Air Laut Teluk Jakarta Mengandung Paracetamol, DLH DKI Turun Tangan

Tiara Aliya - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 11:42 WIB
Gedung Balai Kota DKI Jakarta
Gedung Balai Kota DKI Jakarta (Foto: dok. detikcom)
Jakarta -

Sebuah studi mengungkapkan air laut di sejumlah titik di Teluk Jakarta mengandung paracetamol. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta akan menindaklanjuti temuan ini.

"Kita akan perdalam hasil riset tersebut dan mencari sumbernya untuk menghentikan jika benar ada pencemaran parameter tersebut," kata pejabat Humas DLH DKI Jakarta Yogi Ikhwan saat dihubungi, Jumat (1/9/2021).

Yogi menyampaikan kandungan obat-obatan di air laut termasuk ke dalam parameter khusus yang jarang diteliti. Kendati demikian, temuan ini dapat dikategorikan sebagai pencemaran air laut. Oleh sebab itu, pihaknya membutuhkan pendalaman untuk menguji kualitas air laut di Teluk Jakarta.

"Iya (pencemaran), karena bukan pada tempatnya. Paracetamol kok ada di laut, apa pun yang tidak pada tempatnya, apa pun yang melebihi kadarnya di suatu tempat tergolong pencemaran," jelasnya.

Yogi menuturkan, selama ini DLH rutin melakukan pemantauan air laut selama dua kali dalam setahun. Kendati demikian, parasetamol tak menjadi komponen yang diuji.

"Kalau paracetamol bukan parameter yang standar ya. Cuma memang si perisetnya meneliti yang lebih spesifik, mungkin karena punya pengalaman tertentu makanya kepikiran ke arah sana. Nanti kita cek juga sih, nanti bisa jadi parameter yang kita ukur juga," ujarnya.

Sebelumnya, studi mengungkap sejumlah air laut di Indonesia terkontaminasi obat-obatan. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Science Direct, Agustus 2021, menganalisis sampel yang dikumpulkan di 4 lokasi Teluk Jakarta, dan satu lainnya di pantai utara Jawa Tengah.

Hasil penelitian menemukan konsentrasi tinggi paracetamol di Angke yaitu 610 nanogram per liter, dan Ancol 420 ng/L, keduanya di Teluk Jakarta. Ini adalah studi pertama yang menganalisis gambaran kualitas air laut berkaitan dengan kontaminasi paracetamol di perairan pesisir sekitar Indonesia.

"Konsentrasi tinggi yang terdeteksi, dibandingkan dengan tingkat lain yang dilaporkan dalam literatur ilmiah, meningkatkan kekhawatiran tentang risiko lingkungan yang terkait dengan paparan jangka panjang dan, terutama, dampak pada peternakan kerang di dekatnya," jelas para peneliti dalam studi, dikutip detikcom Jumat (1/10/2021).

Meski begitu, para ilmuwan menyebut studi gambaran awal ini masih membutuhkan analisis lebih lanjut.

Lihat juga video Kawasan Muara Baru Jakut Diprediksi Tenggelam pada 2050':

[Gambas:Video 20detik]



(knv/knv)