19 Tahun Peristiwa Bom Bali, BNPT: Terorisme Kejahatan Kemanusiaan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 22:28 WIB
BNPT dan LPSK menggelar doa bersama memperingatik 19 tahun terjadinya tragedi bom Bali I di kawasan Legian pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang. (dok BNPT)
Foto: BNPT dan LPSK menggelar doa bersama memperingatik 19 tahun terjadinya tragedi bom Bali I di kawasan Legian pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang. (dok BNPT)
Jakarta -

Tragedi bom Bali I di kawasan Legian pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bersama Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menggelar doa bersama untuk korban Bom Bali di Monumen Ground Zero Legian.

Kepala BNPT, Komjen Boy Rafli Amar, mengatakan aksi sadis teroris meledakkan bom pada 19 tahun lalu itu menyisakan duka. Peristiwa itu membuat berduka seluruh masyarakat Indonesia dan dunia.

"Kejadian 12 Oktober 2002 telah membuat dunia berduka, Pulau Bali yang dikenal damai dan harmonis sebagai tempat tujuan wisata yang sangat dicintai oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara menjadi porak-poranda dalam sekejap diguncang oleh 1 ton bahan peledak yang dengan sengaja diledakkan oleh kelompok teroris," ucap Boy Rafli.

Boy mengatakan kejahatan terorisme ini harus menjadi perhatian semua pihak. Menurutnya dibutuhkan penguatan kerja sama dan kolaborasi harus bersiap dengan ancaman-ancaman terorisme.

"Hari ini mengingatkan kepada kita semua bahwa kejahatan terorisme sebagai kejahatan yang extraordinary, kejahatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan adalah sebuah peristiwa yang tentu kita harapkan tidak terulang kembali di masa yang akan datang," katanya.

"Oleh karenanya narasi-narasi yang kita bangun adalah bagaimana kita sama-sama bergandeng tangan bekerja berkolaborasi segala potensi ancaman yang ada berkaitan benih-benih lahirnya kejahatan terorisme," ucapnya.

Dia mengatakan tujuan kelompok terorisme ialah menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas di masyarakat melalui propaganda paham radikal maupun ekstremisme berbasis kekerasan.

Boy meminta Pemerintah, Organisasi Masyarakat Sipil, Pemuka Agama, Tokoh Masyarakat, dan juga masyarakat umum untuk terus berupaya mencegah penyebaran paham radikal terorisme baik yang dilakukan secara offline maupun online.

Boy mengatakan BNPT juga terus berupaya memberikan perlindungan bagi para korban terorisme, dan telah melakukan beberapa langka konkrit untuk memberikan perlindungan, pemulihan, dan kesejahteraan kepada korban, dan keluarga korban.

"Bentuk kehadiran BNPT ini dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE). Salah satu pilar RAN PE adalah perlindungan terhadap saksi dan korban dari ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah terorisme," lanjutnya.

Menurutnya kegiatan doa bersama ini dapat membangun kehidupan masyarakat yang jauh lebih baik, jauh dari kekerasan, jauh dari segala menyakiti satu sama lain. Meminimalisir kejahatan, lanjutnya, menjadi tugas kita bersama.

Turut hadir perwakilan Kedutaan Besar Perancis, Inggris, Belanda, Australia, Jepang, Selandia Baru, Seychelles, UNODC. Kedutaan Besar Amerika, Jerman, Swedia, dan Korea Selatan, juga mengikuti kegiatan secara daring.

Acara ditutup dengan menabur bunga dan menyalakan lilin di Monumen Ground Zero Legian sebagai bentuk rasa dukacita dan berdoa bersama untuk para korban.

(jbr/aud)