Percaya Nggak Percaya, Nelayan di Kendal Bisa Dengar Suara Ikan

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Kamis, 14 Okt 2021 13:07 WIB
Salah seorang nelayan di Kendal, Jawa Tengah, konon memiliki kemampuan khusus mendengar suara ikan. Keahlian ini digunakan untuk mencari kawanan ikan sebelum ditangkap.
Foto: Andhika Prasetya
Jakarta -

Ada banyak cara yang dilakukan nelayan untuk mendapat ikan. Mulai dari menggunakan tombak, pancingan, jala, atau jebakan. Sama halnya dengan para nelayan di Dusun Bulusan, Desa Gempolsewu, Kendal yang menangkap ikan secara tradisional menggunakan jaring.

Namun uniknya, nelayan di sana memanfaatkan metode lain sebelum menebar jaring, yakni dengan mendengarkan ikan. Kusnadi menjadi salah satu nelayan di Desa Gempolsewu yang punya keahlian mendengarkan ikan. Ia menjelaskan bakat ini hanya dimiliki oleh nelayan tertentu saja.

Kusnadi bercerita awal mula dirinya bisa mendengarkan ikan saat berusia 25 tahun. Sejak kecil, ia sering menemani ayahnya saat melaut, bahkan sampai tidur di kapal. Adapun pertama kali dirinya bisa tahu suara ikan yakni saat ikut menebar jaring di laut.

"Awalnya itu ngikut-ngikut. Saya aja nggak nyangka bisa mendengar suara ikan. Saya dari mulai kelas 1 SD sudah ikut melaut, tidur di kapal. Berarti sejak tahun 90-an, sudah hampir 30 tahun (melaut). Mulai bisa dengar suara ikan itu 25 tahun. Hanya orang tertentu (yang bisa), termasuk saya itu senior." ujarnya kepada detikcom.

"Pertama tahu suara ikan karena ikut nabur jaring. Saya olah sendiri di pikiran, kalau begini (berarti) ikan sudah nempel jaring, kalau begitu berarti belum nempel," katanya.

Soal suara ikan, Kusnadi menyebut setiap jenis ikan punya suara yang hampir berbeda. Menurutnya, ikan legon atau giligan (Johnius amblycephalus) menjadi jenis ikan yang punya suara nyaring. Sementara ikan kembung (Rastrelliger spp) termasuk jenis ikan yang hampir tak ada suaranya.

"Kalau ikan yang paling kenceng itu ikan legon, gilig, suaranya 'totot totot'. kayak orang kentut. Ada juga ikan cruwa yang paling bising, tapi tototnya itu beda," katanya.

Salah seorang nelayan di Kendal, Jawa Tengah, konon memiliki kemampuan khusus mendengar suara ikan. Keahlian ini digunakan untuk mencari kawanan ikan sebelum ditangkap.Salah seorang nelayan di Kendal, Jawa Tengah, konon memiliki kemampuan khusus mendengar suara ikan. Keahlian ini digunakan untuk mencari kawanan ikan sebelum ditangkap. Foto: Andhika Prasetya

"Terus ikan kembung dia suaranya pelan. Paling kalau banyak gerombolan, lagi renang itu baru kedengaran. Suaranya 'shook shook'. Ikan layur (Trichiurus lepturus) juga nggak ada suaranya," lanjutnya.

Meski demikian, Kusnadi mengatakan dirinya perlu berada setidaknya 200-300 meter dari posisi ikan. Ia juga harus mengikuti arah ikan berenang agar mendapatkan posisi terbaik. Di samping itu, Kusnadi menyebut antara kapal dengan posisinya juga perlu sedikit jauh sehingga ia bisa mendengar ikan dengan jelas.

"Untuk dengar ikan paling telinga (harus) di dalam air aja. Paling enggak kalau cuaca tenang 200-300 meter udah dengar oh itu ikannya di arah sana, asal jangan ada kapal. Kalau ada kapal kan dengarnya malah dengar mesin. Nanti kalau posisi saya sudah pas, itu suara ikannya makin lantang," katanya.

Walaupun punya keahlian mendengar ikan, saat menjaring ikan Kusnadi mengaku tetap membutuhkan bantuan nelayan lainnya. Saat melaut, ia mengatakan dirinya bertugas sebagai 'juru arus', yang menjadi patokan saat menabur jaring.

"Pas melaut kadang kebanyakan 3 orang. Kalau nggak ada nelayan lainnya misal sakit atau bepergian, 2 orang bisa. Saat nabur jaring, nanti posisi perahu itu mengelilingi saya, posisi saya harus di tengahnya jaring. Kalau di luar jaring nanti nggak kena ikannya. Pokoknya yang buat patokan itu saya sebagai 'juru arus'," ungkapnya.

Selama melaut, Kusnadi biasanya ditemani oleh rekannya, Imam Syafii. Biasanya mereka mulai berangkat melaut sejak pagi hingga siang hari. Dalam sehari, Imam mengatakan mereka bisa mendapatkan ikan setidaknya 10 kg. Hasil penjualan ikan pun biasanya juga dibagi oleh nelayan lainnya.

Salah seorang nelayan di Kendal, Jawa Tengah, konon memiliki kemampuan khusus mendengar suara ikan. Keahlian ini digunakan untuk mencari kawanan ikan sebelum ditangkap.Salah seorang nelayan di Kendal, Jawa Tengah, konon memiliki kemampuan khusus mendengar suara ikan. Keahlian ini digunakan untuk mencari kawanan ikan sebelum ditangkap. Foto: Andhika Prasetya

"Kalau nelayan itu berangkat itu ada dari jam 3 pagi ada yang subuh, tergantung mau jam berapa. Terus berangkat melaut cari ikan, pulangnya nggak nentu kadang bisa siang, sore, kadang bisa malam tergantung pendapatan. Kalau dapatnya ikan nggak nentu, paling seenggaknya 10 kg dapet lah sehari. Dibawa pulang nanti dijualnya ke tengkulak," katanya.

Imam mengatakan sehari mereka setidaknya memperoleh hingga Rp 600 ribu dari hasil penjualan ikan. Namun, tak jarang hasil tangkapan ikan yang sedikit membuat mereka hanya memperoleh Rp 20 ribu dalam sehari.

"Pendapatannya misal jual Rp 600 ribu dipotong perbekalan dulu kayak solar, sisa Rp 500 ribu dibagi, kalau yang berangkat orang 3 dibagi 5, orangnya dapat 1 bagian, kapalnya dapat 2 bagian. Jadi, Rp 100 ribu satu orang. Kalau paling gede bisa Rp 300 ribu kadang ya lebih. Kadang pernah Rp 20 ribu," paparnya.

Untuk perlengkapan melaut, Imam mengatakan dirinya melakukan peminjaman modal Ultra Mikro dari BRI. Adapun modal ini digunakan untuk membeli perlengkapan seperti solar, jaring, dan lainnya. Dikatakan Imam, bantuan tersebut juga membantu dirinya karena memiliki bunga yang rendah.

"Awal mula pinjam Rp 1 juta kalau nggak salah sekitar Mei 2021. Yang pertama pinjam saya yang datang ke agen brilink, terus saya pinjam lagi Rp 1 juta untuk modal. Sebelumnya belum pernah minjam, baru itu. Kalau pinjaman itu terutama untuk nambah modal nelayan, beli jaring, beli solar, dan perlengkapan lainnya," katanya.

"Sangat membantu karena prosesnya mudah, bunganya juga nggak besar. Pokoknya terjangkau sekali," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/

(akn/ega)