Pakar Keamanan Siber Anggap Penting Adanya Tim Tanggap Insiden Siber

Eqqi Syahputra - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 22:28 WIB
Anggota DPR hingga Ketua Lembaga Riset Keamanan Cyber & Komunikasi CISSRec berdiskusi soal RUU Keamanan Siber. Apa saja yang dibahas?
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau Tim Tanggap Insiden Siber yang tersebar di kementerian/lembaga untuk memperkuat keamanan siber dan memperkuat pertahanan sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) dari serangan siber.

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan dan Komunikasi CISSReC, Pratama Dahlian Persadha menilai meski faktanya masih sering terjadi berbagai kebocoran-kebocoran baik oleh instansi pemerintah maupun swasta, CSIRT menjadi salah satu kunci untuk menanggulangi kejahatan siber di Tanah Air.

Ia menuturkan CSIRT merupakan suatu tim yang siap dan sigap untuk menghadapi berbagai insident yang mungkin terjadi dan dapat merugikan organisasi.

"Untuk itu, hadirnya CSIRT merupakan salah satu cara untuk mempermudah penanganan masalah keamanan yaitu dengan membuat sebuah unit untuk melaporkan kasus keamanan," jelas Pratama dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/10/2021).

Lebih lanjut, ia mengatakan keamanan siber di Indonesia sempat menjadi sorotan. Tidak hanya di sistem milik lembaga pemerintahan, tetapi juga di perusahaan swasta. Kasusnya mulai kebocoran data hingga serangan malware.

"Namun dalam dunia keamanan siber, tidak ada sistem informasi yang benar-benar aman 100%. Doktrinnya adalah keamanan sistem informasi itu proses, bukan hasil. Artinya hari ini aman, belum tentu besok aman dan seterusnya," jelas Pratama.

Sementara itu, dalam peluncuran CSIRT 25 Februari 2021 lalu, Kepala BSSN RI, Hinsa Siburian menjabarkan, tugas pokok CSIRT adalah untuk membangun dan mengonsolidasikan sistem proteksi pada seluruh infrastruktur informasi vital dengan tujuan untuk melindungi sistem pemerintahan berbasis elektronik.

Hinsa menegaskan, BSSN berkomitmen untuk memelihara kesigapan dan ketahanan siber nasional dalam menghadapi ancaman siber.

"CSIRT merupakan organisasi atau tim yang bertanggung jawab untuk menerima, meninjau, dan menanggapi laporan dan aktivitas insiden keamanan siber. CSIRT terdiri atas CSIRT Nasional atau Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional (Pusopkamsinas), CSIRT Sektoral pada pemerintahan, Infrastruktur Informasi Vital Nasional dan Privat, serta CSIRT Organisasi," ujar Hinsa.

Ia menambahkan, CSIRT akan melaksanakan tugas menghadapi serangan yang bersifat teknis supaya pada sistem elektronik yang ada di suatu lembaga tidak terjadi insiden siber. Penguatan keamanan siber penting saat ini, terlebih kini objek vital sudah saling terkoneksi dalam satu sistem elektronik. Dengan kata lain, objek vital satu dengan lainnya saling berkaitan dan ketergantungan, sehingga ketika salah satu mengalami gangguan maka akan mempengaruhi operasional atau fungsi yang lain.

Sebagai informasi, CSIRT merupakan salah satu major project yang dibentuk oleh Badan Siber dan Sandi Negara Republik Indonesia (BSSN RI) guna memperkuat keamanan siber Indonesia. Pembentukan CSIRT tertuang dalam Perpres No. 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024. Pada tahun 2024 mendatang, BSSN menargetkan untuk membentuk 121 CSIRT yang tersebar di berbagai Kementerian/Lembaga dan daerah se-Indonesia.

(prf/ega)