Cegah Klaster COVID di Sekolah, Menkes: Kawal PTM dengan Surveilans

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Selasa, 05 Okt 2021 11:12 WIB
Untuk menghindari paparan pandemi Covid-19, SDN Duren Tiga 01 Pagi, Jakarta, menerapkan kepada orang tua murid disaat menjemput anaknya untuk menunggu di luar lingkungan sekolah.
Foto: Rengga Sencaya/detikcom
Jakarta -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan pihaknya terus mengawal pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas melalui deteksi atau surveilans aktif dan disiplin protokol kesehatan. Hal ini dilakukannya untuk mencegah terjadinya klaster COVID-19 di satuan pendidikan.

"Kami percaya bahwa seluruh murid-murid di Indonesia ini harus belajar secepat mungkin agar kita tidak kehilangan kesempatan untuk mereka meningkatkan pengetahuan mereka langsung dengan guru-guru mereka. Untuk itu, (PTM) perlu dikawal dengan metode surveilans dan protokol kesehatan yang baik," ujarnya dikutip dari laman Setkab, Selasa (5/10/2021).

Budi memaparkan pihaknya telah menyusun metode surveilans aktif untuk satuan pendidikan yang melakukan PTM terbatas.

"Sepuluh persen dari sekolah yang tatap muka di satu kabupaten/kota akan kita lakukan active atau random surveilans, dari situ kemudian kita bagi secara proporsi ke kecamatan-kecamatan yang ada di kabupaten/kota tersebut. Kemudian kita ambil 30 sampel untuk murid dan 3 sampel untuk guru," paparnya.

Berdasarkan hasil pengujian, jika positivity rate dari satu sekolah di atas 5 persen, sekolah tersebut akan kembali melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring selama dua minggu.

"Sekolahnya kita minta tutup dulu selama dua minggu sambil kita perbaiki protokol kesehatannya, kemudian kita mulai lagi sekolahnya [setelah dua minggu]," ujar Budi.

Sedangkan untuk sekolah dengan positivity rate di antara 1-5 persen, hanya satu kelas atau rombongan belajar yang terdapat kasus konfirmasi positif yang akan dikarantina, sementara yang lainnya dapat tetap mengikuti PTM terbatas.

Kemudian, jika positivity rate di bawah 1 persen, yang akan dikarantina adalah warga sekolah yang terkonfirmasi positif dan kontak eratnya.

Dia memastikan pihaknya akan terus bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) untuk bisa meningkatkan kualitas surveilans COVID-19 di satuan pendidikan.

"Diharapkan dengan menjalankan disiplin seperti ini kita bisa mengidentifikasi atau menyurvei secara dini kalau ada murid atau pelajar-pelajar kita yang positif dan tidak perlu menunggu sampai itu menjadi besar, sehingga harus menutup seluruh kota," tandasnya.

(akd/ega)