S Siap Kasus 'Ayah Perkosa 3 Anak' Dibuka Lagi, Ungkap Istri Baru Stres Berat

Tim detikcom - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 16:09 WIB
Poster
Ilustrasi pemerkosaan anak (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

S, seorang ayah di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang dituduh memperkosa tiga orang anaknya, akhirnya buka suara. S dengan tegas membantah tuduhan itu, namun diakuinya keluarganya terkena dampak viralnya kasus ini.

S menyatakan sama sekali tidak memperkosa ketiga anak kandungnya. S menyebut difitnah oleh R, mantan istrinya.

"Itu bisa saya katakan ya dibuat-buat bagaimana menjatuhkan saya. Mungkin masih ada sisa-sisa dendam yang lalu," kata S kepada wartawan, Senin (11/10/2021).

S dan R, yang sama-sama merupakan PNS, sebelumnya memang telah bercerai. S sendiri pada 2020 telah menikah lagi. Kasus dugaan pemerkosaan ini dilaporkan R pada akhir 2019.

S mengatakan keluarganya, terutama istrinya, mengalami stres berat akibat tuduhan pemerkosaan ini. Dia berharap nama baiknya bisa dipulihkan.

"Ya kalau saya sih sudah agak mending (menghadapi hujatan) dibanding tahun sebelumnya, karena ini kan proses hukum sudah berjalan. Hanya pihak keluarga saya yang stres berat, istri. kalau saya siap menghadapinya, sabar menghadapinya walaupun ya tetap dalam kondisi ini, stres atau apa tapi nggak begitu ini, dibanding keluarga saya, keluarga baru," tutur S.

S mengaku siap mengikuti seluruh prosedur jika saja polisi memutuskan kembali membuka kasus yang sudah di-SP3 pada 2020 ini. Karena itu, S telah menunjuk kuasa hukum dalam menghadapi persoalan ini.

S Siap Kasusnya Dibuka Lagi

Agus Melas, kuasa hukum S, menyebut kliennya sejak awal kasus ini dilaporkan selalu kooperatif hingga kemudian Polres Luwu Timur menyatakan kasus ini di-SP3 karena tidak cukup bukti. Kalau memang nantinya kasus ini dibuka kembali, kliennya bakal kooperatif.

"Kalau toh itu yang dilakukan dan ada potensi untuk membuka kembali perkara ini, klien kami tetap kooperatif memberikan keterangan kalau dibutuhkan. Tetap kita mengikuti. Sejak awal, sejak dari pelaporan ini, klien kami sudah mengikuti prosedur dengan tenang dan sabar," ujarnya lewat telepon.

"Kami juga dari tim hukum terlapor menunggu dari pelapor apa sih bukti tambahan yang dimaksud itu, apa sih bukti baru yang dimaksud itu? Kami menunggu juga," sambungnya.

Terkait tuduhan pemerkosaan ini, Agus menyebut sejak awal kliennya juga bingung apa masalahnya. Namun, menurutnya, kliennya menduga-duga ini terkait dengan perceraian kliennya dengan R, mantan istrinya itu.

"Awalnya dia bingung ini masalah apa. Tapi begitu di breakdown ke belakang, oh mungkin menurut Pak S ini ada unsur sakit hati yang sifatnya terlalu privat dalam hubungan rumah tangga mereka kemarin," sambungnya.

"Ada beberapa rentetan kejadian sebenarnya. Proses perceraiannya Pak S dengan si ibu ini, itu juga prosesnya tidak begitu... pokoknya ceritanya nggak bagus lah. Terlalu privat. Tapi tadi disampaikan Pak S ke saya, oh ternyata seperti itu. Proses perceraiannya itu ada tuduhan selingkuh lah, namun tidak dapat dibuktikan juga. Terus mungkin saja, tapi ini subjektif ya, bahwa mungkin saja Pak S menganggap mantan istrinya ini cemburu dengan keadaan Pak S sekarang,"sambung Agus panjang lebar.

Agus menambahkan, saat itu ketiga anak ini dalam penguasaan R. Karena itu, dia menyebut bisa saja ketiga anak tersebut diajari atau diarahkan membuat pengakuan-pengakuan.

Polri Didesak Buka Lagi Kasus ini

Seperti diketahui, banyak pihak mendorong agar Polri membuka lagi penyelidikan kasus ini. Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas LBH Makassar Resky Pratiwi menyatakan sejak awal ada banyak kejanggalan dalam penanganan kasus yang di-SP3 pada awal 2020 ini.

Menurut Resky, setelah kasus ini dilaporkan ke Polres Luwu Timur pada 9 Oktober 2019, ibu kandung korban dan korban tidak didampingi pendamping hukum saat dilakukan berita acara pemeriksaan (BAP) untuk penyelidikan.

"Kenapa BAP anak (korban) dengan BAP-nya ibu kandung korban penting, karena itu kan yang menjadi dasar proses penyelidikan, jadi harus betul-betul ada bantuan hukum yang masuk supaya keterangan yang diberikan juga bisa membantu, mendukung untuk pembuktian," ujar Resky.

Resky juga menyebut ada luka lecet atau tanda-tanda kekerasan pada dubur/anus ketiga anak-anak yang diduga menjadi korban, berbeda dengan pernyataan polisi yang menyatakan hasil visum ketiga anak ini, baik di Puskesmas Malili maupun di RS Bhayangkara Makassar, tidak mengalami luka di dubur dan vagina.

Resky menegaskan, LBH Makassar sebagai pendamping pelapor juga sudah memberikan kepada polisi sejumlah foto dan video terkait luka di alat vital korban yang diduga akibat pemerkosaan.

"Sebenarnya ada foto-foto yang kami setorkan ke Polda, foto-foto luka, kemerahan, terus video juga ada, video di mana anak-anak itu mengeluh sakit. Dan setelah peristiwa itu memang anak-anak ini berobat ke rumah sakit secara rutin, itu berobat terkait sakit yang dialami di area dubur dan vagina," ungkapnya.

Selain itu, lanjut Resky, ada hasil laporan psikolog anak yang menerangkan bahwa anak-anak yang menjadi korban bercerita soal kejadian kekerasan seksual yang dialami. Dalam laporan itu disebutkan bahwa pelaku kekerasan seksual lebih dari 1 orang. Hasil laporan psikolog ini juga telah diserahkan ke Polda Sulsel.

LBH Makassar juga menegaskan, hasil asesmen P2TP2A Luwu Timur yang menjadi salah satu dasar polisi menghentikan kasus ini tidak bisa dijadikan dasar.

"Kami menganggap tidak bisa dijadikan dasar untuk penghentian penyelidikan karena sejak awal ada maladministrasi dan kecenderungan keberpihakan petugas P2TP2A Luwu Timur, sehingga asesmen yang diberikan juga tidak objektif," ungkap Resky.

"Sejak awal kan pelakunya dipanggil datang, jadi sudah maladministrasi. Jadi semestinya untuk kasus seperti ini tidak dipertemukan, dilindungi dulu pengadunya. Ini justru dipanggil, dipertemukan," lanjutnya.

Dia juga membantah soal kedekatan para anak yang menjadi korban dengan pelaku yang merupakan ayahnya sendiri.

"Kalau justru dibilang, 'oh anak-anaknya menghambur ke bapaknya, tidak mengalami trauma,'. Kalau dari keterangan psikolognya para anak di P2PT2A Makassar, tidak selalu kekerasan seksual itu hasilnya trauma, bisa juga gejala psikologis yang lain, atau bisa juga munculnya belakangan. Jadi maksudnya itu tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa," tegasnya.

Simak di halaman selanjutnya terkait upaya Polri dalam menangani kasus viral ini....