Kolom Hikmah

Mahabbah (Cinta)

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 15 Okt 2021 06:58 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Cinta adalah hubungan batiniah yang merupakan hubungan hati yang sejati dengan sang kekasih. Kerinduan yang sangat dan tunduk sepenuh hati pada sang kekasih, pada setiap masalah baik yang tampak maupun tersembunyi. Kita simak senandung syair berikut ini :

Menuju surga, jika engkau beriman
Belum beriman, jika belum saling mencintai dan mengasihi
Ruh kehidupan itu ada pada cinta kasih
Itulah pilar lestarinya umat manusia
Tahukah engkau, kekuatan grafitasi?
Dia yang bisa menahan tidak bertumbukkan bumi dan bintang-bintang

Tahukah engkau, kekuatan yang bisa menahan benturan antar manusia?
Itulah cinta kasih.
Ingatlah ada ucapan, " Jika cinta kasih mendominasi dalam kehidupan manusia, maka kita tidak memerlukan keadilan dan undang-undang."

Rawatlah perasaan cinta kasih, siramilah dengan keimanan.
Yang sanggup menganut cinta kasih, hanya yang jiwanya bersinar cahaya iman.
Wajahnya laksana rembulan yang tidak tertipu bayangan.

Kuatkanlah cintamu, dengan kerinduan yang sangat.
Akan datangnya sang kekasih.
Kekasih yang baqa'.
Cinta dan sandaranmu pada-Nya.
Laksana petik buah ketentraman.

Cinta adalah mutiara kehidupan yang dapat memberikan ketenteraman, kedamaian dan kenyamanan. Kita mencintai segala sesuatu, bahkan mencintai kesulitan dan halangan sebagaimana kita mencintai nikmat dan kesenangan. Dengan sikap cinta ini, seseorang telah menyadari betul bahwa, rintangan dan kesenangan adalah anugerah dari-Nya. Rintangan akan menumbuhkan semangat dan kekuatan untuk mengatasinya, sehingga jiwa akan bangkit dan bergerak dengan penuh semangat. Adapun nikmat dan kesenangan laksana angin yang mendinginkan dan melembutkan medan perjuangan.

Seorang mukmin dengan pengaruh akidahnya maka dia akan mencintai Allah yang memberikan kehidupan, yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu. Sebagai manusia yang mencintai keindahan, maka segala keindahan ciptaan Allah yang dilihatnya menjadikan dia mencintai Allah. Ciptaan-Nya itu penuh keindahan dan serba teratur seperti dalam firman-Nya surah al-Mulk ayat 3," Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." Dan disusul dengan surah an-Naml ayat 88 ," Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu." Kemudian diakhiri dengan surah as-Sajdah ayat 7," Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya."

Hati nurani seseorang akan mencintai siapa yang berbuat kebaikan dan berjasa kepadanya. Manakah kebaikan dan jasa yang lebih besar dalam menciptakan manusia dari tiada menjadi ada dan menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna? Manusia dilengkapi dengan kemampuan dan kesanggupan untuk menjaga dan memakmurkan bumi. Maka seseorang yang beriman akan mencintai Allah sepenuh hatinya, melebihi cinta seorang kepada kedua orang tuanya, kepada anak-anaknya, kepada pasangannya dan bahkan kepada dirinya sendiri. Mencintai sesuatu yang melebihi cintanya pada Sang Kuasa, merupakan pengingkaran terhadap penciptaan dirinya dan menuju kehinaan serta kebinasaan.

Dikisahkan bahwa seorang Tuan telah membeli seorang budak yang beriman, pada suatu saat bertanya pada budaknya, " Engkau ingin makan apakah ? Jawab budak," Apa saja yang Tuan hidangkan." Kemudian ditanya kembali, " Pakaian apakah yang kau suka?." Dijawab kembali," pakaian apa saja yang Tuan sediakan." Masih bertanya lagi," Di manakah kamar yang engkau pilih untuk istirahat?." Jawab kembali," Kamar yang Tuan sudah siapkan." Pada saat itu sang Tuan menangis sesunggukan dan dia berucap, " Seandainya cintaku kepada Tuhanku seperti cintamu kepadaku." Lalu budaknya berkata, " Apakah saya sebagai budak mempunyai pilihan ?." Lalu budak tersebut dibebaskan dan hidup bersamanya. Inilah kisah yang meneladani kita untuk mencintai pada Sang Pencipta secara paripurna tanpa menoleh sama sekali.

Berpisah dengan seseorang yang dicintai seperti orang tua, pasangan hidup, anak-anak, dan harta, kedudukan serta barang-barang kecintaannya, tidaklah mudah dan tentu membutuhkan waktu. Namun bagi seorang beriman bahwa kecintaannya terhadap itu semua tidak melebihi dari cintanya pada Sang Pencipta, maka dia akan berucap innalillahi wa innailaihi roji'un. Semoga kita semua tidak salah dalam memberikan kadar kecintaan dan hanya kepada-Mu kita akan kembali.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

(erd/erd)