Letjen Dudung Cerita Latar Belakang Penurunan Baliho Habib Rizieq

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 19:01 WIB
Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman
Panglima Kostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman (Foto: Kostrad)
Jakarta -

Panglima Kostrad Letjen TNI Dudung Abdurachman menceritakan saat dirinya mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan paham khilafah atau radikal saat menjabat Pangdam Jaya. Menurutnya, terdapat beberapa pihak tertentu yang memanfaatkan kepentingan politik atau pribadi menggunakan dalil agama.

"Kegiatan kegiatan yang di Indonesia saya lihat sudah mulai dengan adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kepentingan politiknya, kepentingan pribadinya menggunakan dalil-dalil agama. Apa pun demonstrasinya, apa pun kehendaknya, bahkan menjelek-jelekkan pemerintah ini dengan dalil agama," ujar Dudung, Kamis (30/9/2021).

Dudung mengatakan, melihat hal ini, dirinya merasa terpanggil untuk mengatasi fenomena yang terjadi. Sebab, menurutnya, bila terjadi doktrin ke dalam masyarakat, akan terjadi pertaruhan yang luar biasa.

"Melihat fenomena ini saya merasa terpanggil, saya sebagai TNI, hal-hal demikian kita tidak boleh diam, karena cara-cara seperti ini yang sangat berbahaya. Karena kalau sudah doktrin masuk ke dalam masyarakat dengan dalil agama, maka ini akan menjadi pertaruhan yang sangat luar biasa," kata Dudung.

Dudung mencontohkan adanya kelompok yang membuat kegiatan dengan membawa dalil dalil agama serta memasang baliho yang berisi ajakan untuk berjihad. Menanggapi hal ini, Dudung mengatakan pihaknya beserta jajaran polisi dan Satpol PP memberikan tindakan penertiban.

"Yang terjadi beberapa bulan yang lalu ada kelompok-kelompok tertentu yang merasa paling benar, merasa yang paling bertakwa, merasa paling beribadah, seakan akan merasa yang paling sempurna. Nah ini yang tidak boleh, seyogianya kita harus menghargai bagaimana kebijakan pemerintah bagaimana kita berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945," tuturnya.

"Ini banyak sekali kegiatan yang mereka lakukan dengan sesukanya sendiri, salah satunya dengan memasang baliho dengan mengajak berjihad, mengajak revolusi akhlak, dan sebagainya. Ini kan kalau dibiarkan mereka merasa paling benar sendiri tidak mengikuti aturan yang berlaku di pemerintah. Oleh karenanya, TNI Polri dan Satpol PP saat itu kita bertindak menertibkan sesuai dengan permintaan pemerintah daerah, ini yang saya lakukan, kalau nggak kita bertindak ini akan berbahaya bagi kita semua," sambungnya.

Nama Dudung sendiri menjadi sorotan saat dirinya memerintahkan anggota TNI AD mencopoti baliho-baliho Habib Rizieq Shihab di Petamburan, Jakarta Pusat, pada 2020. Pada saat itu, salah satu baliho dengan gambar Rizieq Shihab mengajak adanya revolusi akhlak.

Dudung juga menyinggung masih adanya orang yang tidak puas dan memprovokasi masyarakat. Untuk itu, dia meminta masyarakat memegang teguh Pancasila dan tidak mudah terprovokasi.

"Pancasila pegang teguh, jangan mudah terprovokasi, jangan mudah terpengaruh, saya lihat bangsa kita sudah sangat bagus, dengan program pemerintah yang luar biasa, hanya segelintir orang yang karena ketidakpuasan, yang dulunya tidak ada jabatan kembali, kemudian berbicara di media sosial memprovokasi masyarakat, janganlah seperti itu. dulu pernah menjabat ya sudah, sekarang mari kita serahkan kepada generasi penerus kasihan bangsa ini kalau hanya sekadar kita salah berbicara salah berucap yang dampaknya kepada masyarakat," tuturnya.

Diketahui sebelumnya, saat Dudung menjabat Pangdam Jaya, dirinya menginstruksikan penurunan baliho bergambar wajah Habib Rizieq. Pada saat itu, video pencopotan baliho sempat viral.

Dudung menegaskan ada aturan yang harus dipatuhi terkait pemasangan baliho. Ia meminta tidak ada pihak yang seenaknya sendiri dan merasa paling benar.

Dia meminta tidak ada pihak yang seenaknya dan mencoba-coba dengan TNI. Dudung bahkan meminta FPI dibubarkan dan tidak bersikap seenaknya.

Tonton Video: Mahfud Sebut HRS Sempat Dirangkul Pemerintah Tapi Menolak!

[Gambas:Video 20detik]



(dwia/fjp)