Eks Direktur Jasindo Didakwa Rugikan Negara Rp 7,5 Miliar

Zunita Putri - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 19:25 WIB
Sidang kasus eks Dirkeu Asuransi Jasindo
Sidang kasus korupsi eks Direktur Jasindo. (Zunita/detikcom)

Hal itu disepakati Solihah. Solihah juga diberikan tugas dan tanggung jawab untuk mengumpulkan kembali uang komisi agen yang telah dibayarkan oleh PT Jasindo kepada agen asuransi yakni Supomo Hidjazie. Selanjutnya dipergunakan untuk memberikan fee kepada pihak BP Migas dan keperluan-keperluan operasional lainnya sesuai dengan perintah Budi Tjahjono.

Singkat cerita, pada 20 Januari 2012, panitia pengadaan dari BPMIGAS mengumumkan pengadaan penutupan asuransi proyek konstruksi KKKS dan penutupan asuransi aset industri, sumur dan aset LNG BPMIGAS-KKKS tahun 2012-2014. Hasilnya, 21 Februari 2012 BP Migas benar menunjuk PT Asuransi Jasindo sebagai leader konsorsium sebagaimana kesepakatan awal.

"Selanjutnya berdasarkan perintah dari Budi Tjahjono sebagaimana kegiatan penutupan asuransi periode sebelumnya (2009-2012), maka Divisi Underwriting Oil & Gas memberikan kode sumber akuisisi '200' pada nomor polis yang diterbitkan sehingga secara administrasi keuangan polis tersebut seolah-olah diperoleh atas peran Supmo Hidjazie selaku agen, padahal pada kenyataannya untuk menjadi leader konsorsium dalam pengadaan penutupan asuransi aset & konstruksi pada BP Migas-KKKS tahun 2012-2014 di BPMIGAS tersebut adalah atas usaha dari PT Asuransi Jasindo sendiri," tutur jaksa.

Karena PT Jasindo kembali menjadi leader, Budi Tjahjono kemudian memberikan komisi agen ke Supomo secara bertahap, fee itu hanya pura-pura sama seperti Budi menunjuk Supomo seolah-lah menjadi agen padahal tidak. Saat fee agen semuanya terkumpul, jaksa menyebut Solihah meminta Supomo mengembalikan fee USD 661.136,20 secara bertahap, sedangkan sisanya USD 136,96 masih berada di rekening Supomo.

"Bahwa dari total uang penerimaan komisi kegiatan fiktif agen Supomo Hidjazieyang dikumpulkan oleh terdakwa sebesar USD 661.136,20, dimana 70% dari uang tersebut atau setidak-tidaknya sebesar USD 462.795,34 diberikan kepada Budi Tjahjono sedangkan sisanya sebesar 30% atau setidak-tidaknya sebesar USD 198,340.86 atas perintah Budi Tjahjono tetap dikuasai oleh Terdakwa," sebut jaksa.

Pengusaha Kiagus Emil Fahmy Cornain (KEFC) Juga Didakwa Komisi Fiktif

Selain Solihah, jaksa KPK juga mendakwa Kiagus Emil Fahmy Cornain (KEFC). Dia didakwa memperkaya diri Rp 1,3 miliar. Hal ini berkaitan dengan komisi fiktif agen asuransi KM Iman Tauhid Khan pada 2010-2012.

"Terdakwa merekayasa kegiatan agen dan melakukan pembayaran komisi terhadap kegiatan agen asuransi fiktif atas nama KM IMAN TAUHID KHAN pada PT Asuransi Jasindo dalam penutupan asuransi aset & konstruksi pada BP Migas-KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) tahun 2010 sampai dengan 2012," kata jaksa.

Jaksa mengatakan dia telah memperkaya diri sebesar Rp 1,3 miliar dan memperkaya Budi Tjahjono Rp 6 miliar. Atas perbuatannya, negara telah merugi Rp 8,4 miliar.

"Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, yaitu memperkaya terdakwa sejumlah Rp 1.330.668.513,27 (miliar) dan memperkaya orang lain yaitu Budi Tjahjono sebesar Rp 6 miliar yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara yaitu merugikan keuangan negara c.q PT Asuransi Jasindo sebesar Rp 8.469.842.248,16 (miliar)," tegas jaksa KPK.

Atas dasar itu, Solihah dan Kiagus didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Jo Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.


(zap/fas)