HUT TNI Ke-76, HNW Ingatkan Kisah Perjuangan Jenderal Soedirman

Eqqi Syahputra - detikNews
Selasa, 05 Okt 2021 22:08 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengatakan peran umat Islam membela bangsa dan negara, meninggalkan jejak yang sangat jelas. Hari ini, bertepatan dengan HUT TNI ke-76, misalnya, bangsa Indonesia mencatat dengan tinta emas jasa Bapak Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman.

Jenderal Soedirman merupakan seorang muslim yang taat. Dia adalah seorang santri, anggota Pemuda Muhammadiyah, dan juga guru di sekolah Muhammadiyah. Pada saat para pemimpin Indonesia ditangkap Belanda, Soedirman memimpin perang gerilya, untuk melawan claim sepihak dari penjajah yang menyatakan bahwa mereka sudah menguasai Indonesia, dan Indonesia sudah tidak ada.

Soedirman beserta pasukannya sukses menyulitkan tentara Belanda. Berkali-kali, Soedirman yang kala itu ditandu oleh prajuritnya karena sedang sakit, lolos dari sergapan kolonialis Belanda. Sampai satu hari, Soeparjo Rustam, salah satu ajudannya, penasaran dan memberanikan diri mengajukan pertanyaan, rahasia di balik keberhasilan Soedirman meloloskan diri dari sergapan Belanda.

"Pertama karena tidak pernah batal, dan selalu memiliki wudhu, sehingga selalu terjaga kesuciannya, sementara Allah mencintai hambanya yang bertobat dan selalu mensucikan diri. Kedua adalah salat tepat waktu. Salat tepat waktu adalah amal paling baik, yang disukai Allah. Ketiga ikhlas berjuang tanpa pamrih, padahal pahala ikhlas atau ihsan, itu langsung dari Allah," kata HNW dalam keterangannya, Selasa (5/10/2021).

Pernyataan itu disampaikan Hidayat Nur Wahid secara daring saat mengisi acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kerja sama MPR dengan Yayasan Ulil Al-Bab Batam. Acara tersebut berlangsung di Aula Pusat Informasi Haji (PIH) Provinsi Kepri, Jl. Engku Putri, Batam.

Belajar pada sosok Jenderal Soedirman, menurut HNW sepantasnya umat Islam senantiasa turut menjaga dan melestarikan hasil-hasil kesepakatan yang diambil para Bapak Bangsa. Termasuk kesepakatan tentang Pancasila sebagai dasar dan Ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan bhinneka tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Apalagi, bangsa Indonesia sudah mengalami dua kali pengalaman buruk terkait Partai Komunis Indonesia. yaitu peristiwa Madiun pada 18 September 1948 dan pemberontakan G 30 S PKI tahun 1965. Kedua pemberontakan itu bertujuan mendirikan negara komunis dan menggantikan dasar serta ideologi Pancasila dengan komunisme.

"Pada peristiwa pertama banyak ulama, santri, pesantren dan masjid yang menjadi korban kekejaman PKI. Mereka juga sudah memproklamirkan berdirinya Negara Rapublik Soviet Indonesia. Sedangkan pada 1965, PKI melakukan pemberontakan, penculikan serta pembunuhan yang menyebabkan tewasnya tujuh Pahlawan Revolusi," katanya menambahkan.

Saat ini pengaburan tentang kekejaman PKI, kata HNW, sudah mulai bisa dirasakan. Bahkan kerap muncul gerakan-gerakan sebagaimana yang terjadi sebelum pemberontakan PKI pada 1948 dan 1965. Seperti kekerasan terhadap ulama, yang pelakunya kerap divonis gila.

"Peristiwa terakhir bahkan terjadi di Batam. September lalu, Ustad Abu Syahid Chaniago, yang tengah berceramah di siang hari, tiba-tiba diserang oleh oknum yang mengaku komunis," kata dia.

Inilah yang membuat Sosialisasi Empat Pilar sangat penting. Karena masih banyak orang yang mau mengaburkan, merusak dan mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain, termasuk komunisme.

Ikut hadir pada acara tersebut, Anggota MPR RI FPKS Syahrul Aidi Maazat, Lc, MA dan Sigit Sosiantomo. Ketua Yayasan Ulil Albab Syaifuddin Fauzi, dan Anggota MUI Kepri: Ust Bakhtiar, MA. Juga Ketua IKADI Kepri, Ust Dr. Zenal Satiawan, dan Ketua IKADI Batam Ust Irwandi Al Busthomy.

(fhs/ega)