ADVERTISEMENT

Owa Siamang Bupati Badung Bali Dipindah ke Pusat Rehab Satwa di Sumbar

Sui Suadnyana - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 12:05 WIB
Bupati Badung Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan Owa Siamang (Symphalangus syndactylus) ke BKSDA Bali.
Owa Siamang Mimi yang sempat dipelihara Bupati Badung Bali (Foto: Dok BKSDA Bali)
Denpasar -

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali melakukan translokasi satwa Owa Siamang (Symphalangus syndactylus) yang sempat dipelihara Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta. Satwa itu ditranslokasi ke Pusat Rehabilitasi Satwa Kalaweit Sumatera Supayang di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Satwa bernama Mimi itu ditranslokasi bersama 1 Owa Siamang lainnya yang diserahkan oleh masyarakat yang namanya dirahasiakan oleh BKSDA Bali. Karena itu, pihak BKSDA Bali melakukan translokasi dua satwa Owa Siamang sekaligus.

"Satwa Siamang dengan umur diperkirakan ±1 tahun (jantan) dan bayi umur ±2 bulan betina adalah hasil penyerahan sukarela dari masyarakat," kata Kepala BKSDA Bali Raden Agus Budi Santosa dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (8/10/2021).

Kedua satwa tersebut awalnya diterima oleh BKSDA pada 13 dan 15 September 2021. Setelah diterima, kedua Owa Siamang itu kemudian dititiprawatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan sejak tanggal 15 September 2021.

Agus menjelaskan, pelepasliaran ke habitat alaminya merupakan opsi utama bagi berbagai satwa hasil sitaan dan penyerahan masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya harus didukung dengan kajian habitat terkait sebaran geografis, ketersediaan pakan, pesaing/kompetitor, predator serta jaminan keamanan dari kegiatan perburuan liar.

BKSDA selaku pihak otoritas pengelola telah berkoordinasi dengan Balai KSDA Sumatera Barat untuk memastikan kelayakan sarana prasarana dalam rangka rehabilitasi 2 ekor Owa Siamang di Pusat Rehabilitasi Satwa Kalaweit Sumatera Supayang-Provinsi Sumatera Barat sebelum ditranslokasikan.

BKSDA Bali juga telah mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan terkait keterangan sehat dan perilaku satwa, seperti melaksanakan uji pengambilan sampel darah dengan metode uji rabies elisa antibodi. Sebab Owa Siamang adalah sejenis primata yang bisa menjadi salah satu hospes pembawa virus rabies.

"Dari hasil uji rabies elisa antibodi dinyatakan bahwa 2 ekor Siamang bebas rabies. Selain hasil rabies elisa antibodi yang negatif, satwa Siamang tersebut juga telah mengantongi sertifikat kesehatan (health certificate) dari Karantina Pertanian Kelas I Denpasar berdasarkan pemeriksaan dari laboratorium karantina hewan," terang Agus.

Kemudian, dokumen administrasi lainnya terkait surat angkut satwa telah dilengkapi dengan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN) serta Berita Acara Penyerahan Satwa Liar dari Balai KSDA Bali Ke Balai KSDA Sumatera Barat.

"Translokasi akan dilakukan menggunakan moda transportasi darat dengan kerjasama antara BKSDA Bali, Jaringan Satwa International (JSI) dan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS)-Tabanan," jelas Agus.

Simak juga 'BKSDA Sultra Temukan 9 Jerat di Kawasan Konservasi Satwa':

[Gambas:Video 20detik]



Selama perjalanan satwa akan didampingi oleh petugas BKSDA Bali, dokter hewan/tenaga medis dan perawat satwa dari PPS Bali-Tabanan yang menangani satwa selama ini. Satwa diangkut dengan menggunakan kandang angkut/transpor sesuai standar animal welfare sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri LHK Nomor : P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2019 tentang Spesifikasi Teknis Kandang Transpor dan Kandang Transit Satwa Liar.

"Teknis perlakuan satwa selama perjalanan nanti adalah kedua satwa tetap ditempatkan di dalam kabin mobil karena untuk satwa yang bayi akan dipangku karena masih memerlukan pendampingan untuk diberikan susu formula setiap 2 jam sekali," paparnya.

Sebagaimana diketahui, Owa Siamang termasuk salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang perubahan kedua atas Permen LHK Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi undang-undang.

Oleh IUCN, Owa Siamang termasuk dalam daftar satwa "Redlist" dengan status konservasi endangered atau terancam punah sejak tahun 2008. CITES juga memasukkan siamang kedalam daftar Apendiks I yang artinya primata berlengan panjang ini tidak boleh diperdagangkan.

(lir/lir)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT