Koster Curhat ke Yasonna soal Aturan Minuman Alkohol-Garam Beryodium

Sui Suadnyana - detikNews
Sabtu, 09 Okt 2021 00:06 WIB
Gubernur Bali, Wayan Koster
Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster (Dok. Kemenkumham)
Badung -

Gubernur Bali, Wayan Koster, meminta Menkumham Yasonna Laoly membenahi sejumlah aturan. Koster mengatakan ada beberapa aturan dari pusat yang tidak sesuai dengan aktivitas masyarakat di Bali.

Awalnya, Koster mengatakan dia telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali yang melegalkan arak Bali. Menurut Koster, Pergub itu melabrak ketentuan Perpres.

"Nah Ini mohon izin Pak Menteri, saya terobos, saya keluarkan Peraturan Gubernur, ini ada Perpres yang melarang itu Pak," kata Koster saat menghadiri peluncuran Perseroan Perorangan di The Westin Resort, Kawasan Pariwisata The Nusa Dua, Bali, Jumat (8/10/2021).

"Padahal mirasnya boleh impor, minuman kita enggak boleh diminum. Ini kan lucu, ini pasti regulasi yang enggak bener. Pengalaman kita di DPR lah itu. Nah yang begini-begini mesti diberesin Pak, dirapihin Pak," pinta Koster ke Yasona Laoly.

Menurut Koster, Pergub tentang Tata Kelola aminuman Fermentasi dan atau Destilasi Khas Bali itu mendukung ekonomi rakyat. Sebab, banyak wilayah di Bali ditumbuhi oleh pohon-pohonan yang menghasilkan tuak dan bisa diolah jadi arak.

Menurutnya, daerah-daerah yang ditumbuhi pepohonan tersebut kering dan biasanya ada di pegunungan. Dengan tumbuhnya pohon tersebut, maka dijadikan sebagai sumber penghidupan masyarakat Bali.

"Kalau itu dilarang, orang mau hidup dari mana untuk memenuhi kebutuhannya. Padi enggak tumbuh di situ, bagaimana mungkin kita maksa makan beras di sana orang dia enggak tumbuh," terangnya.

Wayan Koster Bersama Yasonna di BaliKoster Curhat ke Yasonna soal Aturan Minuman Alkohol-Garam Beryodium Foto: Wayan Koster Bersama Yasonna di Bali (Dok Kemenkumham)

Koster menilai seharusnya pemerintah tidak mejauhkan sumber kehidupan masyarakat dengan alamnya. Semestinya, masyarakat didekatkan dengan sumber alam yang dimilikinya.

"Apa yang ada di alamnya, itulah yang dijadikan sebagai sumber penghidupannya yang secara turun temurun sudah diwariskan oleh leluhur kita," tegas Koster.