Jazilul: Santri Harus Melek Digital, Kuasai Sains, dan Teknologi

Khoirul Anam - detikNews
Sabtu, 09 Okt 2021 12:42 WIB
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid meminta para santri untuk melek digital, terutama di era perkembangan teknologi informasi saat ini. Hal ini disampaikan Jazilul dalam Musyawarah Kerja Nasional IV Halaqoh BEM Pesantren Se-Indonesia bertajuk 'Representasi Mahasantri yang Inovatif Menyambut Era Bonus Demografi' dan Launching Pesantren Digital di Pondok Pesantren Darul Ma'arif, Indramayu, Jawa Barat, pada Jumat (8/10).

"Tantangan hari ini, santri harus melek digital, santri harus menguasai sains, dan santri harus menguasai teknologi," ujar Jazilul dalam keterangannya, Sabtu (9/10/2021).

Ia memaparkan, bonus demografi harus menjadi peluang dan bukan sebaliknya, yakni menjadi persoalan baru.

"Saya salut BEM Pesantren mengangkat tema soal bonus demografi, menjadi jelas tantangan kita ke depan salah satunya adalah tingkat pengangguran, kemiskinan jika kita tidak mampu mengelola sumber daya yang ada, utamanya sumber daya manusia (SDM)," paparnya.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini meminta agar SDM pesantren terus ditingkatkan, terutama di bidang sains dan teknologi.

"Kalau BEM Pesantren soal dalil mungkin cukup hafal. Dalil-dalil agama lengkap, tapi sains dan teknologi ini masih belum. Oleh sebab itu, di pesantren jangan ada dikotomi antara agama dengan pelajaran umum," urainya.

Selain itu, ia mengapresiasi BEM Pesantren yang meluncurkan Pesantren Digital. Artinya, kalangan santri saat ini sudah selangkah lebih maju dibandingkan orang-orang dahulu yang berjuang dengan menggunakan bambu runcing

"Sekarang anak-anak kita berjuang cukup dengan jempol dan jari. Hari ini semua setelah pandemi ini bahwa dunia ini tidak mampu lepas dari apa yang disebut dengan dunia digital. Semua pedagang digital, belajar digital, ini tadi di Indramayu pemerintahan juga menggunakan digital," katanya.

Ia juga berpesan agar tidak takut, ragum dan minder dalam menghadapi persaingan global.

"Karena seringkali santri itu minder, kurang percaya diri untuk berkiprah, untuk maju, untuk bersaing, fastabiqul khairat dengan kelompok-kelompok yang lain. Padahal cukup dibina mental, cukup ilmunya, tetapi terkadang rasa percaya dirinya kurang," tuturnya.

Dengan diluncurkannya Pesantren Digital, kata Jazilul, santri harus memiliki kepercayaan diri untuk berkiprah di dunia mana pun, baik di bidang politik, wirausaha, pertanian, pariwisata, dan bidang-bidang lainnya.

"Di semua sektor, santri harus ada di situ, bukan hanya di madrasah dan pesantren-pesantren saja. Hari ini terus terang di dunia usaha minim sekali. Kalau di politik, KH Ma'ruf Amin, kepalanya santri, menjadi wakil presiden. Tetapi kalau di kalangan usaha, minim sekali kader-kader santri yang menjadi pengusaha besar," katanya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, teknologi dan pemberdayaan ekonomi harus menjadi tantangan yang bisa dipecahkan kalangan pesantren ke depan.

"Silakan yang mau berpolitik monggo, itu halal. Jadi pengusaha juga halal, penceramah juga. Kita bersaing dengan keadaan hari ini dengan nilai-nilai kesantrian," katanya.

Menurutnya, kiprah santri harus maksimal. Sebab, dalam sejarahnya pesantren lebih dulu lahir dibanding NKRI. Pesantren juga merupakan lembaga pendidikan yang paling awal berdiri di Indonesia.

"Di dunia tidak ada Hari Santri Nasional kecuali di Indonesia, tidak ada UU Pesantren, dan tidak ada BEM Pesantren kecuali di Indonesia. Masalahnya kiprah sejarah yang sepanjang itu apakah sudah mampu menjawab kiprah santri, ini adalah tantangan yang masih harus terus diperjuangkan," katanya.

Simak juga 'Semangatnya Para Santri di Kendal Belajar Bikin Pesawat Aeromodelling':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)