Pekan Kedua PTM di Bogor, Bima Arya Cek Prokes SMP Bintang Pelajar

Eqqi Syahputra - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 16:52 WIB
Bima Arya Cek Prokes PTM Terbatas
Foto: Pemkot Bogor
Jakarta -

Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas di berbagai tingkat sekolah di Kota Bogor memasuki pekan kedua. Wali Kota Bogor, Bima Arya meninjau pelaksanaan PTM Terbatas di SMP Bintang Pelajar Islamic Boarding School (BPIBS), Kedung Jaya, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor hari ini.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada SMP BPIBS yang dengan cepat dalam membangun sistem di antaranya penerapan prokes dan antisipasi pencegahan yang lengkap mulai dari sistem karantina, ada tim kesehatan khusus, hingga vaksinasi semua pihak.

"Tinggal bagaimana mitigasinya agar lebih cepat jika terjadi sesuatu. Jika ada yang memiliki gejala sedikit saja, tindakannya harus cepat dan harus dipisahkan," ujar Bima dalam keterangan tertulis, Senin (11/10/2021).

"Para siswanya tidak hanya diarahkan menerapkan prokes tetapi juga dibuat agar tetap happy dan diberikan motivasi agar imunitasnya tetap terjaga. Semoga sistem yang ada bisa tetap dijaga karena school boarding ini yang paling rawan," imbuhnya.

Selain itu, ia menuturkan pihak sekolah juga menyiapkan sistem isolasi. Selama mengikuti PTM para siswa tidak diizinkan untuk keluar dan para orang tua ataupun yang mengantar juga tidak diizinkan untuk masuk.

Kepala Sekolah SMP Bintang Pelajar Islamic Boarding School Mardanih menjelaskan prosedur yang diterapkan pihaknya pada intinya fokus dalam menerapkan prosedur prokes secara ketat, khususnya pada saat check in.

"Pada saat check in kita menerapkan prosedur yang sangat ketat. Sebelum anak-anak masuk, mereka menjalani double screening, H-2 tes antigen di rumah dan menjalani antigen lagi ketika sampai di sini, ini untuk menghindari keterangan negatif palsu. Orang tua mengantar secara drive thru dan tidak ikut masuk," papar Mardanih.

Lebih lanjut, Mardanih mengungkapkan para anak yang diizinkan masuk belajar tatap muka adalah yang telah melaksanakan vaksinasi tahap kedua. Pasca kedatangan, para siswa tidak langsung berinteraksi, baik dengan teman maupun dengan para tenaga pengajar, tetapi menjalani isolasi dan observasi selama 10 hari.

"Setelah menjalani isolasi dan observasi selama 10 hari kemudian tidak ada gejala kasus dan dinyatakan clear, baru diizinkan bergabung. Pelaksanaan PTM menyesuaikan arahan yang diberikan pihak berwenang," jelas Mardanih.

Mardanih menambahkan apa yang dilakukan SMP BPIBS tidak lepas dari pengalaman yang dialami pada semester lalu, di mana ada beberapa siswa SMP BPIBS yang sempat terpapar COVID-19. Menurutnya, evaluasi dan check in berkala terus dilakukan demi melindungi para siswa, tenaga pengajar dan jajaran SMP BPIBS dalam melaksanakan PTM Terbatas.

(ncm/ega)