penerbangan internasional, PeduliLindungi berupaya melakukan integrasi dengan aplikasi internasional dengan mengikuti standar internasional, agar sertifikat vaksinasi dan hasil PCR dapat diterima secara multilateral atau bilateral.

Sebagai contoh, koordinasi dengan aplikasi Tawakal untuk Haji dan Umroh. Untuk status pengguna, status karantina juga akan ditambahkan khususnya untuk menghadapi masuknya turis asing ke Indonesia, diintegrasikan dengan layanan lain seperti imigrasi, e-Visa, juga asuransi.

Setiadji juga menegaskan tidak ada diskriminasi dalam penggunaan PeduliLindungi, bahkan WNI dengan sertifikat vaksin luar negeri juga telah difasilitasi. Bagi warga tanpa ponsel pintar, menurutnya, telah disiapkan semacam microsite untuk petugas di lapangan sehingga mereka tetap dapat melakukan skrining dan mengetahui status kesehatannya.

"Di beberapa tempat seperti bandara, kereta api, sekolah, industri; biasanya petugas yang melaksanakan cek identitas kepada yang bersangkutan (orang tanpa ponsel pintar), lalu dimasukkan NIK-nya untuk melihat statusnya," tutur Setiadji.

Kepada masyarakat, Setiadji mengimbau sebelum bepergian agar mengecek dulu status masing-masing melalui PeduliLindungi serta memeriksa apakah ada kontak erat. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir penyebaran COVID-19.

"Aplikasi PeduliLindungi ini adalah tools (alat), kita membutuhkan kedisiplinan baik dari masyarakat maupun petugas dalam penggunaannya untuk skrining," tuturnya.

Terkait peran penting PeduliLindungi, Ketua Umum KADIN, Arsjad Rasjid menjelaskan saat ini terdapat 2 perang yang tengah dihadapi Indonesia, yakni perang pandemi dan ekonomi.

"Aplikasi ini efeknya penting untuk memenangkan keduanya," tegas Arsjad.

Menurutnya, PeduliLindungi berperan penting dalam memulai kembali bisnis dan ekonomi Indonesia yang terdampak pandemi, membantu Indonesia kembali ke tingkat pertumbuhan ekonomi semula, sejalan dengan pengendalian wabah COVID-19.

Selain itu, ia mengatakan, aplikasi PeduliLindungi juga menjadi bagian dari proses adopsi revolusi industri 4.0 dan digital literasi. Berada dalam situasi new normal, penggunaan aplikasi PeduliLindungi menjadi bagian dari adaptasi kehidupan baru, terutama dalam hal teknologi.

"PeduliLindungi ini bukan semata-mata aplikasi, melainkan alat dan senjata untuk memenangkan perang melawan pandemi dan perang ekonomi. Semakin cepat kita melakukannya, makin cepat pula konektivitas kita dengan dunia. Makin banyak dari kita yang menggunakannya, makin cepat pula kita akan memenangkan perang ini untuk memulihkan kesehatan, membangkitkan perekonomian, dan akhirnya keadilan sosial akan terwujud," kata Arsjad.

Ia menekankan, KADIN siap melaksanakan implementasi aplikasi tersebut untuk kepentingan dan kesehatan bersama.

"Intinya adalah bagaimana kita membiasakan diri. Semua adalah hal baru, ini dunia baru. Tidak hanya di Indonesia, melainkan di semua negara melakukannya, dan manfaatnya juga banyak," tandasnya.

Sementara itu, dokter sekaligus public figure, Lula Kamal, mengakui dengan meningkatnya pembukaan kegiatan masyarakat, aplikasi ini sangat berguna.

Tidak hanya untuk skrining dan mengetahui penyebaran COVID-19 di berbagai lokasi, melainkan juga terdapat informasi terkait vaksinasi serta fitur teledokter yang sangat membantu masyarakat mendapatkan layanan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang kompeten.

"Kita harus banyak mengeksplor karena ada banyak fitur bermanfaat di dalamnya," tegas Lula.

Selain itu Lula menegaskan, saat bepergian di masa pandemi, penerapan Prokes dan menjaga mobilitas masih tetap diperlukan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup sehat, tidak melainkan juga untuk perlindungan kesehatan secara umum.

Sebagai informasi, pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi informasi PeduliLindungi dalam mengoptimalkan perlindungan kesehatan masyarakat, sehingga keamanan beraktivitas di ruang publik di saat pandemi, terjamin. Saat ini pengaplikasiannyapun terus disempurnakan, agar penggunaannya semakin mudah dan nyaman bagi masyarakat.

(prf/ega)